Connect with us

Olahraga

Bridge Masuk Institusi: Berhentilah Menjual Bridge!

Gungdewan

Diterbitkan

pada

 

Oleh: Bert Toar Polii

Bridge Masuk Institusi: Berhentilah Menjual Bridge!FAKTUAL INDONESIA: Judul di atas mungkin terdengar aneh, bahkan provokatif.

Bagaimana mungkin kita ingin mengembangkan bridge tetapi justru menyarankan agar berhenti menjual bridge?

Namun setelah menyaksikan presentasi program “Bridge Masuk Institusi” yang digagas Ketua Pengkot GABSI Jakarta Pusat, Didi Andries, saya semakin yakin bahwa selama ini kita mungkin menggunakan pendekatan yang kurang tepat dalam memasarkan olahraga yang kita cintai ini.

Selama puluhan tahun, komunitas bridge Indonesia hampir selalu menggunakan cara yang sama.

Advertisement

Kita menjelaskan bahwa bridge adalah olahraga pikiran.

Baca Juga : Dari Asian Games ke Pelosok Negeri: Bridge Indonesia Semakin Dikenal

Kita bercerita bahwa bridge dimainkan di lebih dari seratus negara.

Kita menyebutkan bahwa bridge dipertandingkan dalam berbagai ajang internasional.

Kita menunjukkan sederet prestasi atlet Indonesia.

Semua itu benar.

Advertisement

Masalahnya, masyarakat tidak membeli kebenaran.

Masyarakat membeli manfaat.

Ketika seorang direktur perusahaan mendengar presentasi tentang bridge, apa yang ada di pikirannya?

Bukan World Bridge Championships.

Baca Juga : Menatap Kejurnas Ke-60 Mamuju: Rebranding Bridge Menjadi Olahraga Strategi Digital dan Investasi Otak

Bukan medali SEA Games.

Advertisement

Bukan juga ranking dunia.

Yang ada di pikirannya adalah:

“Apa untungnya bagi perusahaan saya?”

“Apa manfaatnya bagi karyawan saya?”

“Mengapa saya harus mengeluarkan waktu dan biaya untuk ini?”

Advertisement

Dan jujur saja, kita sering gagal menjawab pertanyaan itu dengan bahasa yang mereka pahami.

Kita Terlalu Sering Berbicara tentang Bridge

Kesalahan terbesar komunitas bridge selama ini mungkin adalah terlalu sering berbicara tentang bridge.

Padahal yang ingin didengar calon pemain bukanlah bridge.

Yang ingin mereka dengar adalah tentang diri mereka sendiri.

Advertisement

Baca Juga : Veni, Vidi, Vici, Tim Olly Dondokambey A Langsung ke Semifinal Ernst Gultom Invitational Bridge Online Tournament II

Seorang manajer ingin meningkatkan kualitas timnya.

Seorang direktur HR ingin membangun kolaborasi antar karyawan.

Seorang CEO ingin menciptakan budaya pengambilan keputusan yang lebih baik.

Seorang rektor ingin mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis.

Seorang kepala sekolah ingin siswanya lebih disiplin dan mampu bekerja sama.

Advertisement

Mereka tidak sedang mencari permainan kartu.

Mereka sedang mencari solusi.

Dan di sinilah bridge sebenarnya memiliki keunggulan yang luar biasa.

Bridge Adalah Simulasi Dunia Kerja

Jika dipikir-pikir, tidak banyak aktivitas yang mampu mensimulasikan dunia kerja sebaik bridge.

Advertisement

Dalam bridge, kita harus membuat keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap.

Bukankah itu yang dilakukan para manajer setiap hari?

Baca Juga : OICO Bridge Maesa: Sebuah Kekuatan Besar Bridge Indonesia di Era 1990-an

Dalam bridge, kita harus mempercayai partner.

Bukankah itu inti dari kerja tim?

Dalam bridge, kita harus mengelola risiko.

Advertisement

Bukankah itu inti dari bisnis?

Dalam bridge, kita harus tetap tenang saat berada di bawah tekanan.

Bukankah itu yang dibutuhkan setiap pemimpin?

Dalam bridge, kita harus jujur meskipun tidak ada yang mengawasi.

Bukankah itu inti dari integritas?

Advertisement

Kalau dipikir lebih jauh, bridge bukan sekadar permainan.

Bridge adalah laboratorium kepemimpinan yang dikemas dalam bentuk olahraga pikiran.

Baca Juga : Dari Surabaya Menuju Mamuju, Rantai Sejarah Kongres GABSI dan Kebangkitan Bridge Indonesia

Stigma yang Tidak Pernah Hilang

Ada satu kenyataan yang harus kita akui.

