Ekonomi
Rupiah Hari Selasa 8 September 2026: Ditopang Amunisi Cadev Berbalik Menguat, Rabu Berpotensi Menguat Terbatas

Cadangan devisa yang diumumkan meningkat akhir Agustus oleh Bank Indonesia memberi kekuatan bagi nilai tukar rupiah untuk berbalik menguat dari posisi melemah pada perdagangan Selasa (8/9/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Penampilan rupiah membanggakan hari ini, Selasa (8/9/2026), karena selain mampu berbalik menguat dari posisi melemah juga dorongan penguatan ditopang oleh kekuatan dalam negeri. Apalagi kalau bukan cadangan devisa Indonesia yang melonjak.
Nilai tukar rupiah sempat terpruk ke zona merah saat pembukaan perdagangan valuta asing ketika dibuka melemah 5 poin atau 0,03 persen dari level Rp17.640 per dolar AS sebelumnya menjadi Rp17.645 per dolar AS.
Namun secara perlahan namun pasti, rupiah terus bergerak positif memasuki zona hijau sehingga akhirnya mampu berbalik arah menguat saat penutupan. Mata uang Garuda berhasil menguat tipis 8 poin atau sekitar 0,05 persen ke posisi Rp17.632 per dolar AS, membalikkan posisi dari level sebelumnya di Rp17.640 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mencatatkan penguatan di level Rp17.618 dari sebelumnya Rp17.653 per dolar AS.
Dalam pantuan perdagangan valas kawasan Asia, dengan penguatan itu maka rupiah bergabung dengan yen Jepang, dolar Taiwan dan won Korea. Yen menguat 0,22%, dolar Taiwan menanjak 0,10%, dan won Korea naik 0,06%.
Sementara deretan yang melemah terhadap dolar AS tercatat antara lain dolar Hong Kong terkoreksi 0,02%, dolar Singapura melemah 0,02%, yuan China melandai 0,02%, ringgit Malaysia turun 0,29%, dan baht Thailand melorot 0,26% terhadap dolar AS.
Pasokan Amunisi Cadangan Devisa
Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini utamanya ditopang oleh kabar segar dari dalam negeri. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia per akhir Agustus 2026 melonjak menjadi 146,5 miliar dolar AS, naik dari posisi akhir Juli sebesar 145,3 miliar dolar AS.
Peningkatan amunisi devisa ini dipicu oleh beberapa faktor utama:
- Penerimaan Pajak dan Jasa: Setoran kas negara yang solid dari sektor perpajakan dan penerimaan jasa.
- Penarikan Pinjaman Luar Negeri: Cairnya dana pinjaman luar negeri pemerintah.
- Langkah Stabilisasi BI: Efektivitas Bank Indonesia dalam mengawal stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Posisi cadev saat ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor, jauh berada di atas standar kecukupan internasional (sekitar 3 bulan impor). Hal ini memberikan sinyal positif bagi para investor bahwa ketahanan eksternal ekonomi Indonesia masih sangat solid.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dipengaruhi posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang meningkat. Sedangkan salah satu sentiment datang dari eksternal terkait ketegangan di Selat Hormuz.
“Iran selain akan menyasar aset energy Amerika juga menyatakan akan memberlakukan zona pembatasan baru di Teluk serta koridor pelayaran alternatif; langkah ini memicu kekhawatiran bahwa pengetatan pengawasan maritim dapat semakin memperlambat lalu lintas kapal tanker yang melintasi jalur perairan strategis tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Namun, lalu lintas justru meningkat di Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur perairan utama lainnya bagi kapal-kapal pengangkut komoditas. Di bagian lain ada penyeimbang setelah Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai pengaturan di Selat Hormuz sudah hampir tercapai, yang berpotensi menyediakan mekanisme untuk meredakan gangguan pelayaran.
Fokus pasar selanjutnya adalah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan akan rilis pada hari Kamis, diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis pada hari Jumat. Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Pasar terus memperhitungkan peluang sekitar 60 persen bagi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan, yang mencerminkan dampak dari laporan nonfarm payrolls AS yang kuat pada pekan lalu.
Prediksi Rabu, 9 September 2026
Memasuki perdagangan Rabu (9/9/2026), pergerakan rupiah diproyeksikan masih akan cenderung fluktuatif namun berpotensi menguat terbatas.
Faktor Penggerak:
- Sentimen Domestik: Posisi cadangan devisa yang kuat dan berlanjutnya arus masuk modal asing (capital inflow) diperkirakan masih menjadi penahan utama sentimen negatif.
- Sentimen Eksternal: Pelaku pasar global mencermati ekspektasi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) menjelang pertemuan FOMC pertengahan September 2026. Moderasi data ekonomi AS turut membendung keperkasaan indeks dolar AS (DXY).
Rentang Proyeksi Kurs:
Para analis memperkirakan pergerakan rupiah pada Rabu (9/9/2026) akan bergerak dalam rentang Rp17.610 – Rp17.660 per dolar AS. Jika tekanan modal keluar minim, rupiah berpeluang menguji level psikologis Rp17.600 per dolar AS.
Sedangkan Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.630-Rp17.670 per dolar AS. ***














