Connect with us

Ekonomi

Rupiah Hari Senin 7 September 2026: Dari Melemah Bangkit Menguat Tipis, Besok Cendrung Stabil

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pasar mencermati dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan kebakaran hutan yang melanda beberapa wilayah Indonesia untuk pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hari ini Senin (7/9/2026) ditutup menguat tipis. (Foto: Istimewa)

Pasar mencermati dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan kebakaran hutan yang melanda beberapa wilayah Indonesia untuk pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hari ini Senin (7/9/2026) ditutup menguat tipis. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Perjuangan rupiah menghadapi tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta asing hari ini, Senin (7/9/2026), pantas mendapat apresiasi. Bayangkan, ketika pembukaan perdagangan harus masuk zona merah karena melemah namun kemudian mampu bangkit ke zona hijau dengan menguat tipis pada penutupan perniagaan.

Pada penutupan pasar sore ini, Senin (7/9/2026), mata uang Garuda menguat tipis 2 poin atau setara 0,01 persen ke level Rp17.640 per dolar AS.

Sementara pada saat pembukaan perdagangan rupiah bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.646 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.642 per dolar AS.

Namun nilai tukar rupiah pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini berada di level Rp17.653,00 per dolar AS atau melemah 17 poin atau sekitar 0,10% dari posisi sebelumnya (4 September 2026), Rp17.636,00 per dolar AS.

Meskipun sempat dibuka melemah di awal sesi, daya tahan ekonomi domestik serta ekspektasi kebijakan moneter global memberikan angin segar bagi menguatnya pergerakan rupiah hingga penutupan perdagangan.

Penguatan rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang negara-negara Asia Tenggara dan Asia yang menguat terhadap dolar AS. Untuk kawasan Asia Tenggara, penguatan juga dicatat oleh baht Thailand menanjak 0,16%, peso Filipina menguat 0,06%, dolar Singapura naik 0,03%. Namun ringgit Malaysia melemah tajam 0,06%.

Advertisement

Pada level Asia, yen Jepang melesat 0,46%,  dolar Taiwan menguat 0,29%, won Korea Selatan naik 0,12%, rupee India memanjat 0,04%, dan  dolar Hong Kong merangkak 0,009%. Sementara itu yuan China melemah tipis 0,02%.

Erupsi Gunung Anak Krakatau

Menurut pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi pergerakan rupiah masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.  Pasar juga mencermati kondisi perekonomian AS.

Ibrahim mengatakan, data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan ekonomi AS masih mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah lebih besar dari perkiraan.

Sebanyak lebih dari 162.000 tenaga kerja masuk ke angkatan kerja pada Agustus, jauh melampaui estimasi 56.000. Tingkat pengangguran AS tercatat sebesar 4,1%, lebih rendah dibandingkan proyeksi pejabat The Fed sebesar 4,5% pada akhir tahun.

Advertisement

Kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat membuat perhatian investor kembali tertuju pada perkembangan inflasi. Data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) dan indeks harga produsen (producer price index/PPI) AS yang dijadwalkan dirilis pekan ini pun menjadi salah satu sentimen penting bagi pasar.

“Jika kedua indikator tersebut menunjukkan tekanan inflasi yang masih tinggi, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September berpotensi kembali berubah,” kata Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pergerakan rupiah pada pekan ini turut menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Menurut dia, tantangan yang dihadapi adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas rupiah maupun memicu arus keluar modal asing.

Pasar juga masih mencermati dampak sejumlah bencana alam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat malam (4/9/2026).

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanis akibat erupsi menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 penerbangan di sedikitnya delapan bandara. Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 170.000 penumpang.

Advertisement

Risiko terhadap aktivitas ekonomi juga meningkat akibat pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito. Gangguan tersebut berpotensi menghambat transportasi batu bara, mengurangi mobilitas, dan mengganggu kelancaran rantai pasok.

“Pelaku pasar akan mencermati penanganan berbagai gangguan tersebut serta menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama apabila gangguan transportasi dan pembatasan aktivitas masyarakat berlangsung lebih lama,” ujarnya.

Ibrahim yang juga Direktur PT Traze Andalan Futures menambahkan, selain sentimen eksternal dan risiko bencana alam, pasar domestik juga akan menantikan sejumlah data ekonomi penting pekan ini, antara lain cadangan devisa Agustus, indeks sentimen konsumen, dan penjualan ritel Juli.

Prediksi Selasa, 8 September 2026

Untuk perdagangan besok, Selasa (8/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp 17.640-Rp 17.680 per dolar AS.

Advertisement

Namun ada juga yang mengatakan pergerakan rupiah diperkirakan masih akan terkonsolidasi dengan kecenderungan stabil. Perhatian investor tertuju pada sinyal suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) serta pergerakan harga komoditas global.

  • Proyeksi Rentang Perdagangan:610 – Rp17.680 per dolar AS.
  • Katalis Positif: Intervensi terukur Bank Indonesia di pasar uang dan pasokan valas domestik yang menjaga kestabilan pasokan pasca penutupan pasar.
  • Tantangan: Penguatan indeks dolar AS yang berpotensi membayangi mata uang negara berkembang jika data inflasi AS menunjukkan kenaikan.

Ringkasan Pergerakan Pasar Senin

  • Posisi Penutupan:640 per dolar AS (Menguat 2 Poin / +0,01%)
  • Faktor Penggerak Utama: Stabilnya sentimen pasar kawasan Asia serta rilis data ekonomi domestik yang tetap solid.

Kondisi Pasar: Fluktuasi berada dalam rentang sempit karena pelaku pasar cenderung mengambil sikap menanti (wait and see) terhadap data makroekonomi AS terbaru. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement