Kesehatan
Puluhan Siswa dan Seorang Guru di Bogor Diduga Keracunan Usai Santap Menu MBG, Sampel Makanan Diuji Laboratorium

Puluhan siswa di Bogor alami keracunan usai santap MBG. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Lagi, kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini, puluhan siswa dan seorang guru di SDN Ciherang 01, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG. Hingga Kamis (6/8/2026) malam, para korban masih menjalani penanganan medis, sementara penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil uji laboratorium.
Sejumlah siswa mulai mengeluhkan mual, muntah, dan pusing beberapa jam setelah menyantap makanan yang disajikan pada jam makan siang. Mereka kemudian dibawa ke Puskesmas Dramaga untuk mendapatkan perawatan.
Korban terus berdatangan ke fasilitas kesehatan dengan keluhan serupa. Sebagian besar mengalami mual, muntah, dan pusing yang diduga berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi di sekolah.
Salah seorang orang tua murid, Mayang, mengatakan putrinya yang berusia delapan tahun mulai mengalami mual dan muntah tidak lama setelah menyantap menu makan siang di sekolah.
Menurutnya, informasi mengenai siswa yang mengalami gejala serupa dengan cepat menyebar melalui grup komunikasi orang tua murid dan pihak sekolah. Ia juga menyebut sejumlah siswa dari kelas 1, 2, dan 3 dilaporkan mengalami keluhan yang sama.
Guru SDN Ciherang 01, Sisil, mengatakan hingga Kamis malam terdapat lebih dari 20 siswa serta seorang guru yang menunjukkan gejala yang diduga akibat keracunan makanan.
Ia menjelaskan, dugaan sementara mengarah pada menu telur dan tempe yang disajikan dalam program MBG. Namun, pihak sekolah belum dapat memastikan sumber penyebab karena hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan masih belum keluar.
“Indikasi penyebabnya masih belum bisa dipastikan. Kami masih menunggu hasil uji laboratorium,” ujarnya.
SDN Ciherang 01 diketahui memiliki sekitar 450 siswa. Hingga kini, pihak sekolah bersama tenaga kesehatan masih melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami keluhan serta memantau kondisi para korban.
Sementara itu, investigasi terhadap dugaan keracunan masih berlangsung. Hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus menentukan langkah penanganan lebih lanjut.***














