Kesra
Mahasiswa Perlu Mendengarkan dan Memahami Kebutuhan Masyarakat sebelum Merumuskan Solusi

Acara penutupan Sosialisasi Mahasiswa Berdampak: Program Aksara Mahasiswa di Universitas Islam Bandung (Unisba), Sabtu (1/8/2026). (Foto: Kemendiktisaintek)
FAKTUAL INDONESIA: Mahasiswa perlu mendengarkan dan memahami kebutuhan masyarakat sebelum merumuskan solusi agar program yang dijalankan benar-benar relevan dengan persoalan di lapangan.
Untuk itu Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong mahasiswa untuk hadir langsung di tengah masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi, serta mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
“Mahasiswa menjadi jembatan yang membawa inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi kepada masyarakat untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan nyata,” kata Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, saat menutup Sosialisasi Mahasiswa Berdampak: Program Aksara Mahasiswa di Universitas Islam Bandung (Unisba), Sabtu (1/8/2026).
Dalam acara yang diikuti sekitar 300 dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat tersebut, Fauzan menekankan pentingnya membangun interaksi langsung antara mahasiswa dan masyarakat.
Melalui Program Aksara Mahasiswa, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menerapkan pengetahuan dan inovasi dari perguruan tinggi kepada masyarakat. Mereka juga diharapkan mampu membawa berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan kembali ke lingkungan akademik untuk dikaji dan dikembangkan menjadi solusi yang lebih tepat.
Dengan mekanisme tersebut, interaksi antara perguruan tinggi dan masyarakat berlangsung secara dua arah. Perguruan tinggi menghadirkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, sedangkan masyarakat memberikan konteks nyata yang dapat memperkaya proses pembelajaran dan pengembangan keilmuan di kampus.
Seperti dilansir laman Kemendiktisaintek, Fauzan menambahkan bahwa berbagai persoalan yang ditemukan mahasiswa di tengah masyarakat dapat dikembangkan menjadi gagasan penelitian, tugas akhir, inovasi, maupun kegiatan kewirausahaan. Oleh karena itu, pengalaman mahasiswa di lapangan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi mahasiswa.
Program Aksara Mahasiswa dilaksanakan melalui dua skema utama, yaitu Aksara Peduli dan Aksara Sirkular. Aksara Peduli diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan, antara lain di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), penanganan stunting, kemiskinan ekstrem, serta kawasan rawan bencana. Sementara itu, Aksara Sirkular berfokus pada pengelolaan sampah melalui pendekatan transformasi sosial berbasis masyarakat.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, menjelaskan bahwa Program Aksara Mahasiswa dihadirkan untuk mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki mahasiswa agar dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa memiliki idealisme, pemikiran yang tajam dan segar, energi, serta ketulusan dalam bergerak. Berbagai potensi tersebut perlu diarahkan dan didukung melalui ekosistem perguruan tinggi serta pendampingan dosen agar dapat diwujudkan menjadi aksi pemberdayaan yang relevan dan berkelanjutan.
“Tidak salah jika Kemdiktisaintek hadir memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan berbagai potensi tersebut menjadi sesuatu yang memberikan dampak nyata di tengah masyarakat,” ujar I Ketut Adnyana.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Lukman, menilai Program Aksara Mahasiswa dapat memperluas ruang partisipasi perguruan tinggi dalam mendukung pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak.
Menurut Lukman, Program Aksara Mahasiswa memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan kreativitas, pengetahuan, dan kepeduliannya melalui aksi pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat. Perguruan tinggi di Jawa Barat dan Banten diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mendorong mahasiswa menyusun program yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
Rektor Universitas Islam Bandung, Harits Numan, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia berharap Program Aksara Mahasiswa dapat mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat, tetapi juga mampu mengembangkan gagasan dan inovasi yang memberikan manfaat nyata.
“Mudah-mudahan melalui program ini lahir para inovator muda dari kalangan mahasiswa,” ujar Harits.
Melalui Program Aksara Mahasiswa, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi juga melahirkan solusi yang relevan, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata. ***














