Home NasionalNusantara Pengguna KRL Solo-Yogyakarta, Wajib Tunjukkan STRP

Pengguna KRL Solo-Yogyakarta, Wajib Tunjukkan STRP

oleh Uti Farinzi
 

Pengguna KRL Solo-Yogyakarta wajib tunjukkan STRP. (Foto : Istimewa)

 
FAKTULid –  Pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) Solo- Yogyakarta mulai Senin (12/7/2021) wajib menunjukan Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP). Atau surat keterangan lainnya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat, dan atau Surat Tugas yang ditandatangani oleh pimpinan instansi minimal eselon 2 untuk pemerintahan atau pimpinan perusahaan/kantor yang termasuk sektor esensial, dan kritikal.
 
Calon pengguna KRL yang tidak bisa menunjukkan syarat tersebut tidak diperkenankan menggunakan KRL. Aturan tersebut sesuai Surat Edaran Kementerian Perhubungan Nomor 50 tahun 2021 terkait perjalanan dengan moda kereta api.
 
“Mulai Senin mendatang akan ada pemeriksaan persyaratan kelengkapan dokumen untuk naik KRL tersebut yang dilakukan oleh pemerintah, aparat kewilayahan setempat dan pihak-pihak terkait di jalan-jalan akses menuju stasiun atau di pintu masuk stasiun,” jelas VP Corporate Secretary KAI Commuter,
Anne Purba, Sabtu (10/7/2021).
 
Lebih lanjut, Anne mengatakan layanan operasional perjalanan KRL selama masa PPKM Darurat masih tetap beroperasi mulai pukul 04.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Tetapi hanya untuk melayani pengguna dari pekerja sektor esensial dan kritikal sesuai aturan pemerintah.
 
Pihaknya berharap pengguna KRL dapat bekerja sama dengan mengikuti ketentuan-ketentuan dari pemerintah. Selain itu, sebisa mungkin beraktivitas di rumah saja dan mengurangi mobilitas di luar rumah.
 
“Untuk para pengguna KRL yang termasuk di sektor esensial dan kritikal kami himbau untuk tetap mengikuti protokol kesehatan saat menggunakan KRL. Yakni  menggunakan masker ganda, ikuti pengukuran suhu tubuh, cuci tangan, dan jaga jarak sesuai marka di stasiun dan KRL, serta disarankan mengatur waktu perjalanannya diluar jam sibuk pagi dan sore hari,” paparnya.
 
Sementara itu berdasarkan aturan dalam PPKM Darurat, aktivitas yang termasuk sektor esensial meliputi, keuangan dan perbankan hanya meliputi asuransi, bank, dana pensiun, dan lembaga pembiayaan. Selain itu pasar modal, teknologi informasi dan komunikasi meliputi operator seluler, data center, internet, pos, media terkait dengan penyebaran informasi kepada masyarakat. Perhotelan non penanganan karantina, serta industri orientasi ekspor sesuai aturan teknis yang berlaku.
 
Sedangkan untuk sektor kritikal, meliputi kesehatan, keamanan dan ketertiban masyarakat, energi. Selain itu juga  logistik, transportasi, dan distribusi terutama untuk kebutuhan pokok masyarakat. Makanan dan minuman dan penunjangnya, termasuk untuk ternak/hewan peliharaan, petrokimia, semen dan bahan bangunan, obyek vital nasional, proyek strategis nasional, konstruksi serta utilitas dasar (listrik, air, pengelolaan sampah. (Uti Farinzi) ***
 

Tinggalkan Komentar