Kesehatan
Korban Kekerasan Seksual Pimpinan Pondok Pesantren Terus Didampingi Tim P2TP2A Garut

Ilustrasi
FAKTUAL-INDONESIA: Korban kekerasan seksual dan pencabulan pimpinan pondok pesantren di Bandung terus didampingi tim dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut, Jawa Barat. Mereka, seluruhnya wanita, mengalami trauma dan tekanan yang cukup berat.
Ketua P2TP2A Diah Kurniasari Gunawan mengatakan, belasan santriawati tersebut harus tetap menjalani terapi dan pendampingan psikologis agar kondisinya stabil. Diah
“Tim psikologi P2TP2A Garut melakukan terapi psikologi hingga saat ini para korban sudah mulai bisa kembali ke masyarakat,” kata Diah, yang juga istri Bupati Garut Rudy Gunawan, seperti dikutip dari cnnindonesia.com, Sabtu (11/12/2021).
Diah juga bercerita saat kasus tersebut terbongkar pertama kali semua orangtua korban syok sehingga mereka pun harus diberi pemahaman dan pendampingan agar bisa menerimanya.
Kasus ini, katanya, mulai terbuka pada Mei 2021 lalu. Saat itu P2TP2A Kabupaten Garut menerima laporan dari seorang kepala desa dan orangtua santri terkait kasus dugaan pencabulan terhadap beberapa anak warga desanya yang mengenyam pendidikan di sebuah pesantren di Bandung.
“Sebelumnya, kepala desa sudah melaporkan kasus tersebut ke Polda Jawa Barat,” kata dia.
Saat itu kata Diah, pihaknya juga langsung berkoordinasi dengan jajaran Polda Jawa Barat yang juga menindaklanjuti laporan kepala desa dan warga yang jadi orangtua santri. Diketahui ada 11 santri perempuan dari Garut yang menjadi korban. Bahkan di antaranya ada yang telah memiliki anak hingga ada yang tengah hamil.
Banyak dari orangtua santri yang belum mengetahui masalah yang menimpa anaknya, hingga P2TP2A berinisiatif memanggil para orangtua korban dan memberitahukan masalah yang menimpa anak mereka di pesantren.
“Saat inilah para orangtua banyak yang syok dan tidak terima,” katanya.
Setelah kasus tersebut diselidiki, para anak asal Garut dijemput dari pondok pesantren oleh penyidik Polda Jabar dan dibawa ke rumah aman P2TP2A Garut. Mereka, kata Diah, langsung dipertemukan dengan orangtua masing-masing.
“Di sisi lain, tim penyidik Polda Jabar menangkap pelaku,” ujarnya.
Untuk saat ini, Diah memastikan pihaknya akan terus fokus melakukan pendampingan terhadap para korban yang telah berhasil dibawa keluar dari pesantren tersebut.
Upaya-upaya reintegrasi korban untuk kembali ke lingkungannya terus dilakukan dengan pendekatan ke aparat pemerintahan desa dan tokoh masyarakat hingga para korban akhirnya bisa kembali ke rumahnya.
Upaya pendampingan masih terus berjalan berupa pendampingan korban dalam menghadapi persidangan, hingga pendampingan kesehatan.
“Mengingat ada korban yang masih menunggu proses melahirkan, setelah sebelumnya satu orang korban juga telah melahirkan dengan fasilitasi P2TP2A Garut,” tuturnya.
Selain pendampingan kesehatan, P2TP2A juga melakukan pendampingan agar para korban yang masih berusia sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan bahkan hingga ke bangku kuliah.***














