Connect with us

Kesehatan

Perubahan Pola Kerja Membuat Orang Abai Jaga Hidrasi

Diterbitkan

pada

dampak buruk minum sambil berdiri

Foto Ilustrasi (Istimewa)

FAKTUSL-INDONESIA: Perubahan pola kerja di masa pademi membuat banyak orang abai untuk menjaga hidrasi.

Selama berada di rumah, mereka merasa tidak dahaga. Padahal setiap orang harus banyak minum setiap hari untuk menjaga hidrasi.

Indonesian Hydration Working Group – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (IHWG – FKUI) berharap fakta dan informasi terbaru mengenai hidrasi dan kesehatan dapat diketahui oleh masyarakat dan diterapkan di masa pandemi.

Ketua IHWG FKUI, Dr. dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK, menjelaskan air merupakan salah satu zat gizi yang harus dipenuhi kebutuhannya agar tubuh dapat berfungsi secara optimal.

Cairan merupakan komponen penyusun tubuh yang kandungannya mencapai 70 persen dari komposisi tubuh.

Advertisement

“Sehingga kekurangan dua persen cairan dapat memberikan efek jangka pendek,” kata dr Diana dalam diskusi virtual IHWG Webinar Week 2021 yang bertemakan “Hydration During New Era of Pandemic”, Jumat (29/10/2021).

Efek jangka pendek seperti penurunan konsentrasi, fokus, daya ingat sesaat, dan bahkan dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif.

“Sedangkan dalam jangka panjang, kurangnya konsumsi cairan dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal seperti batu ginjal dan infeksi saluran kemih. Informasi ini belum cukup baik diketahui masyarakat, karena mayoritas masyarakat memahami bahwa manfaat air mineral hanya untuk menghilangkan rasa haus saja,” ujarnya.

Pada masa pandemi seperti saat ini, tuturnya, terjadi perubahan pola dalam bekerja.

“Yang mengharuskan para perkerja untuk bekerja dari rumah atau jika bekerja di kantor harus menggunakan alat pelindung diri seperti masker, pelindung wajah dan lain lain yang dapat menyebabkan berkurangnya asupan air minum, dan meningkatkan risiko dehidrasi yang akan berdampak juga pada kualitas kerja,” katanya.

Advertisement

Hasil survey IHWG, seperti dikutip dari dari rri.co.id, menyatakan bahwa : 53,7% pekerja belum memenuhi kebutuhan minum hariannya, 76,1% pekerja merasa pekerjaannya berisiko menyebabkan kurang cairan, 15,5% pekerja jarang atau bahkan tidak pernah menyiapkan air minum selama bekerja di rumah, 19,1% pekerja jarang atau bahkan tidak pernah menyiapkan air minum di meja kantor.

“Hidrasi sehat juga penting pada ibu hami dan menyusui, Namun faktanya, 2 dari 5 ibu hamil dan 1 dari 2 ibu menyusui di Indonesia tercatat belum tercukupi kebutuhan minum hariannya. Padahal dimasa tersebut justru kebutuhan cairan bagi ibu akan semakin meningkat untuk menunjang masa kehamilan yang sehat serta kualitas dan kuantitas ASI,” tuturnya.

Program edukasi dilakukan melalui webinar, workshop, dan program edukasi lainnya.

“Pembuatan material edukasi  yang secara berkala dilakukan IHWG adalah upaya untuk peningkatan pengetahuan dan mendukung perubahan perilaku hidrasi sehat yang lebih baik,” katanya.***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement