Ekonomi
IHSG Rebound Menguat 1,76%, Rupiah Masih Memerah Terjepit Tekanan Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melaju kencang penuh optimisme, sementara nilai tukar rupiah justru harus rela tertahan di zona merah akibat tekanan global pada perdagangan saham dan valas hari ini Kamis (5/3/2026).
FAKTUAL INDONESIA: Pemandangan kontras menghiasi pasar keuangan dalan negeri hari ini, Kamis (5/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil rebound sehingga ditutup menguat. Sebaliknya nilai tukar rupiah masih harus rela tertahan di zona merah akibat terjepit tekanan global.
IHSG Comeback Manis!
Setelah tiga hari berturut-turut “babak belur” dan sempat anjlok ke level 7.500-an, IHSG akhirnya resmi melakukan comeback hari ini. Pada penutupan perdagangan Kamis (5/3/2026), IHSG melesat 1,76% atau naik 133,48 poin ke level 7.710,54. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 15,37 poin atau 1,99 persen ke posisi 787,82.
IHSG sudah menghadirkan optimisme sejak pembukaan perdagangan ketika dibuka menguat 118,29 poin atau 1,56 persen ke posisi 7.695,35. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 12,25 poin atau 1,59 persen ke posisi 784,70.
Dari pantauan media online, seperti dilansir liputan6, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG yang kembali menguat memang telah diperkirakan sebelumnya.
“Sesuai perkiraan, IHSG berhasil rebound, didorong oleh sentimen positif penguatan indeks bursa global, serta aksi bargain hunting meskipun juga terjadi profit taking pada beberapa saham yang mengalami rally seperti misalnya saham sektor migas,” ujar Ratna Lim.
Hampir seluruh sektor menghijau, dipimpin oleh sektor barang konsumen non-primer (+3,40%) dan perindustrian (+2,80%). Saham-saham bank raksasa (Big Caps) seperti BBCA, BMRI, dan BBRI menjadi pahlawan yang menggendong indeks naik tinggi setelah investor melakukan aksi bargain hunting atau borong saham di harga diskon.
Pasar hari ini sangat ramai dengan total nilai transaksi mencapai Rp17,94 triliun. Volume saham yang berpindah tangan menembus 34,46 miliar lembar dengan frekuensi perdagangan lebih dari 2 juta kali transaksi. Ini menunjukkan bahwa meskipun pasar masih waspada, antusiasme untuk kembali masuk ke pasar modal tetap tinggi.
Sentimen positif hari ini seolah menjadi “obat penawar” setelah guncangan hebat akibat revisi outlook Fitch Ratings dan tensi panas di Timur Tengah kemarin. Beberapa faktor kunci keberhasilan IHSG hari ini antara lain:
- Aksi Bargain Hunting: Banyak investor menilai harga saham Big Caps sudah “salah harga” alias terlalu murah setelah terjun bebas kemarin. Inilah yang memicu aksi borong saham di harga diskon.
- Sentimen Regional yang Kalem: Langkah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 4,5% – 5% memberikan angin segar bagi pasar Asia, termasuk Indonesia.
- Intervensi Bank Indonesia: Komitmen BI untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian global memberikan rasa aman bagi pelaku pasar.
Rupiah Terjepit Geopolitik
Sayangnya, euforia di pasar saham tidak menular ke pasar valas. Rupiah justru ditutup melemah tipis 13 poin (0,08%) ke posisi Rp16.905 per dolar AS.
Fenomena melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah karena investor lebih memilih memegang dolar AS ketimbang rupiah.
Tensi Panas di Selat Hormuz yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran-Israel mencapai titik didih baru hari ini. Kabar serangan rudal membuat pasar global panik dan kabur ke aset aman (safe haven) seperti dolar Amerika.
Ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran tersendatnya pasokan minyak dunia. Sebagai negara pengimpor minyak (net importer), Indonesia sangat sensitif terhadap isu ini karena bisa membengkakkan biaya impor dan menekan rupiah.
Sentimen “Risk-Off”juga mendorong rupiah melemah. Meski bursa saham domestik menarik, investor global secara umum masih dalam mode waspada tinggi. Mereka cenderung menarik modal dari negara berkembang (emerging markets) untuk berjaga-jaga jika perang meluas.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks dolar AS pada perdagangan Kamis dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar global.
“Tensi geopolitik di Timur Tengah memanas setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi, menyebabkan jutaan penduduk berlindung di tempat perlindungan bom saat konflik memasuki hari keenam dan hanya beberapa jam setelah upaya untuk menghentikan serangan udara AS diblokir di Washington,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Meski di pasar spot rupiah terlihat tertekan, ada sedikit kabar baik dari kurs referensi Jisdor Bank Indonesia yang justru mencatat penguatan ke level Rp16.886 (naik 25 poin). Ini menunjukkan adanya upaya stabilisasi yang kuat dari Bank Sentral.
Level Rp16.900 kini menjadi benteng baru. Jika tensi geopolitik tidak segera mendingin, para analis memprediksi Rupiah bisa saja menguji level “keramat” Rp17.000 dalam waktu dekat. ***
Ringkasan Pasar Hari Ini
| Indikator | Posisi Penutupan | Perubahan | Status |
| IHSG | 7.710,54 | +1,76% | Menguat |
| Rupiah | Rp16.905/US$ | -0,08% | Melemah |
| Total Transaksi | Rp17,94 Triliun | – | Ramai |














