Politik
Solusi Krisis Pembelajaran Tanpa Paksaan, Mendikbudristek Nadiem Luncurkan Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam peluncuran Merdeka Belajar episode 15 di Jakarta, Jumat (11/2/2022).
FAKTUAL-INDOPNESIA: Sudah lama menanti untuk mengatasis krisi pembelajaran di Tanah Air, akhirnya Menteri Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim meluncurkan program Kurikulum Merdeka dan platform Merdeka Mengajar yang merupakan bagian dari Merdeka Belajar episode 15.
Meskipun demikian, Nadiem dalam acara peluncuran di Jakarta, Jumat (11/2/2022), menyatakan, sekolah tidak dipaksakan untuk menerapkan kurikulum tersebut. Sekolah bebas menentukan kurikulum yang akan digunakannya baik itu Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat dan Kurikulum Merdeka.
“Bagi sekolah yang ingin melakukan perubahan, tapi belum siap melakukan perubahan besar dan ingin memilih materi yang sederhana maka bisa menggunakan Kurikulum Darurat. Sementara, sekolah yang sudah siap melakukan transformasi bisa menerapkan Kurikulum Merdeka,” kata Nadiem.
“Untuk itu, pemerintah akan menyiapkan angket untuk membantu satuan pendidikan menilai tahapan kesiapan dirinya menggunakan Kurikulum Merdeka,” ujar Menteri Nadiem.
Sementara melalui Platform Merdeka Belajar mendorong para guru untuk terus berkarya dan menyediakan wadah praktik baik. Melalui platform tersebut dapat menciptakan ekosistem kolaboratif untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran dan iklim kerja yang positif.
“Peluncuran Merdeka Belajar kali ini sudah lama saya tunggu, sudah lama sekali sudah beberapa tahun kita tunggu-tunggu, karena apa yang diluncurkan pada hari ini berkaitan dengan akselerasi mutu pembelajaran dan peningkatan kualitas guru,” ujar Nadiem.
Dia menjelaskan krisis pembelajaran di Tanah Air telah berlangsung dan belum membaik dari tahun ke tahun. Bahkan dalam 15 tahun terakhir belum ada perbaikan signifikan. Hasil PISA menunjukkan sebanyak 70 persen siswa berusia 15 tahun berada di bawah kompetensi minimum untuk membaca dan matematika.
“Suatu krisis membutuhkan suatu solusi yang luar biasa, untuk bisa mengejar ketertinggalan kita,” terang dia.
Krisis pembelajaran tersebut diperparah oleh pandemi COVID-19 dan dengan hilangnya pembelajaran serta meningkatnya kesenjangan pembelajaran. Dari hasil Kemendikbudristek, dari sisi literasi siswa kehilangan enam bulan pembelajaran dan untuk numerasi kehilangan lima bulan pembelajaran. Diperkirakan banyak lagi sekolah yang mengalami learning loss di atas nilai rata-rata tersebut.
Nadiem menjelaskan pada saat pandemi, Kemendikbudristek telah meluncurkan Kurikulum Darurat yang mana materi pembelajarannya lebih disederhanakan.
“Hasilnya learning loss di sekolah yang menggunakan kurikulum jauh lebih sedikit dibandingkan sekolah yang menggunakan kurikulum 2013,” katanya.
Oleh karena itu, Kemendikbudristek melakukan perubahan kurikulum di mana struktur kurikulum yang lebih fleksibel, fokus pada materi yang esensial, memberikan keleluasaan, dan aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi guru untuk dapat terus mengembangkan praktik mengajar secara mandiri dan berbagi praktik baik.
Untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan Merdeka Belajar Episode Kelima belas: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar.
Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim menekankan pentingnya penyederhanaan kurikulum dalam bentuk kurikulum dalam kondisi khusus (kurikulum darurat). “Penyederhanaan kurikulum darurat ini efektif memitigasi ketertinggalan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19,” katanya.
Efektivitas kurikulum dalam kondisi khusus, kata Mendikbudristek semakin menguatkan pentingnya perubahan rancangan dan strategi implementasi kurikulum secara lebih komprehensif. Arah perubahan kurikulum yang termuat dalam Merdeka Belajar Episode 15 ini adalah struktur kurikulum yang lebih fleksibel, fokus pada materi yang esensial, memberikan keleluasan bagi guru menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik, serta aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi guru untuk terus mengembangkan praktik mengajar secara mandiri dan berbagi praktik baik. ***














