Connect with us

Ekonomi

Rupiah Jumat 31 Juli 2026: Unjuk Gigi Dekati Rp18.000 Akhir Juli, Kosolidasi di Bulan Baru

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses menguat pada perdagangan Jumat (31/7/2026), ditopang oleh sentimen positif pasar serta data ekonomi domestik yang stabil.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses menguat pada perdagangan Jumat (31/7/2026), ditopang oleh sentimen positif pasar serta data ekonomi domestik yang stabil. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Rupiah unjuk gigi di akhir bulan Juli dan perdagangan akhir pekan, Jumat (31/7/2026). Rupiah pun menutup perdagangan bulan Juli dengan performa gemilang.

Modal bagus bagi rupiah untuk menyongsong dinamika di bulan baru, Agustus mendatang, mulai Senin (3/8/2026). Mampukah akan terus bertahan dan bahkan meningkat menguat?

Mari simak pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini dan prediksi pengamat tentang peluang mata uang Garuda pekan depan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses menguat pada perdagangan Jumat (31/7/2026), ditopang oleh sentimen positif pasar serta data ekonomi domestik yang stabil.

Berdasarkan data perdagangan pasar uang, rupiah ditutup melonjak 89 poin atau 0,49 persen ke level Rp18.022 per dolar AS. Posisi ini membaik dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp18.111 per dolar AS.

Advertisement

Rupiah sudah tampil perkasa di zona hijau ketika perdagangan valuta asing dibuka Jumat pagi ketika bergerak menguat 37 poin atau 0,20 persen menjadi Rp18.074 per dolar AS.

Dolar AS Melemah

Penguatan rupiah terjadi seiring dengan melemahnya indeks dolar AS di pasar global serta sikap hati-hati (wait and see) pelaku pasar menantikan rilis indikator makroekonomi utama di awal bulan Agustus.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah didorong sentimen eksternal di mana harga minyak mentah cenderung turun seiring pasar mencermati rencana pembentukan koalisi pertahanan maritim yang dipimpin Arab Saudi.

“Arab Saudi berupaya memimpin koalisi untuk meningkatkan kerja sama pertahanan di Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Ketiganya merupakan titik-titik krusial bagi pasokan energi. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa 14 negara termasuk Djibouti, Mesir, Pakistan, Sudan, dan Turki mendukung koalisi pertahanan maritim multinasional tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya, seperti dilansir RCTI+.

Advertisement

Sentimen lainnya, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga sesuai perkiraan. Namun, keputusan The Fed tersebut tidak diambil secara bulat, setidaknya tiga pembuat kebijakan terlihat mendesak kenaikan suku bunga lebih lanjut di tengah inflasi yang sulit turun. Warsh juga menegaskan kembali komitmennya terhadap target inflasi tahunan The Fed sebesar 2 persen.

Data inti PCE Juni yang lebih rendah dari perkiraan, yang dirilis pada Kamis, membantu meredakan kekhawatiran mengenai tingginya inflasi dan suku bunga. Data ini merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed. Akan tetapi, indeks inti PCE masih berada jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen dan pasar terlihat sudah memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga oleh The Fed pada akhir tahun ini.

Dari sentimen domestik, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib dipisahkan dari alokasi anggaran pendidikan. Putusan ini menetapkan bahwa pemisahan dana dari pos wajib 20 persen anggaran pendidikan tersebut berlaku paling lambat pada APBN Tahun Anggaran 2028. Hal tersebut merupakan sebuah langkah yang dipandang memperkuat reformasi tata kelola terkait program unggulan Presiden Prabowo.

Selain itu, laju inflasi diperkirakan kembali melandai pada Juli 2026 seiring meredanya tekanan harga pangan dan normalisasi kenaikan harga yang diatur pemerintah. Meski demikian, para ekonom mengingatkan risiko inflasi belum sepenuhnya hilang karena pelemahan rupiah, potensi El Nino, hingga meningkatnya permintaan pangan masih berpotensi mendorong kenaikan harga pada paruh kedua tahun ini.

Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi tahunan Juli 2026 akan bergerak mendekati level 3 persen, sementara inflasi bulanan juga diproyeksikan lebih rendah dibandingkan Juni 2026. inflasi Juli secara bulanan diperkirakan sebesar 0,03 persen turun dari 0,44 persen pada Juni. Sementara secara tahunan, inflasi diproyeksikan mencapai 3,06 persen, lebih rendah dibandingkan 3,34 persen pada bulan sebelumnya.

Advertisement

Sentimen Penggerak Rupiah

Laju penguatan mata uang rupiah pada perdagangan penutup pekan ini dipicu oleh beberapa faktor utama:

  1. Sikap Dovish The Fed: Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) yang cenderung melunak memberikan tekanan pada dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah, mendapatkan angin segar.
  2. Arus Modal Masuk (Capital Inflow): Masuknya modal asing ke pasar surat berharga negara (SBN) dan pasar saham domestik memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri.
  3. Stabilitas Makroekonomi Domestik: Kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga menjelang rilis data inflasi dan PMI Manufaktur.

Prediksi Senin, 3 Agustus 2026

Memasuki awal pekan sekaligus awal bulan baru, rupiah diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas pada perdagangan Senin (3/8/2026). Rentang pergerakan diperkirakan berkisar  Rp17.970 – Rp18.070 per dolar AS.

Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.020-Rp18.070 per dolar AS. Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi di rentang Rp17.920-Rp18.300 per dolar AS.

Faktor Kunci yang Perlu Dicermati Pasar:

Advertisement
  • Data Inflasi Juli 2026: Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi dan Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia periode Juli 2026 pada awal pekan. Jika inflasi tetap terkendali dalam kisaran target Bank Indonesia, hal ini akan menjadi pendorong tambahan bagi penguatan rupiah.
  • Perkembangan Pasar Tenaga Kerja AS: Rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) di akhir pekan ini akan menjadi petunjuk utama pergerakan indeks dolar AS saat pasar dibuka Senin pagi.

Intervensi Bank Indonesia: BI diperkirakan terus berada di pasar (triple intervention) untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah berada di area aman. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement