Connect with us

Ekonomi

Bahlil Lapor Soal Kutukan ke Prabowo ketika Groundbreaking Proyek Terbesar Asia Tenggara di Karawang

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Bahlil Lapor Soal Kutukan ke Prabowo ketika Groundbreaking Proyek Terbesar Asia Tenggara di Karawang

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berbincang dengan Presiden Prabowo Subianto dalam acara peresmian Groundbreaking Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. (BPMI Setpres)

FAKTUAL INDONESIA: Karawang, Jawa Barat menjadi saksi keberhasilan Indonesia membangun proyek pertama di dunia dan terbesar di Asia Tenggara.

Karawang juga menjadi saksi ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan soal kutukan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Pada acara  peresmian Groundbreaking Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH) di Kabupaten Karawang itu Menteri Bahlil melaporkan kepada Presiden Prabowo agar Indonesia jangan sampai menjadi negara kutukan sumber daya alam.

Seperti dilansir laman esdm.go.id, Proyek Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL merupakan ekosistem baterai berbasis nikel terintegrasi pertama di dunia dan terbesar di Asia Tenggara. Ekosistem ini mulai dari pertambangan nikel di Halmahera Timur hingga produksi baterai kendaraan listrik di Karawang.

Baca Juga : Menteri ESDM Bahlil Tempuh Jalan Tengah Tangani Sumur Minyak Masyarakat untuk Redam Gesekan Sosial

Proyek ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sebesar USD 5,9 miliar dan mencakup area seluas 3.023 hektar serta mampu menyerap 35 ribu tenaga kerja langsung dan tidak langsung, pertumbuhan ekonomi lokal, dan 18 proyek infrastruktur dermaga multifungsi.

Advertisement

Secara keseluruhan, proyek ini akan memiliki kapasitas produksi baterai kendaraan listrik sebesar 6,9 GWh yang kemudian akan ditingkatkan menjadi 15 GWh. Hal ini akan mengokohkan posisi Indonesia sebagai produsen baterai kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara. Nantinya, industri baterai listrik terintegrasi ini diproyeksikan dapat menyuplai baterai bagi 300 ribu kendaraan yang dapat mengurangi impor BBM hingga 300 ribu kilo liter per tahunnya.

Bahlil pun kemudian meneruskan arti dari Indonesia jangan sampai menjadi negara kutukan sumber daya alam itu.

“Kami laporkan bahwa atas arahan Bapak Presiden, kita jangan sampai menjadi negara kutukan sumber daya alam. Artinya setelah tambang ini selesai harus ada diversifikasi hilirisasi apa yang akan kita bangun. Nah proposal FS-nya (Feasibility Study) sudah disampaikan kepada kami. Bahwa kita memikirkan mulai sekarang pasca tambang investasi apa yang akan dibangun di sana,” kata Bahlil, Minggu (29/6/2025).

Untuk  Bahlil  mendorong agar terjadi keberlanjutan ekonomi pada daerah yang menjadi tuan rumah proyek pertambangan dan hilirisasi. Setelah proyek selesai, Bahlil mendorong agar tetap dilakukan diversifikasi hilirisasi di berbagai sektor.

Pada proyek ini, telah direncanakan pembangunan pusat ekonomi baru di sektor perikanan dan perkebunan pada tahun ke-8 hingga ke-9 proyek ini berjalan. Pusat ekonomi baru tersebut akan dibangun dengan memanfaatkan lahan bekas tambang.

Advertisement

Baca Juga : Peresmian 55 Proyek EBT dan Tambahan Produksi Blok Cepu, Menteri Bahlil Ungkap Terbilang Cepat

“Agar begitu tambang selesai, tetap perputaran ekonomi di daerah terus berjalan,” ujarnya.

Bahlil menekankan bahwa seluruh proyek hilirisasi harus berkeadilan, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo.

“Saya minta kepada perusahaannya, agar hilirisasi ini jangan hanya yang untung itu investor dan Pemerintah Pusat. Jadi hilirisasi atas arahan Bapak Presiden harus berkeadilan. Adil untuk pengusaha daerah, adil juga untuk masyarakat, dan adil juga untuk Pemerintah Daerah,” tegas Bahlil.

Bahlil juga menyampaikan bahwa proyek ini adalah gagasan awal untuk melakukan kolaborasi antara negara yang kaya sumber daya alam, dengan negara yang unggul dalam teknologi dan tujuan pasar.

“Indonesia itu betul, dari bahan baterai, nikel, mangaan, kobalt, dan lithium, yang kita tidak punya itu tinggal lithium. Mangaan, kobalt, dan nikel kita punya semua. Tetapi teknologi itu memang belum terlalu kita miliki secara komprehensif. Karena itu kita lakukan kerjasama dengan teman-teman dari Tiongkok, khususnya CATL,” ujar Bahlil. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement