Olahraga
PSG Ukir Sejarah Juara Liga Champions: Momen Emosional Enrique untuk Sang Putri dan Kerelaan Inzaghi

Luis Enrique dengan memakai kaos yang memberi penghormatan kepada putrinya, Xana, saat penghormatan pemenang Paris Saint-Germain (PSG) sebagai juara Liga Champions 2025, dan kenangan 2015 serta pelatih Inter Milan Simone Inzaghi melintas di samping trofi Liga Champions
FAKTUAL INDONESIA: Begitu peluit akhir berbunyi yang memastikan Paris Saint-Germain mencetak sejarah untuk pertama kalinya juara Liga Champions setelah menghancurkan Inter Milan 5-0 di final, Sabtu (31/5/2025) atau Minggu WIB, di Munich, Jerman, ada momen emosional dan kerelaan yang terekam.
Adegan emosional dari pelatih sang juara, Luis Enrique dan kerelaan dari pelatih Inter, Simone Inzaghi.
Enrique memberikan penghormatan yang menyentuh untuk mendiang putrinya, Xana yang meninggal pada bulan Agustus 2019 saat berusia sembilan tahun. Xana didiagnosis menderita osteosarkoma, suatu bentuk kanker tulang langka, hanya beberapa bulan sebelumnya.
Manajer asal Spanyol itu sebelumnya pernah membawa Barcelona meraih kemenangan di Liga Champions pada tahun 2015 – dan momen dari malam itu terekam jelas pada hari Sabtu di Munich. Saat itu, Xana berhasil masuk ke lapangan dan menancapkan bendera Barca di lapangan dalam momen yang ikonik.
Setelah kemenangan telak PSG dipastikan, demi rekor kemenangan di final Liga Champions, Enrique tak butuh waktu lama untuk berganti ke kaus baru, yang memperlihatkan momen kemenangan Xana. Beberapa menit kemudian, para pendukung PSG membentangkan tifo raksasa yang memperlihatkan foto yang sama persis.
Baca Juga : Ligue 1 2022/23 – PSG Kalah Telak dari Rennes, Desakan Pemecatan Galtier Kian Deras
Seperti dilansir The Mirror, mirror.co.uk, Enrique tampak penuh emosi saat berdiri di hadapan pendukung PSG, setelah mencetak treble yang kedua kalinya sepanjang kariernya.
“Saya tidak perlu memenangkan Liga Champions untuk memikirkan putri saya,” katanya setelah pertandingan. “Saya selalu memikirkannya. Saya merasakan kehadirannya. Ia selalu bersama saya dan keluarga saya. Ini tentang mengambil sisi positif dari situasi negatif. Itulah mentalitas saya. Saya senang melihat spanduk itu, tetapi saya tidak membutuhkan trofi untuk memikirkan putri saya, ia selalu ada di sini.”
Mengenai mural yang dipersembahkan untuknya oleh para penggemar, ia berkata: “Itu sangat mengharukan. Sungguh indah membayangkan para penggemar memikirkan saya dan keluarga saya.”
Pria berusia 55 tahun itu sebelumnya berbicara dengan penuh perasaan tentang bagaimana Xana terus membimbingnya dan pekerjaannya, hampir enam tahun setelah dia meninggal. “Saya punya kenangan yang luar biasa karena putri saya suka berpesta, dan saya yakin dia masih mengadakannya di mana pun dia berada,” kata Enrique sebelum pertandingan.
Dia mengemukakan, dirinya teringat foto luar biasa yang dimiliki bersama Xana di final Liga Champions di Berlin, setelah memenangkan Liga Champions, menancapkan bendera FC Barcelona di lapangan.
“Saya berharap dapat melakukan hal yang sama dengan PSG . Putri saya tidak akan hadir, dia tidak akan hadir secara fisik, tetapi dia akan hadir secara spiritual, dan itu sangat penting bagi saya. Saya termotivasi untuk terus melangkah maju dengan apa yang diberikan kehidupan kepada saya, membagikannya dengan keluarga saya.”
