Ekonomi
Pasar Keuangan Memerah: IHSG dan Rupiah Kompak Melemah dari Pembukaan hingga Penutupan

Ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya reda di beberapa kawasan masih menjadi sentimen negatif yang membuat Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat (13/3/2026). (AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Suasana akhir pekan di pasar keuangan domestik terasa kurang bersahabat. Pasar memerah setelah dua indikator utama perekonomian dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sama-sama tertekan dan menutup perdagangan hari ini di zona merah.
IHSG Menyerah Pada Tekanan Jual
IHSG, cerminan denyut nadi pasar modal tanah air, tidak mampu mempertahankan penguatannya. Setelah sempat bergerak fluktuatif di awal sesi, indeks akhirnya menyerah pada tekanan jual dan berakhir di level 7.137,20. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 22,86 poin atau 3,04 persen ke posisi 728,83.
Ini menandai penurunan sebesar 224,91 poin atau 3,05 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi IHSG dibuka melemah 23,30 poin atau 0,32 persen ke posisi 7.338,82. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,74 poin atau 0,36 persen ke posisi 748,45.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG bergerak terkoreksi sepanjang Jumat pekan ini. “Di mana hal ini masih sesuai dengan apa yang kami sampaikan pada report teknikal pagi ini. Dari sisi sentimen, diperkirakan dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas minyak mentah yang kembali menguat setelah Selat Hormuz kembali memanas akibat adanya serangan thd kapal tanker,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.
Ia menambahkan, di sisi lain, investor akan menghadapi waktu perdagangan yang cukup singkat menjelang libur Nyepi dan Lebaran 2026.
Jelang akhir pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.350,28 dan level terendah 7.132,21. Sebanyak 629 saham melemah sehingga bebani IHSG. 104 saham menguat dan 86 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.606.804 kali dengan volume perdagangan saham 28,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.944.
Seluruh sektor saham kompak tertekan. Sektor saham basic dan transportasi turun 3,87%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi melemah 2,86%, sektor saham industri terpangkas 3,46%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 2,18%.
Lalu sektor saham siklikal merosot 3,55%, sektor saham kesehatan melemah 1,19%, sektor saham keuangan terpangkas 1,6%, sektor saham properti tergelincir 1,79%. Lalu sektor saham teknologi melemah 3,41% dan sektor saham infrastruktur merosot 3,64%.
Rupiah Pun Lunglai
Setali tiga uang, mata uang Garuda pun lunglai. Rupiah terpantau tak berdaya menghadapi keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam. Di pasar spot, Rupiah ditutup melemah di angka Rp16.958 per dolar AS, terkoreksi 65 poin atau 0,38 persen dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.893 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.934 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.899 per dolar AS.
Pada pembukaan pagi harinya, nilai tukar rupiah melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.923 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.893 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi seperti dilansir beritasatu, mengatakan, pelemahan rupiah dipicu sentimen global, terutama lonjakan harga minyak dunia setelah Selat Hormuz ditutup.
Menurut dia, pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut akan tetap ditutup. Padahal Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
“Jalur laut sempit ini merupakan titik krusial distribusi energi global. Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar energi dunia,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3/2026).
Selain faktor geopolitik di Timur Tengah, tekanan terhadap rupiah juga datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Ibrahim menjelaskan pelaku pasar mulai memperkirakan The Federal Reserve dapat meninjau kembali rencana penurunan suku bunga jangka pendek apabila inflasi di AS kembali meningkat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan daya tarik dolar AS di pasar global.
Pad sisi lain, investor juga mencermati rilis data inflasi AS pada pekan ini. Data indeks harga konsumen (CPI) yang dirilis Rabu menunjukkan inflasi Februari relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar juga mencermati meningkatnya beban pembayaran bunga utang pemerintah yang berpotensi membatasi ruang fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pasar terus menyoroti beban pembayaran bunga utang membatasi ruang manuver pemerintah untuk mendorong ekonomi melalui akselerasi belanja negara.
Estimasi berdasarkan skema defisit anggaran dikurangi keseimbangan primer, realisasi pembayaran bunga utang telah menembus angka Rp99,8 triliun pada bulan Februari 2026. Jumlah ini setara 27,8% dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun atau 28,8% jika dibandingkan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun pada bulan lalu.
Ibrahim menilai risiko peningkatan beban bunga utang berpotensi bertambah seiring kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN) di tengah ketidakpastian global.
“Risiko pembengkakan beban bunga utang semakin besar menyusul kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah serta tensi panas geopolitik global yang berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara alias SBN,” tutur Ibrahim.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,52%, sedangkan yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun tercatat di posisi 4,09%. Secara akumulasi sejak awal tahun, yield SBN telah meningkat sebesar 55 basis poin.
Sentimen Global Jadi Momok
Sejumlah analis menggarisbawahi beberapa faktor yang menjadi biang kerok lesunya pasar hari ini:
- Hantu Suku Bunga Global: Kekhawatiran akan kembali ketatnya kebijakan moneter di beberapa negara maju, terutama Amerika Serikat, masih menjadi beban bagi pasar saham. Jika inflasi di global kembali “ngamuk”, bank sentral seperti The Fed mungkin akan dipaksa untuk lebih agresif menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya dapat menekan pertumbuhan ekonomi global dan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
- Ketidakpastian Geopolitik: Ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya reda di beberapa kawasan masih menjadi awan mendung bagi investor. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung lebih berhati-hati dan memilih aset aman (safe-haven assets) seperti Dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
- Tekanan Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Setelah sempat mengalami penguatan dalam beberapa waktu terakhir, beberapa investor memanfaatkan kesempatan ini untuk merealisasikan keuntungan (profit taking). Tekanan jual ini ikut berkontribusi pada penurunan IHSG hari ini.
Meskipun pelemahan hari ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebih, pergerakan IHSG dan Rupiah memiliki dampak yang perlu dicermati:
- Pelemahan Rupiah: Jika berlanjut, pelemahan Rupiah dapat meningkatkan biaya impor, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Hal ini berpotensi memicu inflasi jika harga produk akhir di tingkat konsumen ikut dinaikkan. Selain itu, bagi perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing, pelemahan Rupiah akan meningkatkan beban utang mereka.
- Lesunya IHSG: Penurunan IHSG dapat mempengaruhi psikologis investor dan minat mereka untuk berinvestasi di pasar modal. Jika penurunan ini berlanjut dalam jangka panjang, dapat menghambat kemampuan perusahaan untuk menggalang dana melalui pasar modal.
Lalu, Bagaimana Selanjutnya?
Pasar akan sangat memperhatikan perkembangan rilis data ekonomi terbaru, baik dari dalam negeri maupun global. Rilis data inflasi, data ketenagakerjaan, dan pernyataan pejabat bank sentral akan menjadi fokus utama untuk menebak arah kebijakan moneter ke depan.
Bagi investor saham, periode koreksi seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk melirik saham-saham dengan fundamental fundamental fundamental yang kuat dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, disarankan untuk tetap berhati-hati dan melakukan diversifikasi portofolio untuk meminimalkan risiko.
Di sisi lain, bagi pemegang Rupiah, disarankan untuk tidak panik dan menghindari spekulasi. Pelemahan Rupiah saat ini dinilai masih dalam batas wajar dan dipengaruhi oleh faktor eksternal. Namun, perlu tetap waspada terhadap perkembangan kondisi global.
Meskipun pekan ini ditutup dengan nada muram, kita harap minggu depan pasar keuangan Indonesia dapat kembali bangkit dan menunjukkan taringnya. Mari kita saksikan bersama bagaimana dinamika pasar akan bergulir. ***














