Internasional
Patung Yusuf Arimatea Buatan Yogyakarta Diterima Paus Leo XIV, Wujudkan Mimpi Sang Pendiri Brata Gallery

Patung Yusuf Arimatea yang dipersembahkan untuk Paus Leo XIV di Vatikan. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Sebuah karya seni religius buatan Brata Gallery, Yogyakarta, berhasil mendapat kehormatan diterima langsung oleh Paus Leo XIV di Vatikan. Patung St. Yusuf Arimatea tersebut dipersembahkan dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus pada 25 Maret 2026 dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga pembuatnya.
Pemilik Brata Gallery, Niko Harahap Tanubrata, mengaku tidak pernah membayangkan hasil karya galerinya akan sampai ke tangan pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Baginya, momen tersebut sekaligus mewujudkan cita-cita mendiang sang ayah yang sejak lama berharap salah satu karya Brata Gallery dapat diterima oleh Paus.
“Kalau papa masih hidup, beliau pasti sangat terharu. Sejak dulu beliau memang memiliki keinginan agar karya Brata Gallery bisa sampai ke Vatikan,” ujar Niko di Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026).
Patung tersebut menggambarkan peristiwa penurunan jenazah Yesus Kristus dari kayu salib. Dalam karya itu tampak sosok Yusuf Arimatea bersama Bunda Maria, Maria Magdalena, serta dua tokoh lainnya yang mengiringi prosesi pemakaman Yesus.
Bagi Niko, keberhasilan tersebut memiliki makna mendalam. Selain menjadi pencapaian bagi galeri yang telah dirintis keluarganya selama bertahun-tahun, ia juga menganggapnya sebagai berkat yang membuka peluang baru.
Tak lama setelah penyerahan patung di Vatikan, Brata Gallery memperoleh pesanan pembuatan satu rangkaian lengkap 14 stasi Jalan Salib berukuran besar dari seorang kolektor di Bandung. Setiap figur dalam rangkaian itu memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter.
Awalnya setiap stasi hanya dirancang menampilkan dua tokoh. Namun Niko mengusulkan agar pada stasi ke-13 ditambahkan satu figur sehingga menggambarkan adegan Pieta yang lebih utuh, yakni Bunda Maria memangku jenazah Yesus dengan kehadiran Yusuf Arimatea.
Menurutnya, proyek tersebut menjadi tantangan baru karena selama ini Brata Gallery lebih banyak mengerjakan patung-patung religius secara terpisah, bukan satu rangkaian Jalan Salib dalam ukuran mendekati manusia.
Niko mengaku awalnya hanya mengetahui patung itu akan dibawa ke Vatikan tanpa mendapat informasi bahwa karya tersebut akan diserahkan langsung kepada Paus Leo XIV.
“Saya mengira patung itu hanya akan ditempatkan di museum atau lokasi tertentu di Vatikan,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan Rosalinda Widjajanto, anggota tim Brata Gallery yang terlibat dalam proses pembuatan patung. Ia baru mengetahui patung tersebut diterima langsung oleh Paus setelah melihat dokumentasi yang beredar.
Kabar itu kemudian dibagikan kepada seluruh karyawan Brata Gallery melalui grup internal dan media sosial. Respons para pekerja pun penuh antusias, bahkan sejumlah calon pembeli mulai menanyakan kemungkinan memesan patung serupa.
Patung St. Yusuf Arimatea dibawa ke Vatikan oleh delegasi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta seorang pendamping dari Vatikan. Kunjungan tersebut juga berkaitan dengan penandatanganan nota kesepahaman penggunaan Bahasa Indonesia pada layanan Vatican News.
Pembuatan patung itu sendiri bukan pekerjaan mudah. Niko mengungkapkan Brata Gallery belum pernah membuat figur Yusuf Arimatea sebelumnya sehingga tim harus memulai dari nol. Tidak adanya referensi visual membuat proses desain dilakukan melalui pemodelan tanah liat yang mengalami lima hingga enam kali revisi sebelum akhirnya disetujui.
Pesanan patung tersebut diterima Brata Gallery pada Agustus 2025 atas permintaan pendiri PWKI, AM Putut Prabantoro. Awalnya karya itu direncanakan dibawa ke Vatikan pada November 2025, namun baru dapat diberangkatkan pada Maret 2026.
Kini, setelah karya mereka menjadi bagian dari momen bersejarah di Vatikan, Niko dan tim Brata Gallery berharap suatu saat dapat berkunjung langsung ke Vatikan dan bertemu dengan Paus Leo XIV. Baginya, perjalanan patung Yusuf Arimatea telah menjadi bukti bahwa karya seni dari Indonesia mampu mendapat tempat di panggung internasional.***