Dalam film dokumenter tahun 2024 ‘Luis Enrique: You Have No F***ing Idea’, ia menguraikan cara ia merenungkan putrinya dan kematiannya yang terlalu dini.
“Putri saya datang untuk tinggal bersama kami selama sembilan tahun yang luar biasa,” katanya. “Kami punya ribuan kenangan tentangnya. Anda mungkin bertanya apakah saya menganggap diri saya beruntung atau tidak beruntung. Saya menganggap diri saya beruntung. Sangat beruntung.
Baca Juga : Ligue 1 2022/23 – Messi dan Mbappe Mencetak Gol untuk Selamatkan PSG Petik Kemenangan atas Lille
“Ibu saya tidak bisa menyimpan foto Xana sampai saya tiba di rumah dan bertanya kepadanya, ‘Mengapa tidak ada foto Xana, Bu?’ ‘Saya tidak bisa, saya tidak bisa.’ ‘Bu, Ibu harus memajang [foto] Xana. Xana masih hidup.’
“Dia tidak ada dalam arti fisik, tapi dalam arti spiritual. Karena setiap hari, kami membicarakannya, kami tertawa, dan mengingatnya karena saya rasa Xana masih melihat kami.”
Mengenai pertandingan itu sendiri, bos PSG berkata: “Saya tidak tahu apakah kami bisa menyebutnya sebuah mahakarya, tetapi kami mengawalinya dengan cemerlang. Tim saya luar biasa malam ini. Kami tidak memberi Inter ruang untuk bernapas.
“Satu-satunya trofi yang hilang dari lemari kami adalah Liga Champions. Sekarang kami memilikinya, tetapi kami ingin terus menaklukkan dunia sepak bola.”
Inter Semakin Kuat
Sementara itu Pelatih Inter Milan Simone Inzaghi legawa tim asuhannya gagal menjuarai Liga Champions. Dikutip dari laman resmi UEFA di Jakart, Minggu, Inzaghi mengatakan jika PSG layak menang dan Inter harus belajar dari kekalahan menyakitkan itu.
“Paris pantas memenangkan pertandingan ini dan trofi. Kami kecewa, tetapi jalan menuju titik ini sangat bagus. Sebagai pelatih, saya bangga dengan para pemain saya. Pertandingan itu, tentu saja, tidak cukup bagus bagi kami,” kata dia.
Pelatih berkebangsaan Italia itu menambahkan jika dirinya bangga dengan pencapaian anak-anak asuhnya yang berhasil melangkah jauh di kompetisi Eropa pada musim 2024-2025.
Inzaghi berharap kekalahan ini dapat membuat Inter Milan semakin kuat dan tampil lebih baik lagi di masa mendatang.
Baca Juga : Champions League 2022/23 – Gol Coman Antar Munchen Permalukan PSG di Leg Pertama Babak 16 Besar
“Saya berterima kasih kepada para pemain saya atas apa yang telah mereka lakukan musim ini. Kami tidak memenangkan trofi, tetapi saya bangga menjadi pelatih mereka,” tutur Inzaghi.
“Kekalahan ini sangat berat karena terjadi di final. Kami bisa bangkit lebih kuat dari kekalahan ini, seperti yang kami lakukan pada tahun 2023 dan kemudian memenangkan liga pada musim berikutnya,” ujar dia menambahkan.
Inter Inter Milan menelan kekalahan telak dari PSG dengan skor 5-0 di final Liga Champions UEFA 2024-2025. PSG melesakkan gol lewat Achraf Hakimi, Desire Doue (dua gol), Khvicha Kvaratskhelia dan Senny Mayulu.
Ini merupakan kegagalan kedua Inter Milan di final Liga Champions dalam tiga tahun terakhir setelah pada partai puncak musim 2022-2023, Nerazzurri takluk 0-1 dari Manchester City.
Ini merupakan gelar Liga Champions pertama PSG sepanjang sejarah setelah sebelumnya pencapaian terbaik mereka adalah menembus partai final pada musim 2019-2020 tetapi takluk dari Bayern Muenchen 0-1. ***














