Kesra
BRICS CMM India, Menbud Fadli Zon dan Menteri OSK Afsel Dorong Pembaruan Kerja Sama Kebudayaan

Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Afrika Selatan, Gayton McKenzie, di sela-sela XI BRICS Culture Ministers’ Meeting di Bhopal, Madhya Pradesh, India, Jumat (7/8/2026). (Foto: Kemenbud)
FAKTUAL INDONESIA: Indonesia dan Afrika Selatan mendorong pembaruan Nota Kesepahaman Kerja Sama Kebudayaan tahun 2008 agar sesuai dengan perkembangan dan prioritas saat ini, termasuk di bidang warisan budaya, museum, arsip, industri kreatif, perfilman, pendidikan kebudayaan, pertukaran seniman, dan pemuda.
Masalah pembaruan nota kesepahaman itu dibahas Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, saa melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan (OSK) Afrika Selatan, Gayton McKenzie, di sela-sela XI BRICS Culture Ministers’ Meeting di Bhopal, Madhya Pradesh, India, Jumat (7/8/2026).
Pertemuan itu juga membahas penguatan kerja sama kebudayaan Indonesia–Afrika Selatan melalui pelestarian warisan Sheikh Yusuf Al-Makassari dan penguatan hubungan antarmasyarakat.
Menbud Fadli Zon menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Afrika Selatan tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik, tetapi juga melalui sejarah bersama yang telah berlangsung selama berabad-abad. Menurutnya, kebudayaan menjadi jembatan penting yang mempererat hubungan kedua negara.
“Indonesia sangat menghargai persahabatan yang erat dengan Afrika Selatan. Kita adalah dua negara yang memiliki komitmen terhadap keadilan dan keberagaman, serta meyakini bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara,” ujar Fadli Zon.
Salah satu pembahasan utama adalah warisan Sheikh Yusuf Al-Makassari yang menjadi simbol hubungan historis kedua negara. Peringatan 400 tahun kelahiran Sheikh Yusuf pada 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi melalui pelestarian warisan budaya, riset akademik, museum, pendidikan, serta pertukaran budaya.
“Peringatan 400 tahun kelahiran Sheikh Yusuf merupakan momentum penting untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Afrika Selatan. Kita dapat mengembangkannya melalui program peringatan bersama, riset akademik, pelestarian warisan budaya, kolaborasi museum, serta pertukaran pendidikan,” lanjut Fadli Zon.
Indonesia juga menyampaikan apresiasi terhadap komunitas Cape Malay yang memiliki akar sejarah dari Nusantara. Hubungan budaya tersebut dapat diperkuat melalui pertukaran budaya, dokumentasi sejarah lisan, pelindungan warisan budaya takbenda, program kepemudaan, dan kerja sama akademik.
Selain itu, Indonesia tengah mempersiapkan pendirian Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House di Cape Town sebagai pusat diplomasi budaya, pendidikan, riset, serta kegiatan seni. “Kami melihat Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House bukan sekadar sebuah bangunan kebudayaan. Ini dapat menjadi pusat diplomasi budaya, ruang pendidikan dan riset, tempat berkumpul masyarakat, sekaligus simbol persahabatan Indonesia dan Afrika Selatan yang akan bertahan untuk generasi mendatang,” imbuh Fadli Zon.
Menteri Gayton McKenzie menyatakan dukungannya terhadap peringatan 400 tahun Sheikh Yusuf serta komitmennya memperkuat hubungan Indonesia–Afrika Selatan melalui pertukaran komunitas Cape Malay, seniman, dan pelaku budaya. Ia juga menyambut baik inisiatif Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House di Cape Town.
Hadir mendampingi Menteri Kebudayaan RI dalam pertemuan tersebut, antara lain Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Kuasa Usaha Ad Interim KBRI New Delhi, Yudho Sasongko; serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan, Mardisontori. Dari pihak Afrika Selatan, hadir antara lain Staf khusus Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan, Charles Cilliers; Direktur Multilateral dan Sumber Daya, Cleon Noah; serta Direktur Kebijakan Warisan Budaya, Riset, dan Pengembangan Sektor, Kgomotso Mokgethi.
Pertemuan ditutup dengan komitmen kedua negara untuk menjadikan sejarah bersama sebagai landasan bagi kerja sama kebudayaan yang lebih konkret dan hubungan antarmasyarakat yang semakin erat. Demikian seperti dilansir dari laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). ***














