Olahraga
Penggiat Olahraga Deddy Prasetyo Soroti Bahaya Masa Pertumbuhan Otot Calon Bintang Atlet Indonesia di Era Tehnologi Digital

Deddy Prasetyo. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Usia Kemerdekaan RI ke-80 semestinya sudah bisa menjadikan ukuran kedewasaan berfikir seluruh warganya, tak terkecuali di bidang olahraga prestasi. Tapi sayangnya, justru sebaliknya banyak pelaku olahraga prestasi senang dengan “kebohongan yang menyenangkan” (comforting lies) dan benci dengan “kebenaran yang tak menyenangkan” (unpleasant truths).
” Makanya olahraga prestasi Indonesia nggak akan maju atau lambat majunya dalam mencetak prestasi dunia. Ya, salah satunya karena faktor tersebut,” kata penggiat olahraga tenis, Deddy Prasetyo, ditemui di sela-sela kesibukan melatih anak murid didiknya di klub tenis miliknya DETEC di bilangan Benhil, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Baca Juga : Puluhan Pelatih “Berguru Ilmu Tenis” kepada Pelatih Ternama Deddy Prasetyo di Pelatihan “Succesful Coaching” di Puncak Cipanas
Dituturkan Deddy, mayoritas masyarakat sekarang ini cenderung justru menikmati dan senang kebohongan yang menyenangkan. Justru malah kurang suka kebenaran yang tak menyenangkan.
“Itu yang terjadi di era digital dimana medsos menjamur bak jamur di musim hujan, dan terbaru tehnologi A1 dijadikan acuan oleh masyarakat luas meski kebenaran belum diuji dan terbukti. Banyak ditebar cara latihan atau melatih yang tidak tepat disuguhkan di medsos seperti tiktok atau YouTube, ” tutur Deddy. ” Masyarakat malah enggan datang berlatih kepada pelatih yang mumpuni,” sambung Deddy.
Dari fakta di atas, sambung Deddy, hampir dapat dipastikan hasil yang didapat tidak akan maksimal dan malah bisa cenderung salah. “Era digitalisasi hendaknya dicermati secara positif, tidak membabi buta karena takut dibilang ketinggalan jaman,” sebut pelatih yang telah banyak melahirkan dan mencetak bintang tenis papan atas dan memperkuat Timnas Tenis Indonesia.
Deddy menambahkan, sebagai penggiat dan pembina olaharaga dirinya dibayangi kecemasan karena anak-anak sekarang kurang dibiasakan olahraga di lapangan dan lebih banyak main game dengan gadget-nya.
Baca Juga : Final Grand Slam Wimbledon 2025 Sinner Kontra Alcaraz: Pelatih Kondang Tenis Nasional Deddy Prasetyo Sebut Sulit Tebak Pemenangnya, Kekuatan Imbang
“Tanpa disadari kurang gerak olahraga di alam terbuka karena asik main gadget, di masa pertumbuhan otot-otot yang semestinya digerakkan agar tumbuh kuat dan sehat tidak berjalan dengan baik,” terang Deddy. ” Ini jadi ancaman baru untuk menemukan talenta-talenta calon bintang olaharaga Indonesia di masa ke depan. Dan ini harusnya dapat perhatian para pemangku kebijakan olahraga di Tanah Air dengan menambah jam pendidikan jasmani di sekolah-sekolah demi menjaga pertumbuhan otot anak-anak yang jadi cikal bakal calon bintang olahraga Indonesia di masa mendatang. Kepada orang tua yang putra-putri ingin jadi bintang olaharaga prestasi sebaiknya juga membatasi putra-putrinya bermain gadget. Di sejumlah negara maju saat ini telah memberlakukan hal ini karena memang penting,” jelasnya.
Deddy menyarankan pada iusia dini (5/6-12 tahun) anak-anak harus berpartisipasi dalam beberapa cabang olahraga kesukaan (generalisasi), seiring dan sejalan dengan keikut sertaannya dalam menggeluti olahraga khusus yang akan ditekuni kelak setelah pubertas (spesialisasi). “Jangan atau tidak boleh spesialisasi awal, hanya partisipasi pada satu cabang olahraga. Karena di masa pertumbuhan anak, selurut otot mereka harus bergerak agar tumbuh kuat untuk nantinya menjadi pendukung utama/penopang terhadap olahraga spesialisasi yang akan ditekuni,” jelas Deddy. ****














