Olahraga
Bridge Indonesia Kembali Kehilangan Pemain Nasional, Stefanus Supeno Dari Djarum Bridge Club Berpulang

Atlet Bridge Nasional dari Djarum Bridge Club, Stefanus Supeno (paling kanan) meninggal di Jakarta, Sabtu (17/1/2026)
Oleh : Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Bridge Indonesia diselimuti duka hari ini setelah mendengar kabar Atlet Bridge Nasional dari Djarum Bridge Club Stefanus Supeno mendadak meninggal dunia di Jakarta.
Kabar ini cukup mengejutkan karena tidak pernah terdengar kabar ia sakit. Bahkan tukang bridge masih berlatih bersama pada hari Kamis 15/1 seharian secara online di Bridge Base Online.
Kabarnya ia meninggal karena serangan jantung pada pagi hari Sabtu 17/1 di tempat kostnya di daerah dekat Tanah Abang.
Pemain nasional berusia 61 tahun ini terkenal dengan keramahtamahannya dan senang membantu teman walupun pada saat-saat tertentu agak berangsangan.
Benar apa yang dikatakan Gemma M Tan pemain putri dari Philippina tentang alamarhum :
Stefanus, my ever cheerful friend, I will miss the smile you always had for me. Please enjoy bridge in eternity with the best who have gone before.
Yang kalau diterjemahkan secara bebas : Stefanus, sahabatku yang selalu ceria, aku akan merindukan senyum yang selalu kau berikan padaku. Semoga kau menikmati permainan bridge di keabadian bersama orang-orang terbaik yang telah mendahului kita.
Tukang bridge sendiri baru mengenal lebih dekat almarhum saat bergabung di Djarum Bridge Club Jakarta tahun 2012. Sementara almarhum sudah bergabung sejak tahun 2010. Namun sebelumnya almarhum sudah bergabung dengan Djarum Bridge Club Semarang jauh sebelumnya.
Sekedar untuk mengetahui siapa Stefanus Supeno, menarik untuk membaca tulisan Profil Alumni Santa Maria 84 Semarang disini : https://www.facebook.com/share/1H2M4X9944/
Apa yang ditulis disini, tukang bridge akui itu sungguh benar setelah pengalaman tukang bridge berkumpul bersama selama hamper 14 tahun.
Setelah tamat SMA ia kemudian melanjutkan kuliah di Teknik Perminyakan Universitas Trisakti pada tahun 1985.
Namun memang karena niatnya tidak ingin belajar dan sudah kecanduan permainan bridge maka ia terpaksa drop out dari Trisakti.
Mulai tahun 1988 ia mulai konsentrasi mengikuti turnamen bridge dan mulai terlihat hasilnya pada tahun 2003 dimana ia berhasil menjuarai Far East Bridge Federation Championship di Manila. Pada saat itu ia berpasangan dengan Santoso Sie dan sudah bergabung dengan Djarum Bridge Club.
Berkat hasil ini mereka dikirim mewakili Indonesia pada Kejuaraan Dunia Bermuda Bowl di Montecarlo tahun itu juga.
Sayang pasangan ini tidak bertahan lama. Selanjutnya Stefanus Supeno beberapa kali ganti pasangan dan malah sempat memperkuat Sulawesi Utara di PON XIX tahun 2016. Berpasangan dengan Sartje Pontoh mereka meraih medali emas untuk Sulut.
Selanjutnya ia berpasangan dengan Leslie Gontha mulai sekitar tahun 2015 dan bertahan sampai saat ini.
Prestasi mereka baik nasional, Asean dan Asia Pasifik sudah tidak terhitung jumlahnya. Sayangnya mereka belum berhasil di Kejuaraan Dunia apalagi beberapa tahun tidak ada kegiatan karena pandemic covid-19. Tukang bridge punya kenangan dengan almarhum ketika kami menjuarai nomor Super Mixed di Road to Asian Games 2018 seperti terlihat di foto.
Selamat jalan Peno panggilan akrabnya, Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah. Kami dari Djarum Bridge Club telah kehilangan seorang pemain andalan. Ketua Djarum Bridge Club Tanudjan Sugiarto dan Pembina Djarum Bridge Club beserta seluruh anggotanya menyampaikan ucapan turut berduka cita. Kami kehilangan seorang sahabat, senior serta adik yang baik lanjut mereka, Beruntung ia terakhir akrab dengan sesepuh bridge Handojo Susanto yang sudah Peno anggap sebagai orang tuanya.
Handojo Susanto kemudian yang mengurus agar jenasah bisa segera dikirim ke Cirebon untuk dimakamkan disana. Bahkan Handojo Susanto sempat menangis sesunggukan ketika ia telepon tukang bridge menceriterakan saat tadi beliau mengurus jenasah dari tempat kost. Beruntung dulu badan Handojo gemuk sehingga masih tersedia jas ukuran besar serta dasi untuk dipakaikan kepada almarhum membuktikan rasa cintanya. Memang beruntung ada Handojo Susanto karena sebagai bujangan, almarhum tinggal sendirian. Tadi sore Sabtu 15/1 jenasah telah diberangkatkan ke Cirebon.
Alamat rumah duka di Cirebon : Rumah Duka :
Jln Talang no 2 Lemahwungkuk Kec. Lemahwungkuk kota Cirebon Jawa Barat. 45111.
Jadwal kremasi :
Hari Rabu tanggal 21 januari 2026. ***














