Connect with us

Nasional

Begini Aturan Perayaan dan Ibadah Natal menurut Kementerian Agama

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (kanan) didampingi Pendeta Yorinawa Salawangi (kiri) di Gereja GPIB Imanuel (Gereja Blenduk) Semarang, Jawa Tengah

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (kanan) didampingi Pendeta Yorinawa Salawangi (kiri) di Gereja GPIB Imanuel (Gereja Blenduk) Semarang, Jawa Tengah

FAKTUAL-INDONESIA: Untuk mengatur pencegahan dan penanggulangan pandemi virus corona (Covid-19),  Kementerian Agama menerbitkan peraturan perayaan dan ibadah Natal 2021 melalui surat edaran.

“Surat edaran ini tidak hanya diperuntukkan di lingkungan Ditjen Bimas Kristen dan Katolik, seluruh rektor sekolah tinggi keagamaan, kepala kantor Kemenag untuk menerapkan surat edaran ini, dan dilakukan sosialisasi,” kata Pelaksana tugas Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Dr Pontus Sitorus MSi.

Peraturan itu termaktub dalam Surat Edaran Nomor 33 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19 dalam Pelaksanaan Ibadah dan Perayaan Natal 2021.

“Surat edaran ini bertujuan untuk mengatur pencegahan dan penanggulangan COVID-19 di gereja atau tempat yang difungsikan sebagai gereja pada perayaan Natal 2021,” ujar Pontus dalam dialog di Jakarta, Jumat.

Surat edaran tersebut, berisi mengenai pelaksanaan kegiatan dengan pengetatan dan pengawasan protokol kesehatan di gereja atau tempat yang difungsikan sebagai gereja.

Advertisement

“Gereja juga perlu membentuk satuan tugas protokol kesehatan penanganan COVID_19 yang berkoordinasi dengan satuan tugas penanganan COVID-19 daerah,” terang dia.

Pelaksanaan ibadah hendaknya dilakukan secara sederhana dan dianjurkan dilakukan secara bauran atau hibrida. Jika diselenggarakan secara luring, maka jumlah umat yang hadir tidak boleh lebih dari 50 persen dari kapasitas ruangan dan jam operasional gereja paling lama pukul 22.00 WIB.

Sementara bagi pengelola gereja, wajib menerapkan protokol kesehatan 5M, menyediakan alat pengecek suhu, sanitasi tangan atau sarana mencuci tangan, melakukan pembersihan secara berkala, serta menggunakan aplikasi Peduli Lindungi.

“Surat edaran ini tidak hanya diperuntukkan di lingkungan Ditjen Bimas Kristen dan Katolik, seluruh rektor sekolah tinggi keagamaan, kepala kantor Kemenag untuk menerapkan surat edaran ini, dan dilakukan sosialisasi,” imbuh dia.

Pembaharuan

Advertisement

Kementerian Agama menerbitkan Surat Edaran Nomor 33/2021 tentang pencegahan dan penanggulangan COVID-19 saat pelaksanaan ibadah Natal dan Tahun Baru, sebagai pembaharuan dari SE 31/2021 seiring dengan dianulirnya kebijakan PPKM Level 3.

Kendati ada pembaruan dari SE 31/2021 yang sebelumnya diterbitkan, Kemenag tidak terlalu banyak membuat revisi pedoman pelaksanaan ibadah Natal.

Pada SE terbaru mengatur soal kapasitas gereja atau tempat ibadah boleh 50 persen dari total daya tampung, sementara pada SE 31/2021 jumlah jemaah dibatasi 50 persen dengan maksimal hanya 50 orang.

Selain itu, dalam SE terbaru ada penambahan jam operasional gereja/tempat ibadah paling lama hingga pukul 22.00 WIB. Adapun dalam SE lama tidak diatur jam operasional gereja/tempat ibadah.

Sementara aturan lainnya yang tercantum dalam SE tak mengalami perubahan. Jemaah tetap harus menggunakan aplikasi PeduliLindungi pada saat masuk dan keluar dari gereja serta hanya yang berkategori kuning dan hijau yang diperkenankan masuk.

Advertisement

Lalu mengatur arus mobilitas jemaah dan pintu masuk dan pintu keluar gereja guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan. Gereja wajib membentuk Satuan Tugas (Satgas) protokol kesehatan penanganan COVID-19 yang berkoordinasi dengan Satgas Daerah.

Pada pelaksanaan ibadah dan perayaan Natal hendaknya dilakukan secara sederhana dan tidak berlebih-lebihan, serta lebih menekankan persekutuan di tengah-tengah keluarga.

Kemenag menyarankan agar perayaan Natal dilaksanakan di ruang terbuka. Apabila dilaksanakan di gereja, diselenggarakan secara hybrid yaitu secara berjamaah/kolektif di gereja dan secara daring dengan tata ibadah yang telah disiapkan oleh para pengurus dan pengelola gereja.

Di sisi lain, pengurus dan pengelola gereja wajib menyediakan petugas untuk menginformasikan serta mengawasi pelaksanaan Prokes, menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh pengguna gereja, dan melakukan pemeriksaan suhu tubuh untuk setiap jemaah menggunakan alat pengukur suhu tubuh.

Pengelola/pengurus juga harus menyediakan hand sanitizer dan sarana mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir di pintu masuk dan pintu keluar gereja, melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area gereja.

Advertisement

Surat Edaran itu juga memuat pelaksanaan khutbah harus memenuhi ketentuan bahwa pendeta, pastur, atau rohaniwan wajib memakai masker dan pelindung wajah dengan baik dan benar dan mengingatkan jemaah untuk selalu menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan. ***

Lanjutkan Membaca