Nasional
Menag Nasaruddin Tegaskan Pendidikan Agama Mengandung Unsur Indoktrinasi Perbedaan Merusak Keutuhan Bangsa

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak tokoh agama Garut kenalkan kurikulum cinta dalam pendidikan agama. (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan, pendidikan agama yang mengandung unsur indoktrinasi perbedaan dapat merusak keutuhan bangsa. Menag Nasaruddin menekankan pentingnya penanaman nilai cinta kasih sejak dini agar Indonesia tetap utuh dalam kedamaian.
“Apa jadinya bangsa Indonesia kalau anak-anak kita diajarkan indoktrinasi perbedaan oleh guru-guru agamanya? Maka dari itu, kita perlu mengajarkan cinta sejati agar Indonesia tetap utuh,” kata Menag Nasaruddin di Aula Pondok Pesantren Al Musaddadiyah.
Turut hadir, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM) Ali Ramdhani, Bupati Garut Abdusy Syakur, Plt Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat Ali Abdul Latif, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Garut Saepullah, serta Pembina Pondok Pesantren Al Musaddadiyah Tantowi Jauhari Musaddad.
Nasaruddin mengajak para tokoh agama di Kabupaten Garut untuk mengenalkan kurikulum cinta dalam pendidikan agama. Pesan ini Menag sampaikan di Aula Pondok Pesantren Al Musaddadiyah.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Tekankan Pentingnya Merubah Pola Pikir Terhadap Alam, ASN Kemenag Penjaga Moral Bangsa
“Apa yang dimaksud kurikulum cinta? Bagaimana mengajarkan agama, tapi tidak mengajarkan kebencian kepada orang beragama lain,” ungkap Menag, Rabu (16/7/2025).
Menurut Menag, pendidikan agama yang mengandung unsur indoktrinasi perbedaan dapat merusak keutuhan bangsa. Ia menekankan pentingnya penanaman nilai cinta kasih sejak dini agar Indonesia tetap utuh dalam kedamaian.
Nasaruddin juga menyampaikan refleksi mendalam terkait ajaran Al-Qur’an. Ia menuturkan bahwa jika Al-Qur’an dipadatkan menjadi satu nilai inti, maka kata kuncinya adalah cinta.
“Ada analisis bahwa kalau Al-Qur’an itu dipadatkan, maka pemadatannya adalah dengan surah Al-Fatihah, 7 ayat. Dipadatkan lagi, pemadatannya adalah ayat yang pertama, yaitu Bismillahirrahmanirrahim. Intinya basmalah itu adalah ar-Rahman dan ar-Rahim. Rahman dan Rahim ini berasal dari akar kata yang sama, rahima. Apa artinya rahima? Cinta,” jelasnya.
“Jadi Al-Qur’an itu kalau dipadati dengan satu kata, maka kosa katanya itu adalah cinta,” lanjutnya.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Hadiri Puncak Sannipata Umat Buddha Indonesia 2025, Merawat Keberagaman dan Membangun Harmoni Bangsa
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa agama sejatinya membawa pesan kasih sayang, bukan kebencian. “Jadi kalau ada orang mengajarkan agama tapi mengajarkan kebencian, itu bukan mengajarkan agama, tapi mengajarkan kebalikan dari agama,” tegasnya.
Menutup pesannya, Nasaruddin menekankan pentingnya keselarasan antara pemahaman agama dengan perilaku umat. Semakin dekat hubungan seseorang dengan agamanya, semakin damai kehidupan yang terwujud.
“Semakin berjarak antara umat dengan agamanya, maka semakin banyak kejahatan yang terjadi. Semakin menyatu antara penganut dengan agamanya, maka semakin indah kehidupannya. Inilah tentang kita,” pungkasnya.
Silaturahmi ini menjadi momen strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan tokoh agama dalam membangun harmoni sosial, sekaligus menegaskan kembali peran pesantren dan lembaga keagamaan dalam menyemai nilai-nilai universal kemanusiaan dan cinta kasih.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan jajaran pengurus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Distrik VIII DKI Jakarta di kantor pusat Kementerian Agama. (Kemenag)
Baca Juga : Menag Nasaruddin Ingatkan pada Lulusan PTKIN, Jangan Sampai Secara Sadar atau Tidak Menyebarkan Kebencian
Ekoteologi dan Kurikulum Cinta
Sementara itu Menag Nasaruddin membicarakan pentingnya ekoteologi dan kurikulum cinta dalam memupuk pesatuan antaragama saat menerima kunjungan jajaran pengurus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Distrik VIII DKI Jakarta di kantor pusat Kementerian Agama.
“Program yang kami bawa adalah kurikulum cinta dan ekoteologi. Selama ini kita sering melihat yang mengajarkan agama itu menekankan pada perbedaan dan kebencian pada orang yang di luar mereka. Bagi kita, orang yang mengajarkan kebencian itu bukan mengajarkan agama,” ucap Menag Nasaruddin Umar, di Jakarta, Selasa (15/7/2025).
Hadir, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Jeane Marie Tulung, Kepala Bidang Marturia Pdt. Christopel Pasaribu, Perwakilan HKBP Resor Tebet Pdt. Martunas Manullang, Ketua Umum Panitia Tahun Transformasi HKBP Distrik VIII Kamidun Padiangan, dan anggota majelis Pekerja Sinode Distrik (MPSD) St. Ginagan Nainggolan, dan St. Andar Siburian.
Selain kerukunan antarmanusia, lanjut Menag, hal yang tidak kalah penting adalah menjaga keharmonisan kehidupan manusia dengan alam dan lingkungan. Sebab, semuanya adalah sama-sama makhluk Tuhan. Karenanya, Menag mengajak HKBP untuk ikut memperkenalkan ekoteologi.
Baca Juga : Menag Nasaruddin: Setelah Timur Tengah, Indonesia Tempat Lahirnya Peradaban Islam Baru
“Saat ini penting menjaga hubungan antar umat beragama dengan lingkungannya,” ujarnya.
Sekretaris Distrik Pdt. Sakarias Simanjuntak menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen mendukung program-program Kementerian Agama. “HKBP akan mendukung program-program Kementerian Agama, karena sudah menjadi janji gereja atas kehadirannya untuk berkontribusi pada negara dan bangsa,” jelas Pdt. Sakarias.
Ia juga mengungkapkan bahwa Gereja HKBP selalu beradaptasi dengan zaman sesuai dengan kebutuhan umat, namun tidak meninggalkan prinsip ajaran. “Gereja HKBP bisa bertahan 168 tahun ini karena mampu berbenah dan beradaptasi dengan zaman,” katanya. ***














