Nasional
Pengerupukan Nyepi 2022, Ogoh-ogoh Terserang Covid-19 Diarak di Denpasar Bali

Pandemi virus corona (Covid-19) menjadi inspirasi dalam pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nepi 2022
FAKTUAL-INDONESIA: Ogoh-ogoh pun ada yang terserang virus corona (Covid-19). Bahkan ogoh-ogoh ini ikut diarak pada malam pengerupukan, Rabu (2/3/2022) malam, di kawasan Banjar Dukuh Mertajati, Sidakarya, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali.
Ogoh-ogoh bertajuk “Gerubug” karya Sekaa Teruna Teruni (ST) Tunas Muda, Banjar Dukuh Mertajati Sidakarya, Denpasar menjadi ogoh-ogoh terbaik di Denpasar.
Ketua ST Tunas Muda, I Putu Ade Widiantara mengatakan, ogoh-ogoh ini menampilkan sosok perempuan yang menggambarkan sumber kehidupan.
Perempuan ini memiliki enam tangan dan memegang beberapa perkakas yang mewakili sektor kehidupan.
Ada genta simbol keagamaan, suntikan simbol kesehatan, panggul simbol kesenian, cangkul untuk pertanian peternakan, pancing perikanan, hingga lontar simbol pendidikan.
Dengan mengenakan kemben masker, perempuan itu terbelit oleh rantai yang menyimbulkan serangan covid-19.
“Semunya itu terbelenggu oleh rantai virus korona. Kami simbolkan dengan rantai yang membelit tubuh perempuan ini,” tutur Ade.
Lewat ogoh-ogoh ini ST Tunas Muda ingin menunjukkan rantai Covid-19 yang meluluhlantakkan segala sendi kehidupan.
Adapun sebanyak 215 ogoh-ogoh diarak saat pangerupukan di Denpasar.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara mengatakan, jumlah ini tersebar di empat kecamatan.
“Untuk di Denpasar yang terdaftar mengikuti pawai ogoh-ogoh yakni 215 orang,” kata Raka
Dalam proses pawai ogoh-ogoh pelaksanaannya hanya dilakukan di wilayah banjar adat dengan peserta maksimal 25 orang.
Ogoh-ogoh yang belum terdata atau belum melapor tidak diizinkan untuk ikut pawai.
Selain itu, peserta yang akan melakukan pawai ogoh-ogoh berjumlah 25 orang wajib sudah divaksin hingga dosis kedua.
Penonton juga tidak diperbolehkan ikut mengikuti ogoh-ogoh tersebut keliling banjar.
“Ogoh-ogoh tetap keliling banjar, penonton cukup diam di depan rumah, tidak usah diikuti ogoh-ogohnya.
Hujan deras disertai angin kencang dan petir menguyur Kota Denpasar di tengah prosesi pengarakan Ogoh-ogoh pada malam pengerupukan itu.
Namun pawai ogoh-ogoh tetap meriah karena sudah lama masyarakat menantikannya.
Sebuah tradisi yang tidak ditemui di masa pandemi COVID-19, sejak pandemi melanda sekitar 2 tahun lalu, ogoh-ogoh turut ditiadakan karena dinilai bukan pakem Hari Raya Nyepi melainkan sebuah tradisi.
Namun kini, lampu hijau diberikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster yang mengizinkan pengarakan ogoh-ogoh yang dibatasi di wewidangan banjar.
Semarak tradisi pengarakan ogoh-ogoh saat malam pengerupukan begitu terasa, iringan-iringan baleganjur, iring-iringan pemudi banjar membawa obor dan tetabuhan begitu terasa.
Pawai ogoh-ogoh juga berlangsung di seluruh Bali. Kesemarakan yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat ini seperti menghidupkan kembali Pulau Dewata.
Berbagai Daerah
Selain di Bali, umat Hindu di berbagai daerah di Indonesia juga melaksanakan pawai ogoh-ogoh.
