Ekonomi
Sesi III G20 TIMM di Afsel, Mendag Busan Sampaikan Reformasi WTO Sangat Penting dan Mendesak

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan) menyampaikan intervensi pada sesi ketiga G20 TIMM di Gqberha, Afrika Selatan, Jumat (10/10/2025), yang membahas “WTO Reform Including the Development Dimension”. (Kemendag)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso menyampaikan intervensi pada sesi ketiga G20 TIMM di Gqberha, Afrika Selatan, yang membahas “WTO Reform Including the Development Dimension”.
Pada sesi ini, Mendag Budi Santoso (Busan) menekankan perlunya dukungan politik yang kuat untuk menjaga nilai dan prinsip dasar WTO. Mendag juga menyampaikan, pembahasan mengenai reformasi WTO sangat penting dan mendesak di tengah meningkatnya langkah-langkah unilateral yang mengancam prinsip dasar sistem perdagangan multilateral.
“Proliferasi langkah-langkah unilateral telah menimbulkan skeptisisme dan mengikis kepercayaan terhadap sistem perdagangan multilateral,” kata Busan.
Baca Juga : Mendag Busan dan Chairman AFI Bahas Promosi hingga Pengembangan Waralaba Indonesia ke Luar Negeri
Biro Hubungan Masyarakat Kemendag dalam siaran persnya melansir, pada kesempatan tersebut, Busan didampingi oleh Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Djatmiko Bris Witjaksono dan Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional, Natan Kambuno.
Percepatan Industrialisasi Berkelanjutan
Sementara itu pada Sesi II G20 TIMM, Mendag Busan menegaskan pentingnya memperkuat komitmen terhadap sistem perdagangan multilateral yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Ia pun mendorong negara berkembang untuk mempercepat industrialisasi berkelanjutan.
“Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan ketegangan perdagangan global, multilateralisme harus dijaga dan diperkuat melalui reformasi internal yang bermakna. Multilateralisme bukan sekadar retorika, melainkan instrumen penting bagi pertumbuhan dan keberlanjutan,” ujar Mendag Busan pada sesi yang membahas tema “Trade and Investment Framework to Address Industrialisation and Sustainable Development”.
Baca Juga : Mendagri Beri Izin Kepala Daerah ke Luar Negeri, Harus dengan Kriteria Ini
Ia pun menyoroti perlunya memperkuat fondasi domestik agar kebijakan strategis mampu menjawab tantangan global yang terus berubah. Ia juga menekankan bahwa kekuatan ekonomi harus dibangun dari dalam negeri, melalui kebijakan yang sehat, konektivitas regional yang kuat, dan kolaborasi produktif lintas negara.
Pada sesi ini, Busan menyampaikan tiga prioritas utama bagi negara berkembang untuk mempercepat industrialisasi berkelanjutan. Pertama, membangun dan memanfaatkan kapasitas produktif untuk mendorong transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi dan berbasis pengetahuan.
Kedua, naik kelas dalam rantai nilai global, terutama dengan memperluas basis manufaktur di sektor strategis seperti semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan farmasi.
Baca Juga : Wamendag Roro Ungkap Pertumbuhan Signifikan Ekspor Kopi Lampung
Ketiga, mengembangkan industri hijau untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon yang inklusif dan berkeadilan.
Busan juga menegaskan pentingnya integrasi perdagangan regional sebagai instrumen strategis untuk memperkuat rantai pasok kawasan dan memperluas akses pasar. Dalam konteks ini, ASEAN telah berperan sebagai jangkar stabilitas dan basis produksi utama di berbagai sektor.
“Indonesia menilai, teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan blockchain memiliki potensi besar untuk memperkuat efisiensi perdagangan dan logistik,” lanjutnya.
Busan turut menyoroti peran penting perdagangan jasa sebagai pendorong ketahanan ekonomi di tengah gejolak global. “Kewaspadaan dan kebijakan yang tepat akan menjadi kunci ketahanan ekonomi nasional dan global. Di tengah turbulensi ekonomi dan tekanan global, harapan bukanlah strategi; kesiapan adalah jawabannya,” tutupnya. ***














