Politik
Siyaqul Kalam, Kiai NU Nyatakan Ucapan Kasad Dudung Abdurachman Bukan Penistaan Agama

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman menegaskan bahwa Tuhan bisa memahami doa dalam bahasa apapun, termasuk bahasa Indonesia.
FAKTUAL-INDONESIA: Pernyataan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman soal “Tuhan bukan orang Arab” bukan termasuk penistaan agama.
Demikian dikemukakan Wakil Katib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor K.H. Khotimi Bahri.
Pernyataan tersebut perlu dipahami maksud dan konteks tata bahasanya, kata Khotimi Bahri dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
“Yang disampaikan Kasad adalah masalah berdoa setelah shalat. Jika sekelompok pelapor memang benar ulama, tentu tidak asing dengan objek pembicaraan bahwa dalam Bahasa Arab dan dalam ilmu Ushul Fiqih ada istilah siyaqul kalam,” katanya seperti dilansir antaranews.com.
Ia menjelaskan istilah siyaqul kalam merupakan bahasa yang digunakan saat seseorang sedang berdoa. Ketentuan dalam Islam, mengatur berdoa merupakan ibadah yang dapat menggunakan bahasa apapun, tambahnya.
“Konteksnya adalah berdoa kepada Allah tidak harus menggunakan Bahasa Arab. Dalam Ilmu Nahwu (Tata Bahasa Arab), pernyataan seperti itu adalah ta’kid atau penegasan. Jika pelapor memang ulama, mestinya paham Ilmu Nahwu dan Ilmu Ushul Fiqih dalam memahami pernyataan Kasad,” jelasnya.
Khotimi juga tidak sependapat dengan argumen para pelapor bahwa ucapan Kasad itu menyamakan Tuhan dengan manusia.
Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor itu juga tidak menafikan adanya sekte dalam Islam, yang berusaha mengumpamakan Tuhan sebagai manusia, yaitu mujassimah dan musyabbihah. Namun, Khotimi yakin Dudung bukan bagian dari kelompok itu.
“Faktanya, Jenderal Dudung adalah muslim ahlussunnah wal jamaah, sebagaimana umat Islam pada umumnya di dunia,” tukasnya.
Sebelumnya, dalam tayangan di media sosial Dudung menyampaikan pernyataan yang memuat kalimat “Tuhan kita bukan orang Arab”.
“Saya kalau berdoa pakai Bahasa Indonesia. Tuhan kita bukan orang Arab. Saya (berdoa) pakai bahasa Indonesia, ya Tuhan, ya Allah Swt, saya ingin membantu orang, saya ingin menolong orang; itu saja doanya. Itu saja,” kata Dudung dalam tayangan yang diunggah di kanal Youtube Deddy Corbuzier.
Pernyataan itu dianggap sebagai penistaan agama Islam oleh kelompok yang mengatasnamakan Koalisi Ulama, Habaib dan Pengacara Anti Penodaan Agama (KUHAP APA). KUHAP APA melaporkan Dudung ke Pusat Polisi Militer TNI AD (Puspomad).
Penyidik Puspomad di Jakarta, Rabu (9/2) telah memanggil KUHAP APA dan memberikan sekitar 50 pertanyaan kepada para pelapor.
Tuhan Bukan Orang
Jenderal Dudung sudah pernah angkat bicara soal pernyataannya Tuhan bukan orang Arab. Menurut Kepala Staf Angkatan Darah atau KSAD itu, banyak yang salah sangka dengan omongannya.
Dilansir dari Hops.id jaringan DepokToday.com, salah satu orang yang disebut-sebut Jenderal Dudung adalah pendakwah Emha Ainun Najib atau yang populer disapa Cak Nun.
Menanggapi hal itu, Jenderal Dudung menegaskan, bahwa yang dimaksud dia adalah Tuhan memang bukan orang dan bukan orang Arab. Menurutnya, yang dibahas adalah soal doa.
Dudung berpendapat, Tuhan akan mengetahui doanya ketika disampaikan dengan bahasa apapun, termasuk jika menggunakan bahasa Indonesia.
“Tuhan itu bukan orang, apalagi orang Arab. Persis pernyataan saya seperti Pak Ainun Najib. Saya pakai bahasa apa saja saya berdoa, bisa Allah, Tuhan itu maha tahu. Ngapain pakai bahasa Arab?” katanya dikutip pada Senin, 7 Februari 2022.
Lebih lanjut Dudung mengaku, bahwa dirinya sanggup menyampaikan doa dengan bahasa Arab. Namun, ia kembali menegaskan bahwa Tuhan bisa memahami doa dalam bahasa apapun, termasuk bahasa Indonesia
“Bahasa Arab saya bisa. Kalau hal-hal krusial, misalnya saya berdoa, saya bisa itu doa (memohon) selamat,” kata Jenderal Dudung.
“Tetapi kalau, ‘Ya Allah, saya ingin membantu orang ya Allah, saya ingin menolong’. Cita cita saya hanya satu dari dulu, saya ingin menolong orang, saya ingin bantu orang, itu doa saya. Tapi kalau (doa itu dalam) bahasa Arab kan saya enggak bisa. Apa Tuhan, Allah, itu mengerti bahasa saya? Bahasa Indonesia? Paham… di manapun dunia ini, (semua) bahasa Tuhan tahu,” sambungnya. ***














