Connect with us

Nasional

890 Rumah di Desa Cirumpak Masih Tergenang, Warga Bertahan di Pengungsian

Diterbitkan

pada

890 Rumah di Desa Cirumpak Masih Tergenang, Warga Bertahan di Pengungsian

Hampir seminggu warga di Desa Cirumpak mengungsi karena banjir belum juga surut. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Banjir yang merendam Desa Cirumpak, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, belum sepenuhnya surut hingga Rabu (28/1/2026). Data pemerintah desa mencatat sebanyak 890 rumah masih terendam air akibat luapan Sungai Cimanceuri dan Sungai Cipasilian.

Ketinggian genangan di sejumlah permukiman dilaporkan berkisar antara 30 hingga 50 sentimeter. Kondisi tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan awal banjir pada Senin (26/1/2026), ketika air sempat mencapai ketinggian sekitar 80 sentimeter. Namun, air masih bertahan di rumah-rumah warga dan belum memungkinkan seluruh korban kembali beraktivitas normal.

Baca Juga : Banjir Tangerang: Sungai Cisadane Meluap, Ribuan Warga Terdampak Banjir dengan Ketinggian Air 40 – 60 Cm

Beberapa ruas jalan desa yang sebelumnya terendam kini mulai dapat dilalui kendaraan. Meski demikian, sebagian warga masih memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat yang didirikan di tepi jalan karena kondisi rumah belum layak huni.

Sekretaris Desa Cirumpak, Ahmad Yani, mengatakan genangan banjir cenderung bertahan di wilayah permukiman yang berada di dataran lebih rendah dibandingkan aliran sungai. Menurutnya, meskipun debit air sungai sudah kembali normal, air di lingkungan warga belum sepenuhnya surut.

“Air sungai sudah normal, tapi genangan di permukiman masih ada karena posisi tanahnya lebih rendah,” ujar Yani.

Advertisement

Baca Juga : Banjir Tangerang Rengut 3 Nyawa Warga Tersengat Listrik Kompresor yang Terendam Air

Ia menyebutkan, banjir kali ini berdampak pada 2.127 jiwa yang berasal dari 942 kepala keluarga. Genangan air yang stagnan, kata dia, menjadi persoalan utama karena sulit surut tanpa penanganan teknis pada aliran sungai.

Yani menilai banjir yang terjadi pada Januari 2026 merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, air mulai menggenangi permukiman sejak Kamis (22/1/2026) dan bertahan hampir selama sepekan.

“Biasanya banjir di sini cepat surut. Tapi kali ini air bertahan cukup lama,” katanya.

Baca Juga : Hujan Sejak Pagi Hingga Petang, 45 RT dan 22 Ruas Jalan di Jakarta Tergenang Air

Menurut Yani, tingginya sedimentasi sungai serta belum adanya tanggul pengaman di sepanjang Sungai Cimanceuri dan Cipasilian menjadi faktor utama terjadinya banjir berulang. Endapan lumpur terlihat jelas di dasar sungai setelah air mulai menyusut.

Ia menambahkan, warga dan pemerintah desa telah berulang kali mengusulkan normalisasi sungai dan pembangunan tanggul melalui musyawarah perencanaan pembangunan, termasuk hingga ke tingkat pusat. Namun, hingga kini belum ada realisasi di lapangan.

Advertisement

“Kami sudah mengajukan berkali-kali, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujarnya.

Pemerintah desa berharap banjir kali ini dapat menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan pusat untuk segera melakukan normalisasi sungai dan pembangunan tanggul, guna mencegah kejadian serupa terulang dan terus merugikan warga setiap musim hujan.***

Lanjutkan Membaca
Advertisement