Kata “kartu” masih menjadi hambatan besar.

Advertisement

Bagi banyak orang yang belum mengenal bridge, permainan kartu sering langsung diasosiasikan dengan perjudian.

Kita boleh tidak setuju.

Kita boleh marah.

Tetapi persepsi publik tidak berubah hanya karena kita membantahnya.

Karena itu saya melihat pendekatan yang digunakan dalam program Bridge Masuk Institusi sangat cerdas.

Advertisement

Mereka tidak datang dengan slogan:

“Ayo bermain bridge.”

Mereka datang dengan pesan:

“Mari meningkatkan kompetensi SDM melalui olahraga pikiran.”

Bridge tidak lagi menjadi produk utama.

Advertisement

Baca Juga :  Persaingan Ketat, Mekadata Sementara Memimpin Ernst Gultom II Invitational Bridge Online Tournament

Bridge menjadi alat.

Dan justru karena itulah peluang diterimanya menjadi jauh lebih besar.

Belajar dari Dunia Korporasi

Perusahaan-perusahaan besar tidak menjual produk.

Mereka menjual manfaat.

Advertisement

Orang tidak membeli bor karena menyukai bor.

Mereka membeli lubang yang bisa dibuat oleh bor tersebut.

Orang tidak membeli mobil karena menyukai mesin.

Mereka membeli kemudahan mobilitas.

Orang tidak membeli asuransi karena menyukai polis.

Advertisement

Baca Juga : Bridge Akhirnya Dipertandingkan di PON XXII 2028 NTB–NTT

Mereka membeli rasa aman.

Begitu pula dengan bridge.

Masyarakat tidak membeli bidding system.

Mereka tidak membeli konvensi.

Mereka tidak membeli teknik declarer play.

Advertisement

Mereka membeli kemampuan berpikir.

Mereka membeli kerja sama tim.

Mereka membeli pengendalian emosi.

Mereka membeli kemampuan mengambil keputusan.

Mereka membeli jaringan sosial.

Advertisement

Mereka membeli pengembangan diri.

Bridge hanyalah kendaraan yang mengantarkan mereka ke sana.

Baca Juga : Kekuatan Tim China Belum Matang, Bridge Putri Indonesia Berpeluang Raih Medali di Goa, India

Mungkin Ini yang Selama Ini Kita Cari

Selama bertahun-tahun komunitas bridge bertanya:

“Mengapa sulit mendapatkan pemain baru?”

Advertisement

“Mengapa generasi muda tidak tertarik?”

“Mengapa perusahaan tidak melirik bridge?”

Mungkin jawabannya bukan karena bridge kurang menarik.

Mungkin kita hanya menjualnya dengan cara yang salah.

Program Bridge Masuk Institusi menawarkan sudut pandang baru.

Advertisement

Alih-alih mempromosikan permainan, program ini mempromosikan manfaat.

Baca Juga : Ernst Gultom II Invitational Bridge Online Tournament Diikuti 16 Tim, Satu dari Singapura

Alih-alih mengundang orang masuk ke dunia bridge, program ini membawa bridge masuk ke dunia mereka.

Perbedaannya tampak sederhana.

Tetapi dampaknya bisa sangat besar.

Saatnya Mengubah Cara Berpikir

Advertisement

Saya melihat program ini bukan sekadar program Pengkot GABSI Jakarta Pusat.

Saya melihatnya sebagai model yang bisa direplikasi oleh Pengprov, Pengcab, bahkan klub-klub bridge di seluruh Indonesia.

Bayangkan jika setiap daerah mulai menawarkan bridge sebagai sarana pengembangan SDM kepada perusahaan, universitas, sekolah, BUMN, instansi pemerintah, dan organisasi profesi.

Baca Juga : Layak Dipertimbangkan Pemain Indonesia, 2026 Asia – Pacific Fall Transnational Bridge Championships di Qingdao, China

Bayangkan jika bridge mulai dikenal sebagai alat pelatihan kepemimpinan, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan.

Jumlah pemain baru yang lahir dari pendekatan seperti ini bisa jauh lebih besar dibandingkan promosi konvensional yang selama ini kita lakukan.

Advertisement

Karena itu, setelah menyaksikan presentasi semalam, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:

Jika ingin bridge berkembang lebih cepat, mungkin sudah waktunya kita berhenti menjual bridge.

Mulailah menjual manfaat yang hanya bisa diberikan oleh bridge.

Dan ketika orang datang mencari manfaat itu, mereka akan menemukan bridge dengan sendirinya. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement