Olahraga
Tenis – Semarak dengan Turnamen Pemassalannya, Di Mana Induk Organisasi?
Oleh: August Ferry Raturandang
FAKTUAL-INDONESIA: Sebagai insan tenis wajib bangga melihat betapa semangatnya masyarakat tenis Indonesia di saat pandemi masih bisa berkarya. Diawali dengan pelatihan untuk menjadikan atlet tenis tidak usah diragukan. Justru imbas dari pandemi Covid-19 merangsang minat bermain tenis kecendrungannya meningkat.
Begitu pula turnamen tenis campur sari yang masuk kategori pemassalan tenis berkembang, bahkan dicampur adukan antara istilah awam yaitu prestasi dan non prestasi yang merupakan kategori veteran atau yang istilah internasionalnya lebih cenderung ke istilah Seniors bukan Veteran yang konotasinya lebih cenderung ke sisa sisa laskar pajang.
Kalau dunia Internasional wadahnya the Internasional Tennis Federation.( ITF) .Tapi di Tanah Air kita ada 2 wadah yang mengclaim pengaturan turnamen kelompok Seniors atau veteran, Pelti ( Persatuan Tenis seluruh Indonesia ) dan Baveti ( Barisan Atlit Veteran Tenis Indonesia ).
Terlepas dari siapa yang pegang peranan, diakui atau tidak itu urusan para pihak. Kalau Pelti diterima sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia) tetapi Baveti versi baru diakui sebagai anggota KORMI ( Komite Olahraga Masyarakat Indonesia ) dan tidak diterima sebagai anggota oleh KONI karena sudah ada Pelti.
Awalnya tertulis di AD ART Pelti nama Badan Veteran Tenis Indonesia ( Baveti) tetapi sejak kepengurusan 2012-2017 dirubah sebagai bagian dari Badan Badan tanpa menyebutkan nama Baveti seperti AD ART Pelti sebelumnya. Sehingga membuka peluang pisahnya Baveti dari Pelti.
Akhirnya Baveti berpisah dari Pelti hanya gara-gara sewa ruangan. Sebagai bagian dari Pelti wajar kalau membutuhkan ruangan tersendiri yang saat itu bisa didapatkan di sekretariat PP Pelti. Oleh karena saat itu Pelti alami kesulitan dana , sehingga permintaan Baveti diperkenankan karena dianggap tidak ada permintaan yang gratis alias sewa. Ini yang membuat ketersinggungan Baveti sehingga memisahkan diri dari Pelti.
Bukan hanya pisah kantor tapi akibat ketersinggungan Baveti sehingga merubah kepanjangan nama dari Badan Veteran Tenis Indonesia ke Barisan Atlet Veteran Tenis Indonesia dengan mempertahankan nama singkatan Baveti yang sudah dikenal sejak sekitar tahun 1970an. Diperkuat buatlah AD ART Baveti yang sebelumnya tidak ada karena masih gunakan AD ART Pelti.
Saat itu distruktur pengurus Pelti ada Badan Kursi Roda dan Baveti.
Disinilah letak masalah pisahnya Baveti yang kemudian merubah nama menjadi Barisan Atlet Veteran Tenis Indonesia.
Kemudian ada upaya mempersatukan lagi oleh PP Pelti 2017-2022 tapi tidak berhasil sehingga dibentuklah bidang Veteran dengan penunjukkan ketua bidangnya.
Dalam pelaksanaan turnamen khusus veteran ini jalan sendiri sendiri karena kurang aktifnya Pelti khusus Bidang Veteran. Bahkan sejak berpisah Baveti versi baru berhasil selenggarakan Kejuaraan Internasional Seniors yang mendapat pengakuan dari the International Tennis Federation ( ITF ). Semua bisa terjadi karena ITF membuka diri para pihak untuk bisa selenggarakan International Events, asalkan sepengetahuan Pelti.
