Ekonomi
Menperin AGK Harap Melalui Program P3DN, Perkakas Tangan Buatan IKM Semakin Terserap Pasar Domestik

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengemukakan, jumlah IKM perkakas tangan di Indonesia saat ini mencapai 123 unit usaha dengan tenaga kerja sebanyak 512 orang berdasarkan data SIINas hingga pertengahan November 2025. (Kemenperin)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) menyampaikan, industri perkakas tangan dalam negeri memiliki potensi besar meskipun diproduksi melalui proses manufaktur sederhana.
“Industri ini didukung dengan banyaknya tenaga kerja di sentra-sentra produksi yang telah menguasai keterampilan pembuatannya secara turun-temurun. Selain itu, pasarnya juga masih sangat besar mengingat Indonesia merupakan negara agraris,” ujar Menperin AGK dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/4/2026).
AGK menjelaskan, banyak pelaku industri kecil dan menengah (IKM), industri besar, serta perusahaan di bidang kehutanan, perkebunan, dan pertanian yang masih membutuhkan perkakas tangan hasil manufaktur sederhana. Produk-produk tersebut umumnya digunakan dalam proses panen.
“Melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), perkakas tangan buatan IKM di sentra-sentra daerah diharapkan semakin terserap pasar domestik. Perusahaan juga semakin yakin menggunakan produk IKM yang telah memiliki sertifikasi SNI,” ungkapnya.
Seperti dilansir laman Kemenperin, kemampuan industri nasional dalam memproduksi perkakas tangan untuk kebutuhan sektor pertanian dan perkebunan semakin dapat diandalkan. Hal ini tercermin dari kemampuannya memenuhi permintaan pasar domestik dengan beragam produk berkualitas yang mampu menjawab kebutuhan pengguna. Kondisi tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi komoditas baja nasional.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menambahkan, jumlah IKM perkakas tangan di Indonesia saat ini mencapai 123 unit usaha dengan tenaga kerja sebanyak 512 orang berdasarkan data SIINas hingga pertengahan November 2025. Industri tersebut tersebar di berbagai sentra produksi mulai dari Pulau Sumatera hingga Sulawesi.
“Sentra terbanyak berada di Sumatera Utara, antara lain di Kota Pematang Siantar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Langkat,” ujar Reni. Selain itu, sentra perkakas tangan juga tersebar di Sumatera Barat, Riau, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Dalam rangka memperkuat daya saing IKM perkakas tangan, Kemenperin melalui Ditjen IKMA terus bersinergi dengan pemerintah daerah, akademisi, tenaga ahli, serta pelaku usaha sebagai offtaker untuk mengembangkan sentra IKM tersebut.
Namun demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan bahan baku baja dengan komposisi karbon tertentu, persaingan produk impor, serta kebutuhan investasi teknologi yang cukup besar.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Ditjen IKMA menjalankan berbagai program penguatan, antara lain fasilitasi kerja sama bisnis, pendampingan teknis, restrukturisasi mesin dan peralatan produksi, serta kemitraan dengan penyedia teknologi dan stakeholder terkait.
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari menyampaikan bahwa IKM perkakas tangan memiliki potensi besar menjadi mitra industri besar, BUMN, maupun pemerintah daerah, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Sebagai contoh, PT Sarana Panen Perkasa (SPP) di Medan yang memproduksi alat panen perkebunan seperti egrek, dodos, dan aneka pisau, telah memiliki sertifikasi SNI dan TKDN. Produk perusahaan tersebut juga telah diekspor ke berbagai negara, antara lain Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, dan Kolombia.
“Dalam dua tahun terakhir, PT SPP siap meningkatkan kapasitas produksi dengan dukungan pasokan bahan baku berkualitas dari PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel,” pungkas Dini. ***














