Connect with us

Ekonomi

Rupiah Senin 3 Agustus 2026: Mantap, Positif di Bawah Rp18.000, Menuju Stabil Terbatas

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah Senin 3 Agustus 2026: Mantap, Positif di Bawah Rp18.000, Menuju Stabil Terbatas

Penguatan hari ini, Senin (3/8/2026), membawa rupiah kembali menembus ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat tertekan pada akhir bulan lalu. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Mantap, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses mengawali perdagangan bulan Agustus dengan catatan positif. Pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026), rupiah ditutup menguat 25 poin atau 0,14 persen berada di level Rp17.997 per dolar AS.

Setelah akhir pekan lalu berada di zona hijau maka pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin pagi, rupiah sempat mengkhawatirkan ketika  melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp18.031 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.022 per dolar AS.

Namun kemudian rupiah mampu berbalik arah kembali menuju zona hijau hingga ditutup menguat sore harinya.

Baca Juga : Rupiah Jumat 31 Juli 2026: Unjuk Gigi Dekati Rp18.000 Akhir Juli, Kosolidasi di Bulan Baru

Menguat juga Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia dari sebelumnya Rp18.058 menjadi  Rp17.991 per dolar AS.

Penguatan ini membawa rupiah kembali menembus ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah sempat tertekan pada akhir bulan lalu.

Advertisement

Untuk tingkat regional, mata uang utama di kawasan Asia mayoritas juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,29%, Won Korea Selatan naik 0,54%, sementara dolar Singapura naik 0,03%, rupe India juga naik 0,15%, peso Filipina naik o,54%, dan baht Thailand naik 0,28%.

Namun dolar Hong Kong stagnan, Yuan China turun 0,05%, dan ringgit Malaysia turun 023%.

Baca Juga : Rupiah Kamis 30 Juli 2026: Terdepresiasi ke Rp18.111, Berpotensi Konsolidasi di Zona Merah

Faktor Utama Pendorong Penguatan

Pergerakan positif mata uang rupiah pada perdagangan awal pekan ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen domestik maupun global:

  • Sinyal Kebijakan Moneter Global: Dolar AS mengalami sedikit penyesuaian (profit taking) seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi pelonggaran suku bunga acuan The Fed pada kuartal III-2026.
  • Respon Positif Pasar terhadap Data Ekonomi Domestik: Rilis data inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang tetap stabil memberikan kepercayaan ekstra bagi investor untuk kembali masuk ke pasar aset berisiko (risk-on).
  • Intervensi Pasar: Langkah Bank Indonesia (BI) yang tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui pasar valas dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) turut menahan volatilitas kurs.

Baca Juga : Rupiah Rabu 29 Juli 2026: Menguat Tipis Meski Masih Di Atas Rp18.000, Esok Mixed

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Senin, mengemukakan, rupiah kembali menguat seiring penurunan harga minyak dunia setelah ketegangan kembali mereda di Timur Tengah.

“Saat iim pasar fokus terhadap prospek The Fed dan data ketenagakerjaan AS, meskipun mencatat kenaikan pada hari Senin, para investor tetap bersikap hati-hati setelah tiga pejabat Federal Reserve yang sebelumnya menyatakan perbedaan pendapat dalam rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada hari Jumat bahwa inflasi masih terlalu tinggi,” kata Ibrahim. Lebih lanjut Ibrahim mengungkapkan, perhatian pasar tertuju pada rangkaian data pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut yaitu lowongan kerja JOLTS, laporan penggajian sektor swasta ADP, klaim tunjangan pengangguran mingguan, serta laporan nonfarm payrolls, guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah kebijakan Federal Reserve berikutnya.

Advertisement

Dari sisi internal, rupiah menguat setelah Indonesia mencatat ekspansi pada aktivitas manufaktur bulan Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya.

Baca Juga : Rupiah Selasa 28 Juli 2026: Terdepak ke Level Rp18.083, Masih Berpotenis Melemah Terbatas

Laporan S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan kenaikkan ke level 50,2 pada Juli 2026 dari posisi 46,9 pada Juni 2026.

Selain itu, Indonesia juga mencatatkan deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month to month/MtM), setelah sebelumnya mencatat inflasi 0,44% pada Mei 2026. Adapun pada Juli 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 2,88% secara tahunan, menurut data Badan Pusat Statistik.

Prediksi Selasa, 4 Agustus 2026

Para analis memproyeksikan, memasuki perdagangan Selasa (4/8/2026), rupiah masih berpeluang bergerak dalam rentang yang cenderung stabil namun terbatas (sideways with bullish bias).

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Senin 27 Juli 2026: Merosot Lewati Rp18.000 setelah Gubernur BI Mundur, Mencermati Langkah-langkah Stabilisasi

Proyeksi Rentang Pergerakan

  • Support (Batas Bawah):940 per dolar AS
  • Resistance (Batas Atas):040 per dolar AS

Apabila sentimen pelemahan indeks dolar AS berlanjut di pasar global, rupiah berpotensi menguji kisaran Rp17.950 – Rp17.970 per dolar AS. Namun, pelaku pasar diimbau tetap mewaspadai rilis data ketenagakerjaan dan indikator manufaktur AS yang dapat memicu fluktuasi mendadak.

Baca Juga : Rupiah Jumat 24 Juli 2026: Melemah Terimbas Tarif Baru Trump, Senin Bisa Masuk Rentang Ini

Menurut Ibrahim Assuaibi, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah akan berfluktuasi, tetapi berpotensi ditutup melemah dalam rentang  Rp 17.990-Rp 18.040 per dolar AS.

Ringkasan Pergerakan Kurs Hari Ini

IndikatorNilai / Angka
Posisi Penutupan (3 Ags 2026)Rp17.997 / USD
Perubahan+25 poin (+0,14%)
Estimasi Pergerakan (4 Ags 2026)Rp17.940 – Rp18.040 / USD

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement