Connect with us

Nasional

Selamat Jalan Pekakaan Boeng Dotulong Pengarang Kamus Bahasa Tondano

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Selamat Jalan Pekakaan Boeng Dotulong Pengarang Kamus Bahasa Tondano

Penulis Bert Toar Polii ketika bertemu dengan Boeng Jacob Dirk Albernesus Gerungan Dotulong sehingga selalu disingkat BJDAG Dotulong.

Oleh : Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Perkenalan saya dengan pekakaan (panggilan kakak dalam bahasa Tondano kepada yang lebih tua) Boeng Dotulong berawal dari Facebook. Nama lengkapnya benar-benar khas Minahasa : Boeng Jacob Dirk Albernesus Gerungan Dotulong sehingga selalu disingkat BJDAG Dotulong.

Diawali ketika saya tergelitik membaca salah satu artikel yang menuliskan tentang ancaman kepunahan bahasa ibu saya bahasa Tondano.

Karena itu walaupun bahasa Tondano saya terbatas maka secara nekat mendirikan Group Lestarikan Bahasa Tondano di Facebook pada akhir Nopember 2008.

Ternyata gayung bersambut terutama saat saya bertemu pakar Bahasa Tondano, Boeng Dotulong yang juga sudah mulai risau akan keberadaan Bahasa Tondano.

Berkat bantuan Boёng Dotulong kita bisa mengetahui bahasa “makatana” istilah popular yang digunakan untuk bahasa daerah secara baik dan benar.

Advertisement

Baca Juga : Selamat Jalan Sang Inovator Olahraga: Alex Noerdin, Sosok yang Melambungkan Sumsel ke Kancah Dunia

Apalagi setelah melihat kegigihan saya melestarikan Bahasa Tondano ia terpacu menyelesaikan Kamus Bahasa Toundano yang sudah lama terbengkalai. Setelah terbitnya kamus ini maka pekerjaan melestarikan Bahasa Tondano selanjutnya menjadi lebih mudah.

Saya sempat menulis resensi untuk kamus tersebut yang bisa dibaca disini : https://www.kompasiana.com/harum/550edffc8133111232bc606f/resensi-kamus-malayu-indonesia-toundano-kosakata-bahasa-toundano-pengarang-b-j-d-a-g-dotulong

Kamus ini telah disimpan di perpustakaan di Belanda sehingga sudah terdokumentasi dengan baik.

Selain kamus, ia juga telah menulis Silsilah Keluarga Gerungan dari tahun 1500. Ini juga peninggalan yang sangat berarti karena kita suku Minahasa umumnya lalai tentang silsilah ini. Berbeda dengan suku Batak.

Perkenalan kita semakin dekat setelah kami bertemu di Veldhoven Belanda tahun 2011 ketika saya menjadi Non Playing Captain tim putri Indonesia bertanding di Kejuaraan Dunia Venice Cup di Belanda.

Advertisement

Baca Juga : Selamat Jalan Bejo Sugiantoro, Prestasimu Akan Selalu Dikenang

Pekakaan Boeng dating dari kota tempat tinggalnya Arnhem yang cukup jauh dari Veldhoven.

Selanjutnya ia beberapa kali ke Indonesia dan kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu.

Saya sempat membuat postingan di Facebook seperti ini :

Dari percakapan di FB tukang bridge jadi tahu, walaupun mereka sesama kawanua belum tentu mengetahui banyak tentang budaya Minahasa. Apalagi jika mereka sudah lama merantau atau malah lahir dan besar di perantauan. Untung saja ada FB dan orang-orang “kurang kerjaan” tapi sangat mencintai budaya Minahasa dan mau berbagi tentang itu. Contohnya Boeng Dotulong dengan Group Belajar Bahasa Tondano dan kamus Bahasa Tondano, Beiby Luana Sumanti dengan sanggar Sanggar Bapontar, Joice Karouw dengan Mari Bicara Makatana dan masih banyak yang lain.

Baca Juga : Selamat Jalan Dedengkot Bridge Jakbar H Ansarudin Noor

Ada ungkapan yang menarik,”A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots.” Orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang masa lalu mereka, asal muasal dan budayanya ibarat pohon yang tanpa akar.

Advertisement

Ibaratnya orang yang mengalami krisis identitas. Kalau seseorang itu mengaku tou Minahasa maka dia akan berusaha mengenal dan menghargai budayanya tersebut. Karena budaya itu yang juga turut membentuk jati diri alias identitasnya sebagai tou Minahasa sejati.

Orang luar saja termasuk orang Barat mengakui kelebihan dan keunikan budaya kita, malah bule-bule atau londo-londo itu begitu antusias mengkaji budaya kita. Lah masak tou Minahasa malah minder atau malu atau tidak tertarik sama sekali sama budaya sendiri.

Ayo mari kita jaga dan pelihara budaya Tou Minahasa seperti kalimat penutup yang pekakaan tulis dalam Kamus Malayu Manado-Indonesia-Toundano seperti berikut :

“Waspadalah sukubangsa yang tidak mengenal akan bahasa maupun budaya-nya sendiri!.

Baca Juga : Selamat Jalan Achmad Yurianto, Dokter Militer Eks Jubir Satgas Covid-19

Bahasa adalah satu-satunya yang mengikat serta membedakan bangsanya daripada mereka yang menggunakan bahasa lain.

Advertisement

Bahasa dan Bangsa mengartikan yang serupa di jaman purba ; dan mereka nenek moyang kita yang sesungguhnya adalah bahasa yang kita gunakan,

Ayah – pikiran kami

Ibu  – harapan maupun takut kami

Selamat jalan pekakaan, “Dalam masa kesedihan ini, saya berdoa agar keluarga mendapatkan penghiburan dari firman Tuhan: ‘Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.’ (Matius 5:4).

Saya masih berhutang untuk menterjemahkan resep-resep obat “makatana” kedalam bahasa Indonesia yang ditinggalkan pekakaan untuk saya kerjakan. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement