Olahraga
Jakarta dan Manado Kembali Bergairah, Bridge Indonesia Menyambut Kebangkitan Dua Kekuatan Tradisional

Bridge Indonesia akan semakin kuat apabila setiap daerah memiliki turnamen yang rutin, klub yang aktif, serta komunitas yang terus bertumbuh. (Foto: Istimewa)
Oleh : Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Dalam sejarah bridge Indonesia, ada satu duel yang selalu dinantikan: DKI Jakarta versus Sulawesi Utara.
Di tingkat nasional, final-final besar sering mempertemukan kedua provinsi ini. Di level klub, persaingan klasik Jakarta Pusat melawan GABMO (Gabungan Bridge Manado) menjadi bagian dari sejarah panjang kejayaan bridge Indonesia.
Kini, semangat itu seolah kembali hidup.
Di Jakarta hadir Ernst Gultom Memorial Trophy, sebuah turnamen yang menjadi penghormatan kepada salah satu tokoh bridge nasional sekaligus ajang berkumpulnya pemain-pemain terbaik ibu kota.
Baca Juga : Ernst Gultom Memorial Bridge Tournament 2026 Siap Digelar, 12 Tim Elite Indonesia Siap Bertarung di Xendit Hall Menara Sentraya
Sementara di Manado, RBFC Open Tour 2026 bukan sekadar turnamen terbuka. Event ini juga menjadi momentum pengukuhan Rike Bridge Fun Club (RBFC), klub baru yang lahir dengan semangat membangun komunitas bridge yang lebih aktif, inklusif, dan penuh persahabatan.
Kedua turnamen tersebut menunjukkan bahwa pembinaan bridge tidak hanya berlangsung melalui kejuaraan nasional, tetapi juga tumbuh dari komunitas-komunitas yang hidup dan aktif di daerah.
Tradisi Manado yang Unik
Ada satu hal yang mungkin berbeda bagi peserta dari luar daerah.
Jika di banyak kota turnamen bridge sering digelar pada akhir pekan penuh (Sabtu–Minggu), maka di Manado sebagian besar turnamen justru diselenggarakan pada Jumat dan Sabtu.
Baca Juga : Persoalan Bridge Sesuai Perkembangan Zaman, Saatnya Beralih dari Struktur Organisasi Menuju Ekosistem Pembinaan
Alasannya sederhana namun sangat bermakna.
Hari Minggu di Manado merupakan hari untuk beribadah dan berkumpul bersama keluarga. Karena itu, panitia penyelenggara sejak lama berusaha agar seluruh pertandingan selesai pada hari Sabtu sehingga para peserta dapat menjalankan ibadah pada hari Minggu dengan tenang.
Tradisi ini menjadi contoh bagaimana olahraga dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat. Bridge bukan hanya mengejar prestasi, tetapi juga menghormati budaya dan kearifan lokal.
Baca Juga : Semarak HUT RI ke-81, DPP Kerukunan Keluarga Kawanua Gelar Berbagai Kegiatan. Turnamen Bridge Pasangan Siap Jadi Magnet Pecinta Bridge
Antusiasme RBFC Open Tour 2026
Hingga beberapa hari menjelang pelaksanaan, 16 tim telah menyatakan keikutsertaannya, di antaranya:
- Fatek Bridge (Mahasiswa)
- RBFC Tim 1
- RBFC Tim 2
- Minut Open A
- Minut Open B
- Minut Mixed
- Diponegoro Plus
- Sulteng
- AKEM
- GABMO Putra
- GABMO Senior
- GABMO Mixed Plus
- Banteng Kleak
- Kota Depok
- Onega
- Minsel Plus
Daftar tersebut masih berpotensi bertambah hingga hari pertandingan, sehingga RBFC Open Tour 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu turnamen daerah dengan partisipasi yang sangat baik tahun ini.
Baca Juga : Saatnya Memikirkan Masa Depan GABSI, Sebuah Ajakan Berdiskusi Menyusun Reformasi Tata Kelola Bridge Indonesia
Membangun Masa Depan Bridge Indonesia
Ernst Gultom Memorial Trophy di Jakarta dan RBFC Open Tour 2026 di Manado membawa pesan yang sama.
Bridge Indonesia akan semakin kuat apabila setiap daerah memiliki turnamen yang rutin, klub yang aktif, serta komunitas yang terus bertumbuh. Dari turnamen-turnamen inilah lahir pemain baru, persahabatan baru, dan semangat baru untuk membawa bridge Indonesia semakin maju.
Persaingan DKI Jakarta vs Sulawesi Utara mungkin akan terus menjadi rivalitas klasik yang mewarnai setiap kejuaraan nasional. Namun di balik persaingan itu, keduanya memiliki misi yang sama: menjaga api bridge Indonesia tetap menyala dari generasi ke generasi. ***














