News
120 Lebih Uskup dan Kardinal Asia Berkumpul di Jakarta, Dialog Antaragama dan Keharmonisan Sebuah Keharusan

Presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia atau Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) Kardinal Filipe Neri Ferrão pada Konferensi Pers Plenary Assembly XII FABC di Jakarta, Senin (20/7/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia atau Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) Kardinal Filipe Neri Ferrão menegaskan dialog antaragama dan keharmonisan bukan sekadar pilihan bagi Gereja di Asia, melainkan sebuah keharusan. Dialog diperlukan agar masyarakat yang berbeda agama dan budaya dapat menemukan nilai-nilai bersama serta bekerja sama bagi kemanusiaan.
Hal itu dikemukakan Kardinal Filipe Neri Ferrão dalam konferensi pers Sidang Raya XII FABC di Jakarta, Senin (20/7/2026). Menurut Ferrão lebih dari 120 uskup dan kardinal dari 22 konferensi waligereja serta wilayah gerejawi di Asia berkumpul di Jakarta untuk memperkuat persaudaraan lintas agama dan merumuskan respons bersama terhadap krisis iklim pada Sidang Raya XII FABC yang berlangsung, 20–26 Juli 2026.
Kardinal Ferrão menjelaskan bahwa pertemuan tersebut mengangkat panggilan Gereja untuk menjadi jembatan komunikasi, dialog, dan persaudaraan di tengah masyarakat Asia yang beragam. Seperti dilansir laman Kementerian Agama (Kemenag), tema pembangun jembatan antarumat menjadi pesan utama yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut.
Sidang Raya XII FABC mengusung tema “The Call to Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge-Builders in Asia” atau “Panggilan Menuju Pertobatan Sinodal dan Perutusan Menjadi Jembatan serta Pembangun Jembatan di Asia”.
Pertemuan ini berlangsung dalam konteks penting perjalanan Gereja Katolik di Asia, setelah peringatan 50 tahun FABC, terbitnya Dokumen Bangkok pada 2023, Dokumen Akhir Sinode tentang Sinodalitas pada 2024, Tahun Yubileum Harapan 2025, serta dimulainya kepemimpinan Paus Leo XIV.
Rangkaian momentum tersebut meneguhkan komitmen Gereja Katolik di Asia untuk melakukan pembaruan sinodal dan misioner, sekaligus semakin terbuka dalam mendengarkan dan merespons persoalan yang dihadapi masyarakat.
Gereja Didorong Menjadi Jembatan
Asia dikenal sebagai kawasan dengan keragaman agama, budaya, bahasa, dan etnis yang sangat luas. Namun, kawasan ini juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kemiskinan, konflik, migrasi, kerusakan lingkungan, hingga perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Ferrão mengatakan Gereja tidak boleh merespons ketegangan dan perbedaan dengan menutup diri. Sebaliknya, Gereja harus memperluas ruang dialog, membangun rekonsiliasi, dan memperkuat perdamaian.
“Bahkan dalam lingkungan yang tidak bersahabat, Gereja memiliki peran khusus, bukan hanya sebagai pembangun jembatan, tetapi juga menjadi jembatan itu sendiri,” ujar Ferrão.
Wakil Presiden FABC Kardinal Pablo Virgilio David menyebut Indonesia sebagai salah satu contoh kehidupan bersama antarumat beragama. Nilai-nilai bersama dalam Pancasila, menurutnya, dapat mempersatukan masyarakat melampaui perbedaan identitas keagamaan.
Ia juga menjelaskan bahwa FABC semakin sering menggunakan istilah “agama-agama tetangga” daripada “agama lain”. Pemilihan istilah tersebut mencerminkan semangat membangun kedekatan dan hubungan yang setara dengan umat dari berbagai agama.
Komitmen membangun persaudaraan itu akan diwujudkan dalam rangkaian penutupan Sidang Raya XII FABC. Setelah mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, para peserta dijadwalkan mengunjungi Masjid Istiqlal dengan berjalan melalui Terowongan Silaturahmi.
Terowongan yang menghubungkan kawasan Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal tersebut menjadi simbol komitmen Indonesia dalam merawat kerukunan antaragama.
Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan antartempat ibadah, tetapi menjadi pesan kepada para pemimpin Gereja Asia bahwa persaudaraan lintas agama dapat diwujudkan melalui perjumpaan dan kerja bersama dalam kehidupan nyata.
