Connect with us

Olahraga

Diskusi Tinju, Sejahterakan Petinju dengan Bayaran Setimpal

Diterbitkan

pada

Ketua Pertina DKI Jakarta Hengky Silatang bicara dalam diskusi tinju bertajuh HSS  dan Masa Depan Tinju Indonesia. (Markon Piliang).

Ketua Pertina DKI Jakarta Hengky Silatang bicara dalam diskusi tinju bertajuh HSS dan Masa Depan Tinju Indonesia. (Markon Piliang).

FAKTUAL-INDONESIA: Kesejahteraan petinju harus diperhatikan oleh para pelaku olahraga bakupukul tersebut, karena selama ini bayaran petinju sangat murah sehingga banyak petinju yang hidupnya sengsara dikemudian hari.

Hal inilah yang menjadi perhatian dari para pelaku olahraga tinju, baik itu promotor, manajer, pembina, pengamat, dan para wakil badan tinju dalam sebuah diskusi bertajuk “HSS & Masa Depan Tinju Indonesia” yang berlangsung di Holywings Gatsu, Jakarta Selatan, Kamis (17/3/2022).

Banyak hal yang dibahas, mulai dari bayaran petinju sampai regulasi yang tidak jelas. Termasuk juga jenjang karir petinju yang dianggap lebih baik kalau memulainya dari tinju amatir.

Mereka yang hadir sebagai pembicara adalah Pengamat tinju Mahfudin Negara, promotor Armin Tan Jaya, dokter ring Putu, Esther dari Asosiasi Tinju Indonesia (ATI), Erik dari Komisi Tinju Indonesia (KTI), pengelola Holywings Ivan Tanujaya dan Hengky Silatang dari Pertina DKI Jakarta.

M Nigara, wartawan senior yang juga komentar tinju di TV One mengatan, menjadi petinju professional di Indonesia hidupnya lebih susah karena bayaran yang sangat kecil. Oleh karenanya tidak heran kalau satu orang petinu yang tampil pada satu pertandingan di bawah bendera KTI, pada waktu yang berbeda mereka bisa tampil dengan bendera ATI.

“Hal ini menyebabkan petinju tidak fokus. Yang penting bagi petinju mereka bisa naik ring dan dapat bayaran. Kondisi inilah yang membuat dunia tinju Indonesia sebrawut,” kata Nigara.

Advertisement

Nigara menilai banyaknya badan tinju di Indonesia akan merugikan petinju. Karena mereka tidak punya program yang terukur dalam setiap mempersiapkan diri dalam Latihan.

Karenanya, Nigara sangat mendukung event tinju Holywings Sport Show (HSS) yang rencananya akan dilakukan secara berkala setelah pergelaran perdana 27 Februari lalu.

Ivan Tanuwijaya selaku pihak pengelola Holywings sudah sepakat untuk menggelar HSS secara berkelanjutan demi memajukan tinju professional Indonesia. Bahkan ia pun berjanji akan membayar petinju dengan nilai yang wajar, setidaknya Rp50 juta sekali tampil.

“Mungkin bayaran yang diberikan Holywings yang terbesar ketimbang ajang serupa yang pernah digelar di beberapa stasiun televisi,” kata Ivan.

Menurut Ivan, dengan bayaran yang cukup pada event yang digelarnya membuat peluang petinju hidup sejahtera terbuka.

Advertisement

Sementara itu dokter ring Putu mengatakan, tidak adanya buku hitam tentang catatan track record petinju akan sangat menyulitkan untuk menentukan kapan petinju boleh tampil lagi setelah mereka naik ring terakhir.

“Petinju yang kalah KO harus ada jeda tidak boleh tampil selama 45 hari. Kalau dua kali kalah KO harus istirahan 90 hari, dan begitu seterusnya. Tapi di Indonesia ada petinju yang kalah KO enam kali masih boleh main pada kejuaraan nasional, ini berbahaya,” katanya.

Maka dari itu, lanjut dokter Putu, kondisi petinju yang tidak siap tampil harusnya tidak boleh dipaksakan naik ring. Akibatnya bisa fatal pada kematian seperti yang terjadi pada pertandingan 27 Februari lalu.

Promotor tinju pro Indonesia Armin Tan Jaya yang juga hadir pada kesempatan tersebut mengatakan, untuk petinju Indonesia yang tampil di HSS kalau bisa hanya main 10 ronde saja. Karena misi dari penyelenggara Holywings Sport Show ini adalah untuk pembinaan dan mencari bibit-bibit atlet berbakat yang masih muda.

“Kami ingin dari ajang seperti HSS ini akan muncul petinju-petinju berbakat yang masih muda, sehingga dapat dibina lebih serius menjadi petinju professional yang potensial,” katanya.

Advertisement

Sedangkan Ketua Pertina DKI Jakarta Hengky Silatang menegaskan, petinju pemula yang ingin mengeluti tinju sebaiknya dimulai dari amatir. Karena mereka yang melalui tinju amatir lebih teruji kemampuannya ketimbang yang langsung jadi petinju professional.

“Di Amerika Serikat atau Mexico 90 persen petinjunya memulai karir dari amatir. Selain itu, hidup mereka lebih terjamin karena kalau sudah masuk Pelatda langsung terima uang saku setiap bulan. Beda dengan professional,” katanya.

Lanjutkan Membaca
Advertisement