Connect with us

Ekonomi

Sehari setelah Terangkat Emas Melemah Tajam, Minyak Masih Khawatir Pasokan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), emas anjlok lagi sedangkan minyak masih beragam mengingat kondisi geopolitik dan covid-19

Pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), emas anjlok lagi sedangkan minyak masih beragam mengingat kondisi geopolitik dan covid-19

FAKTUAL-INDONESIA: Sehari setelah sempat terangkat, emas anjlok lagi dalam akhir perdagangan Kamis atau Jumat (13/5/2022) pagi WIB.

Jika emas melemah tajam maka minyak masih terus khawatir pada pasokan dan ketegangan geopolitik di Eropa sehingga harga beragam pada hari yang sama.

Demikian pantauan emas yang melemah dan minyak yang masih khawatir pasokan berdasarkan lansiran dari antaranews.com pada Jumat.

Emas berjangka melemah tajam pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), mencatat hari terburuknya dalam sekitar satu minggu, karena inflasi yang terus memanas mendorong dolar AS lebih kuat mendekati level tertinggi dua dekade dan menekan daya tarik logam mulia.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi Comex New York Exchange, anjlok 29,10 dolar AS atau 1,57 persen menjadi ditutup pada 1.824,60 dolar AS per ounce. Berbalik melemah dari kenaikan sehari sebelumnya dan merupakan penyelesaian terendah sejak 7 Februari 2022.

Emas berjangka terangkat 12,7 dolar AS atau 0,69 persen menjadi 1.853,70 dolar AS pada Rabu (11/5/2022), setelah tergelincir 17,6 dolar AS atau 0,95 persen menjadi 1.841,00 dolar AS pada Selasa (10/5/2022), dan terpuruk 24,2 dolar AS atau 1,29 persen menjadi 1.858,60 dolar AS pada Senin (9/5/2022).

Advertisement

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Kamis (12/5/2022) bahwa indeks harga produsen AS, ukuran inflasi sebelum mencapai konsumen, naik 11 persen tahun ke tahun dan 0,5 persen bulan ke bulan pada April, turun dari masing-masing 11,5 persen dan 1,6 persen pada Maret.

Departemen juga melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS meningkat 1.000 menjadi 203.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 7 Mei, level tertinggi sejak pertengahan Februari.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama rivalnya, naik 0,9 persen, mendekati level tertinggi 20 tahun. Dolar yang kuat dipandang sebagai negatif untuk komoditas yang dihargai dalam unit tersebut, karena membuatnya lebih mahal bagi pengguna mata uang lainnya.

“Anda sekarang melihat perdagangan emas di dekat level teknis yang berbahaya,” kata Edward Moya, analis senior di Oanda.

Jika aksi jual berlanjut, mungkin ada kembalinya hari-hari ketika harga emas turun 100 dolar AS dalam satu hari, Moya memperingatkan, menambahkan bahwa kekhawatiran sebelumnya tentang inflasi yang terus-menerus tinggi telah berubah menjadi kekhawatiran tentang potensi perlambatan pertumbuhan global, yang mendorong investor berbondong-bondong ke dolar untuk keamanan.

Advertisement

Angka inflasi tinggi lainnya menjelang pertemuan Fed berikutnya pada Juni dapat membuat bank sentral mempertimbangkan kenaikan suku bunga 75 basis poin yang lebih besar daripada 50 basis poin yang dikatakan Ketua Fed Jerome Powell sedang dipertimbangkan untuk dua pertemuan berikutnya, kata Ricardo Evangelista, analis senior di ActivTrades, dalam sebuah catatan.

“Dengan latar belakang seperti itu, kekuatan emas apa pun yang dihasilkan dari peran logam mulia sebagai tempat berlindung yang aman dan lindung nilai inflasi kemungkinan akan tetap dibatasi oleh dolar AS yang lebih kuat,” katanya.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli turun 80,2 sen atau 3,72 persen, menjadi ditutup pada 20,773 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun 58,4 dolar AS atau 5,9 persen, menjadi ditutup pada 931,4 dolar AS per ounce.

Minyak Khawatir

Harga minyak beragam pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena kekhawatiran pasokan dan ketegangan geopolitik di Eropa menguasai kecemasan ekonomi yang mengganggu pasar keuangan ketika inflasi melonjak.

Advertisement

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli turun 6 sen, menjadi menetap di 107,45 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni terangkat 42 sen atau 0,4 persen, menjadi ditutup di 106,13 dolar AS per barel.

“Perdagangan tipis dan tidak ada yang tahu apa yang akan menggerakkan jarum,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Larangan Uni Eropa yang tertunda atas minyak dari Rusia, pemasok utama minyak mentah dan bahan bakar ke blok tersebut, diperkirakan akan semakin memperketat pasokan global.

Uni Eropa masih tawar-menawar rincian embargo Rusia, yang membutuhkan dukungan bulat. Namun, pemungutan suara telah ditunda karena Hongaria menentang larangan tersebut yang akan terlalu mengganggu perekonomiannya.

Secara lebih luas, harga minyak dan pasar keuangan telah berada di bawah tekanan minggu ini di tengah kegelisahan atas kenaikan suku bunga, dolar AS terkuat dalam dua dekade, kekhawatiran atas inflasi dan kemungkinan resesi.

Advertisement

Penguncian COVID-19 yang berkepanjangan di importir minyak mentah utama dunia, China, juga berdampak pada pasar.

“Kemerosotan pertumbuhan permintaan tidak bisa datang pada waktu yang lebih baik, dengan China tampaknya di ambang mengunci ibu kota Beijing pada saat tertentu,” kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

IHK utama AS untuk 12 bulan hingga April melonjak 8,3 persen, memicu kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga yang lebih besar, dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Melonjaknya harga di SPBU dan melambatnya pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan secara signifikan mengekang pemulihan permintaan sepanjang sisa tahun ini dan hingga 2023,” kata Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis (12/5/2022) dalam laporan bulanannya.

“Lockdown yang diperpanjang di seluruh China … mendorong perlambatan signifikan di konsumen minyak terbesar kedua di dunia,” tambah badan tersebut.

Advertisement

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2022 untuk bulan kedua berturut-turut, mengutip dampak invasi Rusia ke Ukraina, meningkatnya inflasi, dan kebangkitan varian virus corona Omicron di China.

Pada Rabu (11/5/2022), harga minyak melonjak 5,0 persen setelah Rusia memberikan sanksi kepada 31 perusahaan yang berbasis di negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap Moskow setelah invasi Ukraina.

Itu menciptakan kegelisahan di pasar pada saat yang sama aliran gas alam Rusia ke Eropa melalui Ukraina turun seperempat. Ini adalah pertama kalinya ekspor melalui Ukraina terganggu sejak invasi. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement