Internasional
Hizbullah Pantang Menyerah Hadapi Agresi Amerika dan Israel, Serang Sistem Radar Iron Dome Kiryat Elazar

Pasukan Hizbullah di Lebanon bertekad terus memberikan perlawanan terhadap agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dan bahkan sudah menyerang fasilitas militer Israel
FAKTUAL INDONESIA: Sekutu fanatik Iran, Hizbullah, bertekad tidak akan menyerah menghadapi agresi gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kepala Hizbullah Kelompok Lebanon yang didukung Iran, Naim Qassem menegaskan, tidak akan menyerah melawan gempuran Amerika – Israel.
“Kita menghadapi agresi… pilihan kita adalah menghadapinya sampai pengorbanan terakhir, dan kita tidak akan menyerah,” kata Qassem dalam pernyataan yang disiarkan di saluran TV partainya.
Menurut laporan aljazeera, ini adalah pidato pertama pemimpin Hizbullah sejak dimulainya serangan AS-Israel terhadap Iran.
Hezbollah mengatakan mereka menargetkan situs pertahanan udara Israel dengan drone.
Baca Juga : Israel Ancam Serang Lebanon jika Hizbullah Ikut Campur dalam Perang Amerika – Iran
Dalam sebuah pernyataan, kelompok itu mengatakan para pejuangnya meluncurkan sejumlah drone ke sistem radar Iron Dome di situs Kiryat Elazar, yang mereka gambarkan sebagai pangkalan pertahanan udara utama di Haifa.
Hezbollah juga mengatakan mereka menargetkan Pangkalan Udara Palmachim di selatan Tel Aviv, 140 km (87 mil) dari perbatasan Lebanon.
Kelompok itu mengatakan serangan itu dilakukan pada hari Selasa sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap kota-kota di Lebanon, termasuk pinggiran selatan Beirut.
Hezbollah mengatakan para pejuangnya meledakkan sebuah alat peledak dan bentrok dengan pasukan Israel di dekat kota Khiam, Lebanon selatan.
Dalam sebuah pernyataan, kelompok itu mengatakan serangan itu terjadi pada pukul 18.30 waktu setempat (16.30 GMT) setelah para pejuangnya memantau apa yang mereka sebut sebagai pasukan Israel yang mencoba maju ke arah daerah tersebut.
Baca Juga : Komandan Seniornya Tewas, Hizbullah Langsung Serukan Perlawanan setelah Serangan Mematikan Israel di Lebanon
Hezbollah mengatakan ledakan itu diikuti oleh pertempuran langsung dan mengklaim ada korban jiwa di antara pasukan Israel, menambahkan bahwa baku tembak masih berlangsung.
Dalam pernyataan terpisah, Hezbollah mengatakan mereka juga menembakkan rentetan roket ke arah pasukan Israel yang berkumpul di kota Kiryat Shmona, di Israel utara. Insiden itu terjadi pada pukul 17.00 waktu setempat (15.00 GMT).
Kelompok bersenjata itu mengatakan helikopter kemudian turun tangan untuk mengevakuasi tentara yang terluka.
Balasan Pelanggaran 15 Bulan
Hezbollah mengatakan serangannya terhadap Israel adalah ‘tanggapan atas pelanggaran selama 15 bulan’
Baca Juga : Untungkan Israel, Hizbullah Tolak Rencana Perlucutan Senjata yang Ditetapkan Pemerintah Lebanon
Sekretaris Jenderal Hezbollah, Naim Qassem, mengatakan kelompok Lebanon tersebut telah meluncurkan rudal ke Israel sebagai balasan atas “pelanggaran selama 15 bulan”.
Qassem mengatakan kelompok tersebut menargetkan posisi Israel hingga Tel Aviv dengan setidaknya 15 serangan.
Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah mulai berlaku pada November 2024, bertujuan untuk mengakhiri konflik intens selama lebih dari setahun yang menyebabkan Israel menewaskan sekitar 4.000 orang dan melukai 17.000 lainnya.
Berdasarkan gencatan senjata tersebut, tentara Israel seharusnya menarik diri dari Lebanon selatan pada Januari 2025, tetapi malah hanya sebagian menarik diri dan terus mempertahankan kehadiran militer di lima pos terdepan.
Menurut Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), Israel telah melanggar gencatan senjata tersebut lebih dari 10.000 kali. ***














