Ibu Kota
Wakil Gubernur DKI Tegaskan PTM 100 Persen Tetap Berlaku Demi Jaga Kemampuan Belajar Siswa Tak Menurun

Sekolah di Jakarta melaksanakan PTM terbatas 100 persen agar peserta didik tak ketinggalan pelajaran. (ist)
FAKTUAL-INDONESIA: Meski ada yang menyarankan sekolah di Jakarta menghentikan sementara Pembelajaran Tatam Muka (PTM) 10 persen lantaran kasus Covid-19 melonjak, tapi sekolah di Jakarta tetap menerapkan dengan berpegang kemampuan siswa agar tak menurun.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menegaskan, selama dua tahun pandemi sektor pendidikan menjalani pembelajaran secara daring. Panjangnya proses belajar daring berdampak tidak baik terhadap kualitas peserta didik.
Dijelaskan Wagub Ariza, dalam proses belajar peserta didik tidak hanya belajar tentang teori namun diperlukan praktik-praktik untuk menguasai satu keilmuwan. Tidak akan optimal untuk dilakukan jika hanya belajar secara daring.
“Kita sudah dua tahun tidak ke sekolah,” ucap Wagub Ariza. “Ini menjadi pertimbangan juga jangan sampai nanti kualitas anak-anak kita, SDM bangsa kita menurun karena dua tahun belajar di rumah. Itu juga harus jadi bahan pertimbangan,” ucap Wagub Ariza, Selasa (18/1/2022), di Balai Kota, Jakarta.
Menurut Wagub Ariza, merujuk surat keputusan bersama empat menteri, syarat diizinkan pelaksanaan PTM 10 persen bila mana wilayah dengan status level 1 atau 2 dan tingkat vaksinasi terhadap tenaga pengajar dan peserta didik di atas 80 persen.
Dari persyaratan tersebut, sambung Wagub Ariza, DKI memenuhi mutlak memenuhi syarat tersebut. Data dari Dinas Kesehatan menyebutkan apabila vaksinasi terhadap peserta didik tercatat 98 persen dan tenaga pendidik sudah lebih dari 97 persen.
Wagub Ariza menolak jika ada anggapan sekolah menjadi klaster penularan Covid-19 atau bahkan Omicron. Sebab, kemungkinan penularan dapat terjadi dimana-mana, di rumah, selama perjalanan menuju sekolah, atau menuju rumah.
“Jadi kalau jumlahnya kecil itu dapat dipastikan penularannya tidak terjadi di sekolah, bisa di rumah, bisa dalam
perjalanan atau kendaraan umum,” tutur Wagub Ariza. “Tentu kita harus pahami dari rumah ke halte mungkin ke stasiun ke terminal pindah lagi, bus, itu ada potensi,” imbuhnya. ****