Krisis Iklim Menjadi Persoalan Moral
Selain penguatan persaudaraan, Sidang Raya XII FABC memberikan perhatian terhadap krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang dampaknya paling berat dirasakan masyarakat miskin serta kelompok rentan.
Kardinal Pablo David mengatakan pelayanan sosial Gereja tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan darurat kepada masyarakat yang terdampak bencana. Gereja juga perlu memahami dan mengatasi akar persoalan yang menyebabkan kemiskinan, ketimpangan, serta kerusakan ekologis.
“Dahulu, pelayanan sosial Gereja benar-benar berfokus pada pemberian bantuan kepada mereka yang membutuhkan, terutama dalam situasi bencana. Namun, semakin lama kami menyadari bahwa pelayanan sosial tidak dapat berhenti pada tingkat itu saja,” katanya.
Menurut Kardinal David, pertumbuhan ekonomi di berbagai negara Asia belum dirasakan secara merata. Masih banyak kelompok masyarakat yang tidak memperoleh manfaat pembangunan, tetapi justru harus menanggung dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan industri ekstraktif.
“Kita mengetahui bahwa sejumlah kegiatan usaha sangat merusak lingkungan, terutama industri yang terlalu eksploitatif dan destruktif. Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap krisis iklim,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan kemiskinan dan krisis iklim akan dibahas secara lebih serius dalam Sidang Raya XII FABC.
Kardinal Ferrão menambahkan bahwa krisis iklim tidak dapat dipisahkan dari dampaknya terhadap masyarakat miskin. Kerusakan bumi dan penderitaan kelompok rentan merupakan dua persoalan yang saling berkaitan.
“Paus Fransiskus telah menyadarkan kita mengenai dampak krisis iklim dengan mengatakan bahwa jeritan bumi dan jeritan kaum miskin berjalan bersama,” ujar Kardinal Ferrão.
“Krisis iklim bukan hanya krisis ekologis, tetapi juga krisis moral dan etika,” lanjutnya.
FABC bersama organisasi para uskup dari Afrika dan Amerika Latin juga telah menyiapkan dokumen bersama mengenai keadilan iklim dan pertobatan ekologis. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk melindungi alam dan masyarakat yang paling rentan dari dampak kerusakan lingkungan.
Persaudaraan dengan Manusia dan Alam
Bagi para pemimpin Gereja Asia, penguatan persaudaraan dan penanganan krisis iklim tidak dapat dipisahkan.
Kerusakan lingkungan dapat memperbesar kemiskinan, memicu migrasi, memperburuk konflik sosial, dan menghilangkan sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, membangun persaudaraan juga berarti menjaga bumi agar tetap menjadi rumah yang aman dan berkelanjutan bagi seluruh manusia.
FABC memandang dialog di Asia setidaknya mencakup empat dimensi yang saling berkaitan, yakni dialog dengan agama-agama, budaya, masyarakat miskin, dan seluruh ciptaan. Gereja didorong untuk memperkuat hubungan dengan umat agama lain, menghargai keragaman budaya Asia, membela kelompok yang terpinggirkan, serta meningkatkan tanggung jawab ekologis.
Sidang Raya XII FABC dirancang sebagai pengalaman sinodal yang menekankan doa, refleksi rohani, percakapan, dan budaya saling mendengarkan.
Selama sepekan, peserta mengikuti perayaan Ekaristi, sesi pleno, pertemuan regional, percakapan meja, serta Conversations in the Spirit. Seluruh proses diarahkan untuk merumuskan cara-cara praktis agar Gereja semakin partisipatif, transparan, misioner, dan responsif terhadap persoalan masyarakat Asia.
Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan Dokumen Akhir sebagai panduan praktis mengenai penerapan sinodalitas bagi gereja-gereja lokal di Asia, serta pesan kepada Gereja di Asia yang merangkum hasil refleksi Sidang Raya.
Dari Jakarta, para pemimpin Gereja Asia membawa pesan bahwa masa depan kawasan tidak dapat dibangun dengan tembok yang memisahkan manusia.
Masa depan Asia perlu dibangun melalui jembatan dialog, solidaritas terhadap masyarakat miskin, serta keberanian merawat bumi sebagai rumah bersama. ***














