Internasional
Malaysia Ajukan Malay Jadi Bahasa Kedua Asean, Bahasa Indonesia Diperkuat di Australia

Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob (kiri) dan Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono (kanan)
FAKTUAL-INDONESIA: Malaysia mengajukan agar Bahasa Malayu (Malay) bisa menjadi bahasa kedua Asean.
Usulan Malaysia untuk mengangkat mengangkat bahasa ibu itu di tingkat internasional.
Sementara itu Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono PhD, mengemukakan tentang pentingnya penguatan Bahasa Indonesia di Australia. Hal itu disampaikan Dubes Siswo Parmono ketika menyampaikan kuliah umum bertema ‘The Rise of Asia: In the Context of Indonesia-Australia Relations’ di Monash University, Selasa (22/3/2022).
Bahasa Kedua Asean
Usulan untuk menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kedua Asean disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob
Dia akan berunding dengan para pemimpin Asean untuk mengusulkan penggunaan Bahasa Melayu (bahasa Melayu) sebagai bahasa kedua Asean, dalam upaya mengangkat bahasa ibu di tingkat internasional.
Ismail Sabri mengatakan selain di Malaysia, Bahasa Melayu juga digunakan sebagai bahasa pengantar di beberapa negara tetangga seperti Indonesia, Brunei dan Singapura serta di Thailand selatan, Filipina selatan dan di sebagian Kamboja.
“Jadi tidak ada alasan kami tidak bisa menjadikan Bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa resmi Asean. Hal ini akan kami koordinasikan dan saya akan berdiskusi dengan para pemimpin negara Asean yang memang menggunakan Bahasa Melayu agar mereka sepakat menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa kedua Asean.”
“Setelah itu, kami akan berdiskusi dengan para pemimpin Asean lainnya yang negaranya juga memiliki penduduk yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa lisan,” katanya saat sesi tanya jawab di Dewan Negara hari ini.
Dia mengatakan ini sebagai jawaban atas pertanyaan tambahan dari Senator Datuk Seri Zurainah Musa yang ingin mengetahui apakah pemerintah akan bekerja sama dengan para pemimpin Asean untuk mengoordinasikan penggunaan Bahasa Melayu di tingkat Asean.
Lebih lanjut Ismail Sabri mengatakan, saat ini hanya empat dari 10 negara Asean yang menggunakan bahasa Inggris dalam acara resmi di tingkat internasional, sedangkan enam lainnya menggunakan bahasa ibu mereka sendiri dalam urusan resmi mereka dan perlu diterjemahkan.
Perdana Menteri mengatakan dia sendiri telah menggunakan Bahasa Melayu selama kunjungan resminya ke Indonesia, Brunei, Kamboja dan Thailand sebelumnya dan terakhir selama kunjungannya ke Vietnam dua hari lalu.
“Kita tidak perlu malu atau canggung untuk menggunakan Bahasa Melayu di tingkat internasional karena upaya penegakan bahasa Melayu ini juga sejalan dengan salah satu bidang prioritas Malaysian Foreign Policy Framework yang dicanangkan pemerintah pada Desember lalu. 7, 2021. Upaya ini akan dilanjutkan dalam setiap pertemuan dan konferensi internasional, baik bilateral maupun multilateral, di dalam atau di luar negeri sebagaimana mestinya,” katanya.
Penguatan Bahasa Indonesia
Dalam kunjungan kerjanya ke Victoria, Australia, Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono PhD, menyampaikan kuliah umum bertema ‘The Rise of Asia: In the Context of Indonesia-Australia Relations’ di Monash University, Selasa (22/3/2022).
Seperti dipantau dari Times Indonesia, sekitar 90 orang yang terdiri dari dosen, peneliti dan mahasiswa hadir dalam kuliah umum. Dalam pembukaan kuliahnya Dubes menyampaikan apresiasi kepada Monash University sebagai salah satu universitas di Australia yang masih memiliki komitmen tinggi dalam mempertahankan program studi Indonesia dan Bahasa Indonesia.
“Dengan mempertahankan program studi Indonesia dan Bahasa Indonesia, Monash University telah memainkan peranan penting dalam penguatan hubungan Indonesia dan Australia,” jelas Dubes Siswo.
Sebagai negara terbesar di ASEAN, menurut Dubes Siswo, Indonesia perlu mendapat perhatian khusus dari Australia. Terlebih lagi saat ini Indonesia merupakan pemimpin dari negara-negara G20.
Indonesia dan Australia sendiri telah menandatangani Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IACEPA) di mana hal ini menjadi katalisator yang dapat mempercepat penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Australia.
Sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di wilayah Indo-Pacific, Indonesia memberikan peluang yang sangat besar bagi para pebisnis Australia.
Dalam konteks penguatan hubungan Indonesia dan Australia, khususnya dalam hubungan ekonomi, maka rasa saling percaya diantara dua negara sangatlah penting. Penguasaan yang baik terhadap Bahasa Indonesia akan membantu masyarakat dan para pebisnis Australia memahami masyarakat Indonesia dengan lebih baik pula.
“Bahasa Indonesia menjadi sangat strategis untuk dipelajari oleh masyarakat Australia mengingat intensitas hubungan Indonesia Australia yang semakin meningkat di masa depan”. Agar para pebisnis Australia di Indonesia bisa lebih sukses, maka sangat diperlukan pemahaman budaya, yang salah satunya bisa dipelajari melalui penguasaan Bahasa Indonesia yang baik,” jelas Siswo.
Sementara Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, Mukhamad Najib, menjelaskan bahwa kuliah umum dari Dubes Indonesia dapat memberikan perspektif baru bagi para akademisi dan mahasiswa Monash University.
“Dari paparan Dubes, jelas Bahasa Indonesia bukanlah sekadar alat komunikasi antar manusia di kedua negara, tapi juga merupakan jembatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dalam bisnis,” jelas Najib.
Menurut Najib, kuliah umum dari duta besar akan dilakukan juga di kampus-kampus lain di Australia dengan menyasar dosen, peneliti dan mahasiswa sebagai bagian dari upaya KBRI Canberra membuat Bahasa Indonesia popular kembali di Australia.
Najib menambahkan, dosen dan peneliti dapat menjadi opinion leader bagi masyarakat Australia, dengan mereka memiliki perspektif baru mengenai Bahasa Indonesia diharapkan mereka bisa membantu mempromosikan pentingnya Bahasa Indonesia bagi masyarakat Australia.
“Sementara mahasiswa merupakan aktor masa depan yang sangat penting, sehingga mereka perlu memahami Indonesia dan Bahasa Indonesia sejak dini,” tutur Najib.
KBRI Canberra akan terus mendukung penguatan Bahasa Indonesia di Australia, termasuk di Monash University. Saat ini KBRI Canberra telah memiliki kerjasama dengan penerbit terkemuka di Indonesia untuk pengadaan Smart Library yang berisi buku-buku Bahasa Indonesia. Hal ini menurut Najib dapat digunakan juga oleh mahasiswa dan dosen di Australia. ***














