Nasional
Gunung Semeru Kembali Erupsi, Muntahkan Kolom Abu Tebal Setinggi 600 Meter

Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitasnya pada 13 Juli 2025. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Gunung Semeru yang berlokasi di perbatasan Malang dan Kabupaten Lumajang Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan memuntahkan kolom abu tebal setinggi 600 meter pada Minggu (13/7/2025) pagi.
Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi ini menjadi peringatan nyata akan potensi bahaya yang terus mengintai kawasan di sekitar gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Disebutkan pula, letusan terjadi sekitar pukul 05.56 WIB dan teramati secara visual dari pos pemantauan Gunung Api Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Baca Juga : Gunung Semeru Kembali Erupsi pada 6 Juli 2025, Letusan Capai 600 Meter
“Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 182 detik,” jelas Yadi Yuliandi, petugas pengamat Gunung Api Semeru dari PVMBG, Minggu (13/7/2025).
Meskipun belum ada laporan dampak signifikan terhadap permukiman atau aktivitas warga, PVMBG tetap menetapkan status Gunung Semeru pada Level II atau Waspada.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 8 kilometer dari pusat erupsi di sektor tenggara, serta menghindari daerah aliran sungai (DAS) Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak gunung.
“Warga juga dilarang beraktivitas di jarak 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan karena masih berisiko terlanda awan panas dan aliran lahar,” imbuh Yadi.
Baca Juga : Gunung Semeru Kembali Erupsi pada 2 Juli 2025, Lontarkan Abu Kolom Setinggi 1.000 Meter
Besuk Kobokan menjadi salah satu jalur utama lahar panas dari Gunung Semeru. Meski erupsi hari ini berskala sedang, potensi longsoran material vulkanik dan lahar hujan tetap menjadi ancaman serius, terutama di musim penghujan.
PVMBG mengingatkan, letusan bisa terjadi sewaktu-waktu dan tanpa tanda awal yang cukup kuat, sehingga kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi kunci utama melindungi diri.***














