Connect with us

Ekonomi

Rupiah Rabu 13 Mei 2026: Bangkit Perkasa Jadi Mata Uang Terkuat Asia, Potensi Melemah Mengancam

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah Rabu 13 Mei 2026: Bangkit Perkasa Jadi Mata Uang Terkuat Asia, Potensi Melemah Mengancam

Rupiah akhirnya mampu keluar dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) ketika ditutup menguat pada perdagangan valuta asing Rabu (13/5/2026). (Foto AI/Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA:  Rupiah  akhirnya menunjukkan taringnya di tengah gempuran ketidakpastian global dengan bangkit perkasa terhadap tekanan dolar Amerika Serikat (AS), Rabu (13/5/2026).

Setelah sempat tertekan hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada awal perdagangan, mata uang Garuda berhasil melakukan rebound fantastis dan ditutup menguat signifikan pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah resmi ditutup menguat di level Rp 17.476 dari sebelumnya Rp17.529 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Menguat ke Bawah Rp 17.500 per Dolar AS, BI Soroti Dampak Konflik Timur Tengah

Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 0,3% atau naik 53 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.529.

Rupiah sudah tampil meyakinkan sejak pembukaan perdagangan valuta asing ketika dibuka menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.515 per dolar AS.

Advertisement

Sementara itu Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.496 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.514 per dolar AS.

Sang Juara di Asia

Penguatan ini tidak hanya sekadar angka, namun menempatkan Rupiah sebagai mata uang dengan performa terbaik di Asia hari ini. Rupiah sukses mengungguli mata uang regional lainnya seperti:

  • Won Korea Selatan: Menguat 0,29%.
  • Ringgit Malaysia: Terangkat 0,16%.
  • Baht Thailand: Terkerek 0,15%.
  • Peso Filipina: Naik 0,12%.

Baca Juga : Rupiah Selasa 12 Mei 2026: Kembali Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Alarm Stabilitas Moneter Nasional

Di sisi lain, beberapa mata uang utama justru harus mengakui keunggulan rupiah dengan mencatat pelemahan, seperti yen Jepang yang terkikis 0,11% dan rupee India yang turun 0,1%.

Buah Upaya Penyelamatan

Kembalinya kekuatan Rupiah ini tidak lepas dari langkah-langkah strategis di pasar domestik. Menteri Keuangan, Purbaya, menyatakan kesiapannya mendukung Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas kurs melalui skema intervensi di pasar surat berharga menggunakan dana stabilitas obligasi.

Advertisement

Meskipun sempat ada kekhawatiran akibat tekanan inflasi global dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan dolar secara musiman, intervensi pasar yang dilakukan BI di pasar spot maupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) terbukti efektif meredam gejolak.

Baca Juga : Ya Ampun…. Rupiah Terhempas Rp17.503 Perdolar AS, Rekor Baru Terlemah Sepanjang Masa

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026), mengemukakan, penguatan rupiah terjadi meski indeks dolar AS ikut menguat di pasar global, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik Timur Tengah serta tekanan inflasi di AS. Sentimen pasar tetap rapuh setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran

“Negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis setelah penolakan proposal yang didukung AS, di tengah kekhawatiran gangguan Selat Hormuz yang merupakan jalur transit minyak global utama,” kata Ibrahim seperti dilansir periskop.

Ketegangan tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia, yang berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi dan memperumit arah kebijakan suku bunga.

Dari sisi data ekonomi, inflasi AS juga masih menunjukkan tekanan yang tinggi. Tercatat CPI AS naik 0,6% pada April, sementara inflasi tahunan meningkat menjadi 3,8%, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan 2023, dengan inflasi inti juga berada di atas ekspektasi.

Advertisement

Dari dalam negeri, pemerintah menegaskan posisi utang masih berada dalam batas aman meski mengalami kenaikan. Posisi utang pemerintah mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026, naik dari Rp9.637,90 triliun pada akhir Desember 2025.

Baca Juga : Rupiah Senin 11 Mei 2026: Semakin Loyo namun Keyakinan Masyarakat Tetap Terjaga, Besok Bagaimana?

Pemerintah menekankan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih terjaga jauh di bawah batas ketentuan. Rasio utang terhadap PDB berada di level 40,75%, masih di bawah batas aman 60% PDB, sehingga dinilai masih dalam koridor fiskal yang sehat.

Dari total tersebut, struktur utang masih didominasi instrumen domestik. Sebesar Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22% dari total utang pemerintah berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Stabilitas nilai tukar juga didukung langkah intervensi Bank Indonesia di pasar global maupun domestik. Bank sentral disebut aktif menjaga volatilitas melalui pasar offshore, spot, DNDF, hingga pembelian SBN di pasar sekunder.

Menjaga Tren Positif

Advertisement

Keberhasilan rupiah bangkit dari level psikologis Rp 17.500 memberikan angin segar bagi dunia usaha yang sempat waswas. Para pelaku pasar kini menantikan konsistensi kebijakan pemerintah dan BI dalam menjaga tren positif ini agar beban impor industri tidak kian membengkak.

Baca Juga : Rupiah Jumat 8 Mei 2026: Lagi-lagi Melemah, Pekan Depan Tetap Menggantung

Untuk ke depannya pasar kini menunggu rilis indeks harga produsen (PPI) AS untuk membaca arah inflasi selanjutnya, di tengah penurunan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Investor juga mencermati agenda diplomasi global, termasuk rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei di Beijing, yang akan membahas isu perdagangan, Iran, Taiwan, dan rantai pasok global.

Ibrahim Assuaibi memperkirakan pada perdagangan Senin (18/5/2026) depan, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.470-Rp17.530, dengan rentang sepekan di Rp17.420-Rp17.650.

Nilai tukar rupiah diprediksi mengalami tekanan dan berpotensi melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin. Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penantian pasar terhadap hasil pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan China di Beijing. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement