Ekonomi
Rupiah Selasa 5 Mei 2026: Anjlok Terus, Kembali Catat Rekor Terlemah Sepanjang Masa, Apa Dikata?

FAKTUAL INDONESIA – Apa mau dikata? Nilai tukar (kurs) rupiah terus anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan hari ini, Selasa (5/5/2026), kembali mencetak rekor terlemah sepanjang masa.
Rupiah memasuki masa kelam baru ketika ditutup melemah di atas Rp14.000 perdolar AS pada perdagangan valuta asing hari ini.
Kekelaman rupiah itu seperti ironi tentang perekonomian Indonesia karena terjadi di tengah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026
tumbuh 5,61% secara tahunan atau year-on-year/yoy.
Apa yang terjadi dan apa sebab?
Yang jelas bukti menunjukan, pada penutupan perdagangan Selasa sore, mata uang Garuda resmi menyentuh level terlemahnya sepanjang masa (all-time low), menembus level psikologis baru di angka Rp17.424 per Dolar AS.
Berdasarkan data pasar, Rupiah melemah sekitar 0,17% atau turun 30 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Bahkan di pasar intraday, beberapa perbankan nasional terpantau sempat menjual Dolar AS dengan kurs menyentuh angka fantastis, yakni Rp17.700.
Sepanjang hari ini, rupiah memang sudah loyo sejak pembukaan ketika dibuka melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.425 per dolar AS. Mata uang Garuda tersebut turun 57 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.368 per dolar AS.
Biang Keladi Kemerosotan
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya mengemukakan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang tetap rapuh setelah pertukaran militer yang kembali terjadi pada Senin, ketika pasukan AS dan Iran melancarkan serangan baru di Teluk karena kedua pihak berupaya untuk menegaskan kendali atas jalur air strategis tersebut.
Para pedagang mempertimbangkan inisiatif yang baru diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, “Proyek Kebebasan,” yang bertujuan untuk membantu kapal-kapal yang terdampar di Teluk. Operasi ini berupaya untuk memandu kapal-kapal komersial melalui rute yang lebih aman dan memulihkan sebagian arus melalui Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, seperti dilansir metrotvnews, para analis mencatat meskipun “Proyek Kebebasan” dapat meringankan beberapa hambatan logistik, proyek ini tidak banyak menyelesaikan konflik geopolitik yang mendasar, sehingga pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan militer lebih lanjut.
Sementara itu, guncangan energi yang terjadi menambah tekanan pada bank sentral, khususnya Federal Reserve (Fed), untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, atau bahkan memperketat kebijakan jika tekanan inflasi meningkat.
“Hal ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi, sehingga menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil,” papar dia.
Sementara itu, data pertumbuhan ekonomi tidak mampu menahan pelemahan rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026. Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.
Kinerja konsumsi rumah tangga pada periode ini utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan (Nyepi dan Idulfitri)
Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi serta berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 persen juga turut mendorong konsumsi masyarakat.
Kemudian, jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh hingga 13,14 persen (yoy) pada kuartal I-2026, diikuti peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi seperti angkutan darat, ASDP, angkutan udara, dan angkutan laut.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.420 per USD hingga Rp17.460 per USD,” jelas Ibrahim.
Para analis ekonomi dan pemerintah menyoroti beberapa faktor krusial yang menekan posisi Rupiah:
- Eskalasi Geopolitik Global: Ketegangan di Eropa Timur (Ukraina-Rusia) dan Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar. Serangan terhadap infrastruktur energi global menyebabkan harga minyak mentah melambung, yang pada gilirannya memicu inflasi tinggi dan pelarian modal ke aset aman (safe haven) seperti Dolar AS.
- Suku Bunga “High for Longer“: Bank sentral AS, The Fed, diproyeksikan akan menahan suku bunga tinggi hingga akhir tahun 2026. Hal ini membuat indeks Dolar AS (DXY) terus menguat dan menekan mata uang negara berkembang (emerging markets).
- Permintaan Valas Domestik: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan adanya faktor siklikal di kuartal kedua, yakni meningkatnya kebutuhan dolar untuk persiapan musim ibadah haji dan pembayaran dividen korporasi ke luar negeri.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Pelemahan Rupiah yang berkelanjutan ini diprediksi akan memberikan efek domino pada harga barang konsumsi di dalam negeri. Harga barang impor (imported inflation) seperti elektronik, bahan baku industri, hingga produk pangan diprediksi akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
“Pemerintah dan Bank Indonesia terus berkoordinasi untuk memperkuat cadangan devisa dan melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar agar volatilitas tidak semakin liar,” ujar Airlangga dalam keterangannya.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih menantikan langkah strategis Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang untuk melihat apakah akan ada kebijakan moneter baru guna membendung kejatuhan Rupiah lebih jauh. ***
Kurs Dolar di Bank Besar (5 Mei 2026)
Sebagai referensi bagi masyarakat yang ingin melakukan transaksi valas, berikut adalah pantauan kurs jual-beli di beberapa bank besar:
| Bank | Kurs Beli (Rp) | Kurs Jual (Rp) |
| BCA (E-Rate) | 17.412 | 17.432 |
| Mandiri (Special Rate) | 17.400 | 17.430 |
| BNI (Special Rate) | 17.393 | 17.423 |














