Connect with us

Politik

Pernyataan TNI Gerombolan Melukai Hati Prajurit, Effendi Simbolon Dibombardir Kecaman

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon dikecam gara-gara menyebut TNI seperti gerombolan dan  ada pembangkangan

Anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon dikecam gara-gara menyebut TNI seperti gerombolan dan ada pembangkangan

FAKTUAL-INDONESIA: Effendi Simbolon, anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDIP, dibombardir kecaman karena pernyataannya menyebut TNI seperti gerombolan dan pembangkangan di tubuh TNI.

Kecaman yang memborbardir Effendi Simbolon bukan saja datang dari pengamat militer dan warga namun juga dari prajurit TNI.

Pernyataan Effendi Simbolon itu dinilai tidak etis, melukai hati prajurit dan rakyat serta mengganggu soliditas TNI.

Tak pelak lagi dalam mombardir kecaman itu ada yang meminta agar Effedi Simbolon meminta maaf secara terbuka.

Praktisi Intelijen Fauka Noor Farid menilai pernyataan yang dilontarkan Effendi Simbolon tentang TNI merupakan sesuatu yang tidak etis dan melukai hati para prajurit

Advertisement

“Pernyataan itu tidak etis dan benar-benar melukai hati prajurit dan warga,” kata dia dalam keterangan diterima di Jakarta, Selasa.

Menurutnya pernyataan itu tidak pantas dilontarkan oleh anggota Komisi I DPR RI yang membidangi ranah pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen.

Bagi orang dengan kapasitas yang membidangi pertahanan, Fauka menyebutkan Simbolon harusnya paham bahwa TNI ‘dilahirkan’ rakyat, sehingga orang tua dari seluruh prajurit TNI adalah rakyat.

“Kalau ada yang menghina dan menyakiti TNI sama saja menyakiti rakyat. Hal itu juga yang diajarkan senior-senior saya dan guru saya Habib Luthfi bin Ali Bin Yahya, tentang nilai kebangsaan dan cinta NKRI,” kata dia.

Fauka Noor Farid menilai ada maksud lain dari pernyataan anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon yang menyebut TNI seperti gerombolan.

Advertisement

“Saya pikir ada maksud lain, pernyataannya seperti mewakili kelompok tertentu yang ingin menjabat di TNI. Jadi bukan persoalan etis saja,” ucap dia.

Fauka menyoroti poin pembangkangan di tubuh TNI yang disampaikan Simbolon. Menurut dia selama ini TNI tetap solid dan mampu menyelesaikan seluruh tugas diberikan pemerintah.

“Sebenarnya pembangkangan dimaksud beliau itu abu-abu, tidak jelas. Soal pelanggaran prajurit itu terus diproses secara hukum militer. Saya kira TNI tegas dengan pelanggaran,” tuturnya.

Reaksi Spontan

Selain pantauan dari media antaranews.com itu maka CNN Indonesia menyajikan laporan bertajuk “Ramai-ramai Prajurit TNI AD Kecam Effendi Simbolon PDIP”.

Advertisement

Dalam artikel ini disebutkan, pernyataan anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP Effendi Simbolon yang menyinggung anggota TNI seperti gerombolan menuai kecaman dari prajurit, terutama Angkatan Darat (AD).

Dalam rapat di Komisi I, Effendi awalnya menyoroti ketidakhadiran Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman.

Effendi mengaku ingin mendapat penjelasan dari Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman. Menurutnya, ada ketidakharmonisan antara dua jenderal bintang empat itu.

“Kami banyak sekali ini temuan-temuan ini, insubordinari, disharmoni, ketidakpatuhan, ini TNI kayak gerombolan ini, lebih-lebih ormas jadinya, tidak ada kepatuhan,” kata Effendi di ruang rapat, Senin (5/9).

Pernyataan itu berbuntut panjang. Di media sosial, beredar video prajurit TNI yang mengecam Effendi. Salah satunya video seorang yang mengaku prajurit TNI Angkatan Darat (AD) bernama Kopral Dua Arif. Ia mendesak Effendi meminta maaf secara terbuka ke publik.

Advertisement

“Hei, kau Effendi Simbolon, anggota dewan Komisi I DPR RI. Saya, kopral. Saya tidak terima TNI dibilang seperti gerombolan. Saya minta kau segera minta maaf secara terbuka kepada TNI,” kata Arif dalam video yang beredar.

Arif mengancam akan mencari Effendi sampai ke ujung dunia jika tidak segera meminta maaf secara terbuka ke publik atas pernyataan yang mengibaratkan TNI seperti gerombolan tersebut.

“Kalau kamu tidak minta maaf, sampai di manapun kamu akan saya cari sampai di ujung dunia. Ini Kopral Dua Arif,” ujarnya.

Tak hanya prajurit berpangkat Kopral, Komandan Kodim 0733 Kota Semarang Letkol Inf Honi Havana ikut bersuara. Ia berbalik menyebut Effendi sebagai politikus yang mengganggu soliditas TNI.

“Politisi yang mengganggu soliditas TNI. Saudara ES sudah menyakiti seluruh prajurit TNI dengan sikapnya yang arogan terlalu masuk dalam urusan teknis dan internal TNI,” ujar Honi kepada CNN Indonesia.com, Selasa (13/9).

Advertisement

Ia mewanti-wanti jangan sampai pernyataan Effendi menimbulkan konflik seperti peristiwa yang terjadi pada 15 Oktober 1952.

“Ini kalau dibiarkan bisa jadi konflik serius, jangan sampai kayak peristiwa 15 Oktober 1952 dimana militer yakni TNI berkonflik dengan DPRS,” ujar Honi.

Sementara itu, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa menyayangkan pernyataan Effendi.

Saleh menyatakan tak ada satupun negara di dunia yang militernya bersifat gerombolan, termasuk TNI. Ia menyatakan selain sebagai alat pertahanan negara, TNI juga merupakan alat pemersatu bangsa.

“TNI adalah organisasi yang menjiwai dan dijiwai kerakyatan, tidak ada satupun negara di dunia yang TNI atau militernya itu bersifat gerombolan, itu tidak ada,” kata Saleh.

Advertisement

“Yang ada TNI adalah sebagai alat dan pemersatu Bangsa. Itu perlu diingat, TNI sebagai alat pertahanan negara dan alat pemersatu bangsa, itulah kelebihan TNI khususnya TNI AD,” ujarnya menambahkan.

Markas Besar TNI AD sudah buka suara soal beredarnya sejumlah video prajurit yang mengecam Effendi. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Kolonel Arh Hamim Tohari mengatakan tak ada instruksi dari Pimpinan TNI AD untuk melakukan itu.

“Tetapi saya sampaikan bahwa organisasi atau pimpinan TNI AD tidak pernah mengeluarkan instruksi atau perintah untuk melakukan hal tersebut,” kata Hamim saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Hamim menduga munculnya video-video berisi kecaman itu karena reaksi spontan prajurit atas pernyataan Effendi.

“Mungkin saja itu terjadi sebagai reaksi spontan, bukan cuma dari prajurit, bahkan dari masyarakat juga, atas pernyataan seorang tokoh di ruang publik yang dianggap memancing kegaduhan,” kata dia. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement