Ekonomi
Rupiah Senin 4 Mei 2026: Loyo Terus tapi Tidak Ada Menyuruh Kabur dari Zona Merah

Nilai tukar (kurs) rupiah kembali mencatat rekor terlemah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah kembali ditutup melemah hari ini, Senin (4/5/2026). (AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar (kurs) rupiah sudah makin merana terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan hari ini, Senin (4/5/2026), kembali mencatat rekor terlemah baru.
Meskipun demikian tidak ada yang berteriak untuk menyuruh rupiah kabur aja dari dari zona merah. Bahkan dikhawatirkan jika tidak ada upaya penyelamatan yang siginifikan maka ke depan rupiah akan terus kabur ke zona merah dan makin dalam terjerembab ke level terlemah sepanjang masa.
Saat ini rupiah seperti tidak ada kekuatan lagi sehingga makin loyo dan harus ditutup melemah pada perdagangan Senin (4/5/2026).
Karena sudah loyo meskipun berusaha untuk bangkit di pembukaan perdagangan valuta asing ketika dibuka hanya sebatas stabil alias sama dengan nilai sebelumnya Rp17.337 per dolar AS, rupiah akhir jatuh lagi ke zona merah.
Pada penutupan perdagangan, rupiah ditutup melemah 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.394 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.337 per dolar AS.
Sudah makin tipis medekati Rp14.000 perdolar AS.
Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin ini justru bergerak menguat ke level Rp17.368 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.378 per dolar AS.
Faktor Penyebab Pelemahan
Dinamika pasar global dan penantian data ekonomi domestik menjadi beban bagi mata uang Garuda di awal Mei ini.
Berdasarkan data pasar sore ini, Rupiah berakhir di zona merah seiring dengan indeks Dolar AS yang kembali menunjukkan taringnya. Pelemahan ini terjadi di tengah fluktuasi pasar modal nasional, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja parkir di level 6.971.
Ada beberapa faktor utama yang disinyalir menjadi pemicu terkoreksinya nilai tukar Rupiah hari ini:
- Keperkasaan Dolar AS: Investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven) karena adanya ketidakpastian kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.
- Sentimen Regional: Tekanan pada mata uang Asia lainnya turut menyeret Rupiah ke posisi yang kurang menguntungkan.
- Arus Keluar Modal: Meskipun terdapat aksi beli di beberapa sektor saham unggulan, aliran modal asing yang keluar dari pasar obligasi tetap memberikan tekanan pada kurs domestik.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mencatat, mata uang rupiah ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.394 dari sebelumnya Rp17.353, bahkan sempat melemah hingga 60 poin pada perdagangan hari ini.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (4/5/2026) seperti dilansir Periskop.
Penguatan dolar AS terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memulai upaya pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini dinilai pasar sebagai sinyal meningkatnya keterlibatan AS di kawasan Timur Tengah, yang mendorong permintaan terhadap aset safe haven.
Selain itu, eskalasi konflik di Eropa Timur juga menambah tekanan. Ukraina melancarkan serangan drone ke sejumlah target strategis Rusia, termasuk pelabuhan minyak di Laut Baltik, yang memperburuk ketidakpastian global.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus Maret 2026 sebesar US$3,32 miliar, meningkat dari Februari yang sebesar US$1,27 miliar.
Surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas, khususnya komoditas minyak dan lemak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–Maret 2026 mencatat surplus US$5,55 miliar.
Namun demikian, tekanan muncul dari sektor manufaktur. Data PMI Indonesia yang dirilis S&P Global menunjukkan kontraksi ke level 49,1 pada April 2026, menandai pelemahan aktivitas industri setelah sebelumnya berada dalam fase ekspansi.
Proyeksi Pergerakan Besok
Para analis memprediksi Rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Fokus pasar kini tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal pertama tahun 2026 yang diharapkan mampu memberikan sentimen positif tambahan bagi penguatan mata uang lokal.
Bank Indonesia (BI) diyakini akan terus memantau pasar dan melakukan langkah-langkah stabilisasi guna memastikan pergerakan nilai tukar tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, kondisi rupiah saat ini masih rapuh meskipun terdapat peluang penguatan terbatas apabila tekanan global mereda.
“Menurut saya, arah rupiah pekan ini masih rapuh dan cenderung bergerak dalam kisaran lemah, meskipun ada peluang penguatan terbatas jika harga minyak dan dolar Amerika menurun,” kata Josua kepada Kontan, Senin (4/5/2026).
Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan masih berada dalam rentang terbatas, sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Namun, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka, terutama jika harga minyak kembali naik di atas US$ 110 sampai US$ 115 per barel dan indeks dolar kembali menguat. Bahkan, Josua memperkirakan rupiah berisiko menguji rekor terlemah baru.
Sebaliknya, jika minyak turun lebih konsisten, dolar tertahan di kisaran 98 sampai 99, dan ada kabar positif dari jalur diplomasi, rupiah dapat menguat terbatas ke area Rp 17.200-an per dolar AS.
“Untuk akhir Mei 2026, target dasar saya adalah rupiah berada di kisaran Rp 17.200 sampai Rp 17.450 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 17.300,” ujar Josua. ***