Umat Hindu Desa Ngaru-aru, Kecamatan Banyudono, Komunitas Ngesti Darma, membuat ogoh-ogoh sebagai lambang Sarwa Buta Kala.
Ogoh-ogoh setinggi 4,5 meter diarak sekeliling desa sebelum akhirnya di bakar di depan Pura Bhuana Suci, Ngaru-aru, Rabu (2/3/2022).
Ketua Muda-mudi Ngesti Darma, Swaworo, 25, mengaku jika Ogoh-ogoh tersebut digunakan sebagai lambang segala hal yang tidak baik maka patut untuk dihilangkan dengan cara dibakar.
“Untuk Ogoh-ogoh hanya simbol buta kala simbol hal yang buruk. Di Hari Raya Nyepi ini, kita [mohon] hilangkanlah [hal buruk] di tahun ini,” katanya saat ditemui di lokasi Pura, Rabu.
Swaworo juga berharap di tahun ini aktivitas masyarakat bisa kembali normal. “Semua kan juga berharap semoga Covid-19 segera berakhir, pandemi segera berakhir. Jadi bisa beraktivitas dengan normal lagi, ekonomi juga kembali pulih, yang jelas normal semua,” ujar Swaworo.
Penganut Agama Hindu di Desa Jati Bali, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara usir pengaruh jahat dengan mengarakan Ogoh-Ogoh keliling desa/kampung.
Pada perayaan Nyepi tahun ini, warga Desa Jati Bali secara berkelompok setidaknya membuat empat macam Ogoh – ogoh yang diarak keliling desa.
Ketua Parisada Hindu Darma, Desa Jati Bali, I Nyoman Budi Artana, mengatakan rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi tahun ini dengan mengarak Ogoh-ogoh untuk menyeimbangkan pengaruh positif dan negatif.
“Setelah di arak keliling desa, Ogoh-ogoh ini akan dibakar,” kata Budi Artana, ditemui di sela-sela arak-arakan Ogoh-Ogoh, Rabu (2 Maret 2022) sore.
Umat Hindu di Dusun Balitung, Desa Adit Girijati, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengarak empat ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1944 yang jatuh pada Kamis, 3 Maret 2022.
Sekretaris Desa Adit Girijati I Gusti Ngurah Oka di Sijuk, Belitung, mengatakan pawai ogoh-ogoh dilakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan covid-19 secara ketat.
Ia mengatakan selama dua tahun terakhir pawai ogoh-ogoh di daerah itu ditiadakan mengingat situasi pandemi covid-19.
“Syukur pada tahun ini pelaksanaan pawai ogoh-ogoh bisa kembali dilaksanakan secara sederhana namun dengan tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat,” ujarnya.
Gentayangan di Jakarta
Salah satu kegiatan Jakarta Nyepi 2022 dalam perayaan Nyepi di Jakarta ini bisa dilihat sejak beberapa hari terakhir di Terowongan Kendal, Halte Integrasi Tebet, dan Halte Integrasi CSW. Di ketiga fasilitas umum tersebut terpasang patung ogoh-ogoh Bhuta Kala.
Kehadiran patung ogoh-ogoh sendiri tidak terlepas dari tradisi di Hari Raya Nyepi yang di mana patung ini biasanya dibuat menjelang Hari Raya Nyepi dan menjadi simbol dari butha kala alias unsur negatif yang ada di sekeliling kehidupan manusia.
Menariknya walau digambarkan sebagai makhluk yang seram dan besar, patung ogoh-ogoh dalam proses pembuatannya bukan hanya menjadi ritual sakral semata.
Tapi juga menjadi kesempatan untuk para generasi muda menuangkan ide kreativitas mereka dalam membuat patung ogoh-ogoh sesuai imajinasi atau visi mereka, sehingga tak heran di Bali, ada patung ogoh-ogoh yang bentuknya terinspirasi dari para tokoh atau pemimpin dunia
Hadirnya patung ogoh-ogoh ini memang menjadi bagian dari Festival #JakartaNyepi 2022. (dari berbagai sumber) ***














