Connect with us

Nusantara

Warga Sragen Ubah Klenteng Menjadi Minyak Goreng Curah

Avatar

Diterbitkan

pada

Sukarno, warga Sragen, Jawa Tengah olah klenteng atau biji kapuk menjadi minyak goreng. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Di tengah kelangkaan minyak goreng curah saat ini, minyak goreng dari klenteng atau biji kapuk bisa menjadi alternatif. Ide kreatif itu muncul dari Sukarno, warga Bunder RT 15 RW 03 Kelurahan Kedung Waduk, Kecamatan Karang Malang, Sragen. Sukarno membuat terobosan dengan membuat minyak goreng curah dari biji kapuk.

Menurut Sukarno, biji kapuk di daerahnya menjadi limbah. Karena yang diambil untuik digunakan hanya kapuknya saja.

“Terus kenapa berfikir kok bijinya tidak dipakai gitu. Saya lihat-lihat di media sosial ada yang buat minyak dari biji kapuk,” jelas Sukarno saat ditemui di rumahnya, Kamis (24/3/2022).

Tetapi saat itu, dirinya belum memiliki peralatan untuk membuatnya. Hingga akhirnya, dirinya membeli mesin dari  Jakarta secara online. Saat itu dia membeli dengan harga sekitar Rp42 juta per unit dan dia membeli dua unit.

“Sebelumnya saya memiliki usaha jualan kapuk randu untuk membuat bantal, guling dan kasur,” jelasnya lagi.

Advertisement

Selanjutnya datang permintaan untuk pengiriman klenteng atau biji kapuk ke Semarang. Permintaan itu sampai lima kwintal. Ternyata biji kapuk tersebut dibuat minyak.

Berawal dari itu, diirnya kemudian mencari informasi terkait pembuatan minyak goreng dari biji kapuk. Namun bukan tanpa kendala, Sukarno lanjut menceritakan. Pada awal-awal membuat, dirinya merasa kebingungan harus menjual kemana dan siapa yang mau membeli minyak goreng tersebut.

“Saya  belum tahu bagaimana menjualnya. Jadi cuma asal proses saja, terus ada teman yang memberitahu dan mulai saat itu saya tawarkan ke pabrik-pabrik,” katanya.

Saat ini permintaan untuk minyak goreng dari klenteng itu cukup banyak. Tetapi dirinya masih memiliki keterbatasan untuk memproduksinya.

“Mesin cuma dua, biji kapuknya juga setahun cuma berbuah sekali. Jadinya agak susah cari bahan bakunya,” papar Sukarno.

Advertisement

Saat ini dirinya dibantu delapan orang karyawan dan kini melayani permintaan minyak curah dari para pengepul dari berbagai wilayah di luar daerah. Seperti Magelang, Semarang dan Jakarta. Permintaan tersebut jumlahnya rata-rata mencapai lima ton.

Untuk bisa digunakan sebagai minyak goreng untuk memasak, harus melalui proses penyariangan hingga tiga kali. Dari dua unit mesin penyuling minyak klenteng itu,  dirinya bisa memproduksi 200 kilogram (kg) minyak per hari yang didapat dari sekitar 2.000 kg biji klenteng. Minyak goreng biji kapuk tersebut  dijual Rp17.000 per kg.

Dari proses penyulingan klenteng menjadi minyak goreng tersebut juga menghasilkan ampas yang bisa digunakan untuk makanan ternak.

“Saya melayani permintaan minyak curah aja. Gak usah diproses gimana-gimana, yang ambil pengepul semua. Seandainya ada yang mau kerja sama bikin minyak goreng, saya cuma suplai minyak curah aja bisa,” ujarnya.

Usaha produksi minyak goreng dari biji kapuk itu sudah dijalaninya sejak lima tahun terakhir. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca