Nusantara
Covid-19, BOR di Kota Semarang Mulai Menurun

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi cek BOR Rumah Sakit. (Foto: Istimewa)
FAKTUALid – Sedikit melegakan. Seluruh rumah sakit di Kota Semarang saat ini mengalami penurunan Bed Occupancy Rate (BOR), yakni hanya 85%. Sedang BOR di rumah karantina terpusat juga turun tinggal 76%.
Meskipun angka BOR menurun, namun pasien isolasi di Kota Semarang masih cukup tinggi. Data di siagacorona.semarangkota.go.id hingga Jumat (9/7/2021) ada 1.588 warga Kota Semarang terkonfirmasi positif, sedang warga dari luar Kota Semarang ada 565. Dengan demikian total masih ada 2.153 kasus aktif.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menyebut pihaknya berencana akan menambah 10 ruang ICU untuk Rumah Sakit milik Pemerintah Kota, yakni Rumah Sakit Wongsonegoro.
Penambahan ICU ini, dinilai sangat penting karena jumlah pasien yang membutuhkan perawatan intensif di ICU cukup banyak.
“Yang jadi PR kita adalah perawatan di ICU, karena membutuhkan alat-alat dan pengadaannya cukup memakan waktu. Saya menyetujui di rumah sakit milik Pemkot akan ditambah 10 ICU lengkap dengan alat-alatnya,” ujar Hendi panggilan akrab Wali Kota, Jumat (9/7/2021).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam menuturan, sejak Mei hingga Juni sudah ada 900-an penambahan tempat tidur termasuk untuk ICU.
Bahkan, Menteri Kesehatan mengimbau kepada seluruh Rumah Sakit untuk mengoptimalkan penambahan tempat tidur.
“Menkes menyampaikan kepada kita setiap rumah sakit bisa menambah tempat tidur untuk pasien isolasi, jadi mengubah yang non Covid jadi untuk Covid,” tutur Hakam.
Untuk mensiasati keterisian tempat tidur di Rumah Sakit maupun di rumah karantina terpusat, pihaknya akan memilah kategori pasien yang bisa isolasi mandiri ataupun isolasi di Rumah Sakit dan Rumah Karantina Terpusat.
“Pasien yang tidak bergejala dan saturasi masih diatas 95% keatas bisa isolasi di rumah atau masuk tempat karantina ditingkat RW atau kelurahan, sehingga diharapkan di tempat isolasi terpusat jika saturasinya turun dapat menjadikan Rumah Sakit bisa menampung dan tidak kewalahan,” ujarnya.
Upaya itu agar Rumah Sakit tidak memiliki beban terlalu berat, dan Rumah Karantina terpusat bisa di peruntukan bagi pasien yang bergejala sedang ataupun pasien yang memiliki saturasi 92%.
“Rumah dinas Wali Kota sudah seperti rumah sakit darurat karena kami menerima pasien yang saturasinya sudah 80% bahkan ada yang 50%. Namun tetap kita rawat dengan baik hingga bisa naik 92%,” kata Hakam.***














