Connect with us

Internasional

Koalisi Oposisi Menguat, Netanyahu Terancam Lengser di Tengah Isu Kesehatan

Diterbitkan

pada

Benyamin Netanyahu diprediksi bakal lengser. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA :  Peta politik Israel menjelang pemilihan umum semakin dinamis setelah dua tokoh oposisi, Yair Lapid dan Naftali Bennett, sepakat membentuk koalisi untuk menantang petahana Benjamin Netanyahu.

Lapid mengumumkan bahwa partainya, Yesh Atid, akan bergabung dengan platform politik Bennett dalam satu daftar gabungan pada pemilu parlemen yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2026. Langkah ini disebut sebagai upaya menyatukan kekuatan oposisi guna mendorong perubahan pemerintahan.

“Ini adalah langkah pertama untuk memperbaiki Negara Israel melalui penyatuan kekuatan oposisi,” ujar Lapid dalam pernyataannya.

Koalisi tersebut dinilai berpotensi menjadi tantangan serius bagi Netanyahu, yang saat ini masih memimpin pemerintahan. Sejumlah survei menunjukkan Bennett sebagai salah satu kandidat terkuat untuk mengalahkan Netanyahu dalam pemilu mendatang.

Lapid dan Bennett dikenal sebagai pengkritik vokal kebijakan Netanyahu, terutama terkait konflik di Jalur Gaza sejak 2023. Lapid bahkan menyebut gencatan senjata sementara dengan Iran sebagai “bencana politik”.

Advertisement

Secara politik, keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Bennett dikenal sebagai politikus sayap kanan dengan basis dukungan kuat di kalangan nasionalis, sementara Lapid berasal dari kubu tengah dan memiliki latar belakang sebagai jurnalis sebelum terjun ke politik.

Keduanya pernah bekerja sama dalam pemerintahan koalisi pada 2021, yang sempat mengakhiri dominasi Netanyahu. Namun, pemerintahan tersebut runtuh pada 2022 dan Netanyahu kembali berkuasa.

Di tengah dinamika politik tersebut, kondisi kesehatan Netanyahu turut menjadi sorotan. Pemimpin berusia 76 tahun itu mengungkapkan dirinya didiagnosis kanker prostat dan tengah menjalani perawatan.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut tumor yang ditemukan berukuran kurang dari satu sentimeter. Ia juga mengaku sempat menunda publikasi laporan medisnya selama dua bulan.

Meski menghadapi tantangan kesehatan dan tekanan politik, Netanyahu tetap berencana memimpin partainya dalam pemilu mendatang. Jika kembali menang, ia berpotensi mencatatkan rekor sebagai pemimpin terlama di Israel dengan total masa jabatan lebih dari 18 tahun.

Advertisement

Situasi ini menempatkan pemilu mendatang sebagai salah satu momen krusial dalam politik Israel, dengan pertarungan ketat antara petahana dan koalisi oposisi yang semakin solid.***

Lanjutkan Membaca
Advertisement