Nasional
Gempa M7,3 Sulut dan Malut: Aktivitas Seismik Masih Berlangsung, Badan Geologi Terjunkan Tiga Tim Tanggap Darurat

Badan Geologi berangkatkan tiga Tim Tanggap Darurat ke lokasi gempa yang menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah terjadi 921 gempa susulan sejak gempa utama mengguncang Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut), Kamis (2/4/2026) lalu. (Kementerian ESDM)
FAKTUAL INDONESIA: Aktivitas seismik dari gempa bumi M7,3 yang mengguncang Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut), Kamis (2/4/2026), hingga Minggu (5/4/2026),
masih berlangsung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 921 gempa susulan sejak gempa utama lalu.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan memerlukan waktu lebih dari satu pekan untuk kembali menuju kondisi keseimbangan. Dalam rangka memberikan pelayanan teknis dalam mitigasi bencana geologi secara cepat dan tepat, Badan Geologi menerjunkan tiga tim tanggap darurat ke wilayah terdampak gempa bumi di Sulut dan Malut.
Tim pertama yang tiba di Manado pada Minggu pagi (5/4/2025) langsung menuju lokasi bencana untuk melakukan penyelidikan, pemetaan pascabencana, pemantauan intensif, serta memberikan rekomendasi teknis mitigasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
“Sebagai wujud dan tanggung jawab Badan Geologi memberikan pelayanan teknis dalam mitigasi bencana geologi secara cepat dan tepat, Badan Geologi telah memberangkatkan satu dari Tim Tanggap Darurat (TD) ke lokasi bencana gempa bumi Sulawesi Utara kemarin. Tim selanjutnya akan diberangkatkan pada tanggal 6 April dan 8 April,” ujar Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria di Bandung, Minggu seperti dilansir laman Kementerian ESDM.
Lana menjelaskan bahwa tim yang dikirim terdiri atas para ahli pemetaan struktur geologi, ahli kegempaan, dan praktisi mitigasi bencana. Di lapangan, tim akan fokus mengidentifikasi karakteristik gempa serta dampaknya terhadap stabilitas tanah dan struktur bangunan di sekitar wilayah terdampak.
Gempa bumi M7,3 yang mengguncang Provinsi Sulawesi Utara pada 2 April 2026 merupakan salah satu gempa yang bersumber dari aktivitas zona penunjaman ganda. Peristiwa ini ditandai oleh mekanisme sesar naik berarah relatif barat daya-timur laut, yang mencerminkan arah zona penunjaman dengan kemiringan ke tenggara.
“Mekanisme sesar naik tersebut telah menghasilkan deformasi lantai samudera dan memicu terjadinya tsunami yang terekam di beberapa stasiun pencatat pasang surut yang dimiliki oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) setinggi 20-75 cm,” ujar Lana.
Berdasarkan laporan kerusakan di Maluku Utara dan Sulawesi Utara, lokasi yang mengalami kerusakan umumnya berada di atas tanah lunak atau batuan yang belum kompak. Kondisi ini menunjukkan bahwa gempa tersebut berpotensi menimbulkan bahaya ikutan, seperti retakan permukaan tanah, likuefaksi, dan gerakan tanah, sehingga diperlukan penyelidikan lebih lanjut.
Karena wilayah terdampak termasuk kawasan rawan gempa bumi menengah hingga tinggi, masyarakat diimbau tetap waspada, mengikuti arahan petugas BPBD setempat, serta tidak mudah terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa bumi maupun tsunami. ***














