Connect with us

Nasional

Merapi Luncurkan 27 Guguran Lava dalam 24 Jam,  BPPTKG Tegaskan Status Siaga Masih Berlaku

Diterbitkan

pada

Merapi Luncurkan 27 Guguran Lava dalam 24 Jam,  BPPTKG Tegaskan Status Siaga Masih Berlaku

Merapi kembali beraktivitas luncurkan lava pada 24 Januari 2026. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA :  Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali mengalami peningkatan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan puluhan guguran lava terjadi dalam satu hari pengamatan, menandakan suplai magma ke permukaan gunung api tersebut masih aktif.

Dalam laporan pemantauan pada Sabtu (24/1/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, BPPTKG mencatat sedikitnya 27 kali guguran lava pijar. Material guguran meluncur ke arah barat daya dengan jarak luncur terjauh mencapai sekitar dua kilometer dari puncak.

Baca Juga : Gunung Merapi Kembali Erupsi, Luncurkan Awan Panas ke Kali Krasak

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan guguran lava tersebut teramati mengarah ke beberapa alur sungai yang berhulu di lereng Merapi, di antaranya Kali Krasak, Kali Bebeng, serta Kali Sat atau Kali Putih. Aktivitas ini mengonfirmasi bahwa Gunung Merapi hingga kini masih berada pada status Level III atau siaga.

“Selama periode pengamatan, tercatat 27 kali guguran lava ke arah barat daya dengan jarak maksimum sekitar 2.000 meter,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Minggu (25/1/2026).

Dari sisi kondisi cuaca, kawasan Gunung Merapi didominasi cuaca berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah sampai sedang dengan arah barat dan selatan. Suhu udara tercatat berada pada kisaran 17,8 hingga 25,7 derajat Celsius, sementara kelembapan udara berkisar antara 59,3 hingga 87,2 persen.

Advertisement

Baca Juga : Hujan Deras di Puncak Merapi, Warga Diminta Waspadai Potensi Lahar Panas

Secara visual, puncak Gunung Merapi umumnya dapat teramati meski sesekali tertutup kabut tipis. Asap kawah tidak terpantau selama periode pengamatan.

Namun demikian, aktivitas kegempaan menunjukkan dinamika yang masih cukup tinggi. BPPTKG mencatat 96 kali gempa guguran, 79 kali gempa hybrid atau fase banyak, satu gempa vulkanik dangkal, serta satu gempa tektonik jauh.

Menurut Agus, kombinasi data visual dan kegempaan tersebut mengindikasikan proses suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran, khususnya di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah rawan bahaya.

Baca Juga : Gunung Merapi Kembali Menunjukkan Aktivitas, Masyarakat Diminta Waspada

“Suplai magma yang masih aktif dapat memicu awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya,” jelasnya.

BPPTKG kembali mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas di zona berbahaya di sekitar Gunung Merapi. Pada sektor selatan hingga barat daya, wilayah yang harus diwaspadai meliputi Sungai Boyong hingga jarak lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer dari puncak. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.

Advertisement

Selain ancaman awan panas, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lahar, terutama saat hujan turun di kawasan puncak Merapi. Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu aktivitas warga apabila terjadi letusan eksplosif.

BPPTKG menegaskan akan terus melakukan pemantauan intensif dan meninjau ulang status aktivitas Gunung Merapi apabila terjadi perubahan signifikan dalam dinamika vulkanik gunung tersebut.***

Lanjutkan Membaca
Advertisement