Ekonomi
Rupiah Hari Senin 24 Agustus 2026: Tertekan ke Rp17.721, Selanjutnya Fluktuatif

Nilai tukar (kurs) rupiah yang mengawali perdagangan dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya tergelicir ke posisi melemah saat penutupan Senin (24/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Mata uang rupiah kembali harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (24/8/2026). Nilai tukar rupiah meluncur 27 poin atau melemah 0,15 persen ke level Rp17.721 per dolar AS.
Padahal saat pembukaan perdagangan valuta asing, Senin pagi, rupiah dibuka 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.690 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.
Namun tekanan geopolitik dan solidnya ekonomi Amerika serta defisit transaksi berjalan melebar membuat rupiah tergelincir ke zona merah di penutupan.
Sedangkan pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia rupiah justru bergerak menguat di level Rp17.703 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.705 per dolar AS.
Dinamika ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia yang kompak memerah. Ringgit Malaysia tercatat merosot 0,11 persen, Yen Jepang melorot 0,13 persen, Baht Thailand turun 0,08 persen, dan Rupee India tergerus 0,04 persen. Hanya Won Korea Selatan (+0,17%) dan Dolar Hong Kong (+0,04%) yang berhasil melaju di zona hijau.
Dua Pukulan Telak
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, seperti dilansir RCTI+, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh kombinasi sentimen panas dari luar negeri.
- Sanksi Baru AS ke Iran: Pasar global bergejolak setelah AS bersiap merilis rangkaian sanksi terkeras bagi Iran dan mengumumkan “D-Day Ekonomi”. Kebuntuan di Selat Hormuz kian meruncing setelah Iran mengancam memblokir total ekspor minyak di Teluk Persia, yang langsung mengerek harga minyak mentah dunia.
- Keperkasaan Ekonomi AS: Aktivitas sektor jasa Amerika Serikat tampil perkasa. Indeks PMI Jasa S&P Global AS Agustus melonjak ke level 56,8 (tertinggi sejak Desember 2024). Solidnya data ekonomi serta ancaman inflasi akibat lonjakan harga energi memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) bisa kembali menaikkan suku bunga.
Defisit Transaksi Berjalan Melebar
Dari dalam negeri, tekanan datang dari rilis data transaksi berjalan kuartal II-2026 yang membengkak signifikan menjadi USD 12,5 miliar (3,3% dari PDB), melompat tajam dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar USD 3,6 miliar (1% dari PDB). Lonjakan ini terutama dipicu tingginya impor minyak akibat melambungnya harga energi global.
Meski demikian, pondasi eksternal Indonesia dinilai masih memiliki jaring pengaman:
- Neraca Pembayaran Indonesia (NPI): Defisit NPI membaik signifikan menjadi USD 900 juta (dibandingkan defisit USD 9,1 miliar di kuartal I-2026), disokong surplus transaksi modal dan finansial sebesar USD 12 miliar.
- Cadangan Devisa: Posisi cadangan devisa per akhir Juni 2026 tetap solid di angka USD 145,6 miliar, setara pembiayaan 5,6 bulan impor—jauh di atas standar kecukupan internasional.
Prediksi Pergerakan Selanjutnya
Mempertimbangkan bayang-bayang tingginya harga minyak dunia, tensi geopolitik Timur Tengah serta konflik Rusia-Ukraina yang kian membara, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih akan terbatas.
Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya akan cenderung fluktuatif namun masih berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.720 – Rp17.770 per dolar AS. ***













