Nasional
Kuliah Umum di Lemhanas, Menag Nasaruddin: Pemimpin Masa Depan Harus Menjadi Penyejuk, Perlu Memahami Diplomasi Spiritual

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan kuliah umum kepada peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVI di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Jakarta. (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam kuliah umum kepada peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVI di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Jakarta, menegaskan, kepemimpinan spiritual yang berbasis moderasi adalah bentuk baru dari ketahanan nasional.
“Pemimpin masa depan harus bisa menjadi penyejuk, bukan pemecah. Mereka perlu memahami diplomasi spiritual agar mampu membawa nilai-nilai perdamaian ke ruang politik dan kebijakan publik,” kata Menag Nasaruddin, Jumat (31/10/2025).
Kuliah umum tersebut dihadiri oleh Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily, Wakil Gubernur Lemhannas Edwin, dan jajaran.
Menurut Nasaruddin, pendekatan spiritual lintas agama kini menjadi bagian dari diplomasi baru yang justru memperkuat posisi bangsa di tingkat global.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Terim Menteri Wakaf Suriah dan Dubes UEA, Bahas Kerja Sama Penguatan Pendidikan
“Indonesia dengan keberagamannya memiliki modal spiritual yang luar biasa. Pemimpin yang memahami bahasa agama akan lebih mampu membangun jembatan antarbangsa dan antariman,” ujarnya.
Dikatakan Nasaruddin, Lemhannas memiliki peran strategis dalam menyiapkan kader bangsa yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.
“Lemhannas menyiapkan calon pemimpin negara. Maka penting menanamkan kesadaran bahwa kekuatan sejati bangsa bersumber dari cinta, bukan dari konflik,” tuturnya.
Nasaruddin menegaskan pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya cerdas secara geopolitik, tetapi juga memiliki kepekaan spiritual lintas agama.
Menurut Nasaruddin, masa depan kepemimpinan nasional membutuhkan kemampuan membaca tantangan global yang semakin kompleks, termasuk dalam hal keagamaan dan kemanusiaan. “Ketahanan nasional tidak cukup dengan militer yang kuat. Ia juga harus ditopang oleh kesadaran spiritual, empati kemanusiaan, dan keseimbangan ekologi,” ujarnya.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Tegaskan Pentingnya Menjaga Eksistensi Tempat-tempat Sakral di Tengah Modernisasi saat Resmikan Gereja Katedral Makassar
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen untuk menindaklanjuti Deklarasi Istiqlal, gerakan lintas agama yang berfokus pada perdamaian dunia dan penyelamatan bumi.
“Paus mengatakan, tidak bisa kita menyelamatkan alam semesta dengan bahasa hukum, politik, atau ekonomi. Hanya bahasa agama yang bisa menyentuh kesadaran manusia,” tutur Nasaruddin.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan spiritual lintas agama kini menjadi bagian dari diplomasi baru yang justru memperkuat posisi bangsa di tingkat global. “Indonesia dengan keberagamannya memiliki modal spiritual yang luar biasa. Pemimpin yang memahami bahasa agama akan lebih mampu membangun jembatan antarbangsa dan antariman,” jelasnya.
Jelaskan Peran Perempuan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam acara pelantikan Pengurus Cabang Istimewa Perkumpulan Wanita Alumni Timur Tengah (PERWATT) di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Kemenag)
Pada hari yang sama, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menghadiri Pelantikan Pengurus Cabang Istimewa Perkumpulan Wanita Alumni Timur Tengah (PERWATT) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Acara ini dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Duta Besar Sudan untuk Indonesia, serta sejumlah tokoh perempuan lintas ormas Islam dan lembaga pendidikan.
Menag Nasaruddin menegaskan peran penting perempuan, khususnya alumni Timur Tengah, dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan ketahanan sosial bangsa Indonesia. Dia menyampaikan bahwa momen pelantikan ini merupakan hari yang istimewa bagi seluruh anggota perkumpulan.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Ungkap Forum “Daring Peace” Vatikan Buka Peluang Indonesia jadi Pusat Inisiatif Perdamaian Global
Nasaruddin menyebut gerakan perempuan yang berfokus pada penguatan spiritualitas dan pendidikan merupakan bagian dari jihad sosial yang bernilai tinggi.
“Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kita semua. Menghidupkan kembali sesuatu yang baik adalah bagian dari jihad,” ujarnya.
Nasaruddin mengingatkan bahwa semangat perjuangan tidak hanya ditunjukkan melalui aktivitas ritual, tetapi juga melalui komitmen untuk berkontribusi dalam pendidikan, moralitas, dan kemajuan masyarakat. Ia mendorong agar perempuan alumni Timur Tengah berperan aktif dalam memperluas akses pendidikan berbasis digital dan penguatan kapasitas keagamaan di berbagai daerah.
“Kehadiran organisasi perempuan seperti ini sangat tepat di tengah situasi sosial yang kompleks. Kita membutuhkan kekuatan feminim, kelembutan dan kebijaksanaan untuk menjadikan dunia, khususnya Indonesia, tempat yang lebih baik,” ucapnya.
Nasaruddin Umar menyoroti tantangan moral dan sosial yang tengah dihadapi masyarakat global, seperti menurunnya angka pernikahan dan melemahnya ketahanan keluarga. Ia menekankan bahwa kondisi tersebut menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat kembali nilai-nilai keagamaan dan peran keluarga dalam membentuk karakter bangsa.
Ditegaskan Nasaruddin, peran ibu memiliki posisi yang sangat strategis dalam pendidikan karakter anak. Ibu bukan hanya pendidik pertama, tetapi juga penentu arah moral dan spiritual generasi penerus bangsa.
Lebih lanjut, Nasaruddin menyampaikan bahwa karakter bangsa Indonesia yang religius merupakan kekuatan utama yang harus dijaga, terutama oleh kaum perempuan.
Baca Juga : Bertemu Imam dan Biarawati Seluruh Italia, Menag Nasaruddin: Internalisasi Nilai Agama Harus Dibangun Atas Dasar Cinta
“Perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan nilai religiusitas. Indonesia yang moderat, toleran, dan berkarakter hanya bisa terwujud jika perempuan menjadi pelaku aktif dalam pendidikan dan kehidupan sosial,” tegasnya.
Nasaruddin berharap agar organisasi wanita alumni Timur Tengah ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga mampu menghadirkan program-program nyata yang berdampak luas bagi masyarakat, termasuk berkolaborasi dengan Kementerian PPPA.
“Saya berharap perkumpulan ini melahirkan program kerja yang masif dan nyata, memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa, serta memperkuat sinergi dengan program-program pemberdayaan perempuan nasional,” ujarnya.
Dia berpesan agar kepengurusan yang baru dilantik segera memperluas jejaring dan membentuk cabang di berbagai daerah. “Semakin besar peran perempuan, semakin besar pula peluang Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia,” pungkasnya. ***














