Kesehatan
Pembatasan Asupan Garam saat Masuki Usia 50 Sama Pentingnya dengan Mengonsumsi Buah

Ilustrasi buah-buahan (Foto: Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Makanan bercita rasa asin dan gurih adalah kesukaan sebagian besar orang Indonesia. Namun saat memasuki usia 50 tahun, disarankan untuk mengurangi makanan berkadar garam tinggi.
Makanan yang terlalu banyak mengandung garam, demikian alasan yang disampaikan, dapat mengakibatkan masalah kesehatan mulai dari obesitas hingga stroke.
Pakar diet dan gizi klinik dr Johanes Chandrawinata Sp.Gk, MND pun mengatakan untuk menjaga pola hidup sehat, pembatasan asupan garam sama pentingnya dengan mengonsumsi buah dan sayur.
Menurut dr Jo, sapaan akrab Johanes Chandrawinata, penurunan asupan garam dapat dicapai tanpa harus mengorbankan cita rasa makanan dengan penambahan MSG secukupnya.
“Menurunkan asupan garam dalam konsumsi sehari-hari bisa dilakukan dengan memilih pangan berbumbu rendah garam atau bahkan tanpa sodium. Hindari makanan olahan yang sangat tinggi kadar garam seperti daging asap, kornet dan lain-lain. Fokus pada makanan segar,” kata dr Jo seperti dikutip dari anaranews.com, Selasa (5/7/2022).
Dr Jo mengatakan monosodium glutamate, MSG, bisa menjadi pilihan alternatif garam sebagai bumbu masak.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan MSG bisa menjadi strategi diet rendah garam. Sebab, kandungan natrium dalam MSG hanya sepertiga dari kandungan natrium pada garam dapur biasa, katanya.
Dr Jo menyarankan takaran bumbu umami seperti dalam MSG, sebagai pengganti garam adalah sebanyak 0,2 hingga 0,8 persen dari volume makanan.
“Misalnya untuk satu liter sup, tambahkan sekira 1,5 sendok teh saja,” tuturnya.
Selain itu, penambahan bumbu aromatik seperti bawang putih dan jahe bisa menjadi alternatif penggunaan garam.
“Batasi juga asupan kerupuk karena tanpa disadari kerupuk itu banyak kandungan garam,” tuturnya.
Diet rendah garam disebut dr Jo mampu menurunkan tekanan darah.
“Penurunan konsumsi garam sebanyak 15 persen bisa mencegah sampai 8,5 juta kematian di 23 negara dengan beban hipertensi dalam 10 tahun,” ujarnya.***














