Ekonomi
Rupiah dan IHSG Masih Loyo Jelang Long Weekend Imlek, Tertekan Aksi Ambil Untung

Aroma perayaan Imlek yang kian terasa ternyata belum cukup kuat untuk memompa semangat rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga ditutup melemah pada perdagangan valuta dan saham hari ini Jumat (13/2/2026).
FAKTUAL INDONESIA: Harapan untuk melihat nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bersinar terang bak lampion Imlek tampaknya harus tertunda.
Pasalnya, baik rupiah maupun IHSG BEI, masih loyo ditutup melemah pada penutupan perdagangan valuta dan saham akhir pekan, Jumat (13/2/2026). Aroma perayaan Imlek yang kian terasa ternyata belum cukup kuat untuk memompa semangat rupiah dan IHSG.
Rupiah Melemah Tipis
Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang Garuda terpaksa parkir di zona merah, melemah tipis di tengah persiapan masyarakat menyambut libur panjang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,05% ke level Rp16.836 per dolar Amerika Serikat (AS). Meski tipis, pelemahan ini mengonfirmasi posisi rupiah yang masih sulit lepas dari tekanan greenback sejak pembukaan pagi tadi.
Beberapa faktor menjadi ganjalan bagi rupiah untuk menguat di penghujung pekan ini:
- Magnet Data Ekonomi AS: Investor global tengah memasang mode waspada (wait and see) menanti rilis data inflasi (IHK) Amerika Serikat malam ini. Sinyal bahwa inflasi AS masih “bandel” membuat dolar AS tetap menjadi primadona, sehingga rupiah pun tertekan.
- Aksi Ambil Untung Jelang Libur: Menjelang long weekend Imlek (Sabtu–Selasa), banyak pelaku pasar memilih untuk mencairkan aset mereka dan memegang tunai (cash). Fenomena “mudik” modal ini lumrah terjadi sebelum pasar domestik libur panjang.
- Sentimen Regional: Rupiah tidak sendirian. Mayoritas mata uang Asia seperti Yen Jepang dan Won Korea juga terpantau lesu menghadapi keperkasaan indeks dolar yang merangkak naik ke level 97,04.
Meski hari ini ditutup loyo, jika ditarik garis selama sepekan terakhir, rupiah sebenarnya masih mencatatkan performa positif. Mata uang kebanggaan kita ini secara akumulatif masih menguat sekitar 0,24% dibanding posisi Jumat pekan lalu yang sempat menyentuh Rp16.876.
“Pelemahan hari ini lebih bersifat teknis karena faktor eksternal dan antisipasi libur panjang. Fondasi ekonomi domestik sebenarnya masih cukup stabil untuk menahan tekanan lebih dalam,” ujar seorang analis pasar uang.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa fokus pasar saat ini sepenuhnya tertuju pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS bulan Januari yang dijadwalkan keluar malam ini. Data tersebut akan menjadi kompas bagi arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Pasar keuangan Indonesia akan mulai memasuki masa libur cuti bersama pada Senin (16/2) dan libur nasional Imlek pada Selasa (17/2/2026). Para pelaku pasar berharap, memasuki tahun baru Kuda Api, aliran modal asing bisa kembali masuk ke pasar domestik dan memberikan “hoki” bagi penguatan rupiah di sisa bulan Februari.
IHSG Terkoreksi 0,45%
Aroma perayaan Imlek yang kian terasa ternyata belum cukup kuat untuk memompa semangat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini. Alih-alih meroket, IHSG justru memilih untuk “beristirahat” dan ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (13/2/2026).
Meski dekorasi lampion mulai menghiasi sudut kota, layar bursa hari ini justru didominasi warna merah. IHSG ditutup terkoreksi 0,45% atau turun 32,85 poin ke level 7.215,12.
Pelemahan ini dinilai wajar oleh para analis. Setelah sempat menguat dalam beberapa hari terakhir, banyak investor memilih untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking). Ibarat mengamankan “angpao” lebih awal, para pelaku pasar cenderung menarik dana mereka untuk mengantisipasi libur panjang Tahun Baru Imlek yang jatuh pada awal pekan depan.
“Pasar cenderung wait and see. Selain karena faktor libur panjang, investor juga mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang bisa memengaruhi arah suku bunga global,” ujar salah satu analis pasar modal di Jakarta.
Sektor Keuangan & Teknologi Loyo: Saham-saham perbankan raksasa (Big Caps) seperti BBCA dan BBRI terpantau melandai, menyeret indeks ke zona merah. Sektor teknologi juga ikut tertekan sentimen kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Transaksi Moderat: Volume perdagangan mencapai 18,5 miliar saham dengan nilai transaksi menembus Rp10,2 triliun.
Asing “Mudik” Sejenak: Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp450 miliar, menunjukkan sikap hati-hati sebelum penutupan pasar pekan ini.
Meski ditutup memerah, optimisme masih ada. Secara historis, pasar sering kali mengalami rebound atau penguatan setelah libur besar seiring dengan kembalinya kepercayaan investor dan rilis laporan keuangan tahunan emiten yang diprediksi cukup positif tahun ini. ***