Tetapi Pelti didaerah jalan sendiri sendiri dan lebih aktif adakan turnamen veterannya dengan gaya sendiri. Ini karena dilakukan tanpa pengarahan terhadap Pelti baik tingkat provinsi dan kotamadya/kabupaten bahkan kemungkinan besar tidak dibentuk komite veteran di tingkat provinsi dan kotamadya/kabupaten. Hal yang sama terjadi dilakukan Baveti terutama didaerah
Agar memudahkan pelaksana turnamen oleh Pelti ada ketentuan Turnamen Diakui Pelti maupun Peringkat Nasional Pelti demikian pula Baveti keluar Turnamen Diakui Baveti dan merintis buat Peringkat Nasionalnya . Ini selain untuk memudahkan pelaksana turnamen dan Refereenya
Imbas dari pandemi Covid-19 , bermunculan muka-muka baru sebagai Event Organizer untuk memenuhi kebutuhan atlet tersebut.
Sewaktu diadakan TDP RemajaTenis Jakarta ke 101, dihubungi oleh salah satu pelatih yang lagi naik daun. Menyatakan kekecewaan terhadap pelaksanaan turnamen yang belum lama selenggarakan turnamen campur sari tersebut. Bahkan diragukan status Refereenya. Kecewa terhadap drawingnya terutama dalam pemilihan unggulan karena tak ada dasarnya justru kelihatan kepentingan pihak pihak tertenu yang menguntungkan penyelenggara turnamen.
Teringat ke tahun 1980 an, pelaksanaan turnamen dengan menunjuk Referee tanpa kualifikasinya yang benar, sedangkan sekarang Pelti sudah ada tenaga Referee yang diakuinya.
Teringat sekitar tahun 2002an pernah ditawarin secara pribadi oleh Referee ITF Nao Kawatei untuk mengikuti ITF Level-1 Referee Course di Bangkok. Tetapi tawaran itu di tolak karena merasa sudah cukup sebagai pelaksana turnamen saja, padahal Indonesia belum ada Referee bersertifikat ITF saat itu.
Pelti sudah maju dengan memiliki ketentuan turnamen diakui Pelti yang mulai hadir sejak tahun 1988. Padahal Pelti punya peringkat PNP sedangkan Baveti juga punya Ketentuan Turnamen Veteran juga peringkat khusus veteran tapi tidak digunakan atau tidak diakui sendiri. Ini aneh tapi kenyataan begitu.
Peringkat sebagai acuan kerja setiap Referee untuk lakukan Drawing.
Dari semua kesimpang siuran ini akhirnya turnamen menjadi turnamen campur sari dan yang paling aktif di Jakarta.
Bisa dirasakan setiap minggu selalu ada turnamen. Bagaimana di daerah, ada tapi khususnya di luar Jawa tahun 2021 masih terlihat aktivitasnya.
Disayangkan kalau turnamen campur sari diikuti juga oleh Pelti maupun Baveti khusus didaerah
Kekecewaan masyarakat tenis selalu ada tapi anehnya turnamen campur sari itu jalan terus. Karena petenis selain perlu turnamen juga hadiahnya yang diberikan menggiurkan sekali karena bentuk turnamen baik ganda perorangan maupun beregu. Sehingga ini turnamen masuk dalam kategoti pemassalan bukan pembinaan.
Kesan Referee lakukan drawing untuk kepentingan sponsor belaka seperti yang dikemukakan oleh salah satu pelatih yang lagi naik daun itu.
Yang jadi pertanyaan apakah ini kejadian dibiarkan berjalan sendiri dimana unsur sportivitas diabaikan.
Disayangkan jikalau kedua wadah veteran tingkat daerah ikut ikutan selenggarakan turnamen campur sari sedangkan sudah memiliki ketentuan turnamen sendiri kecuali jika belum memiliki yang bisa ambil ketentuan ITF Seniors.
Di mana peran induk organisasi seperti Pelti dan Baveti.? Hallo ! ***
- August Ferry Raturandang – mantan pengurus Pelti, aktivis dan penggiat turnamen tenis.














