Ekonomi
Rupiah Selasa 18 Agustus 2026: Melemah Tertekan Kenaikan Harga Minyak Dunia, Diperkirakan Bergerak Volatile

Meningkatnya kembali ketegangan di Selat Hormuz, Timur Tengah, membuat harga minyak dunia naik sehingga menekan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Selasa (18/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Mata uang rupiah terpukul ke zona merah pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Rupiah ditutup melemah 64 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.862 per dolar Amerika Serikat (AS), bergerak merosot dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.798 per dolar AS.
Setelah libur panjang Hari Kemerdekaan, rupiah sudah langsung melemah ketika perdagangan valuta asing dibuka, Selasa pagi. Mata uang Garuda menurun 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.841 per dolar AS.
Tekanan dari kenaikan harga minyak membuat rupiah makin melemah sehingga ditutup merosot lebih tajam.
Melemah juga pergerakan rupiah pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ke level Rp17.856 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.836 per dolar AS.
Posisi rupiah ke zona merah itu terjadi menjelang pengumuman BI Rate. Keputusan suku bunga akan diumumkan oleh Bank Indonesia pada Rabu (19/8/2026). Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
Pelemahan rupiah seiring dengan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di zona merah pada perdagangan hari ini. Untuk wilayah Asia Tenggara, hanya ringgit Malaysia yang memguat 0,13% terhadap dolar AS. Sedangkan peso Filipina melemah 0,50%, baht Thailand tertekan 0,16% dan dolar Singapura menurun 0,05%.
Meningkat ke kawasan Asia, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,41% dan dolar Hong Kong naik tipis 0,005%. Sementara dolar Taiwan yang melemah 0,36%, yen Jepang turun 0,17%, rupee India terdepresiasi 0,06%, yuan China tercatat turun tipis 0,03% terhadap dolar AS.
Ketegangan Geopolitik AS – Iran
Pelemahan rupiah dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya kembali ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Penutupan peluang perpanjangan perjanjian kerangka kerja oleh AS memicu kekhawatiran atas gangguan pasokan di wilayah Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak jenis Brent maupun WTI melesat di atas 2 persen.
Sebagai negara pengimpor minyak (net oil importer), kenaikan harga energi global menjadi beban berat bagi prospek neraca perdagangan Indonesia. Hal ini memicu kekhawatiran akan membengkaknya inflasi serta defisit transaksi berjalan, sehingga para pelaku pasar cenderung mengamankan aset mereka ke dalam Dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama kembali memanasnya harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Menurut Ibrahim, pasar merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
“Trump menegaskan kembali bahwa AS memegang kendali penuh atas Hormuz dan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, klaim yang keduanya dibantah oleh pihak Iran,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (18/8/2026)
Seperti dilansir RCTI+, Trump juga mengancam akan melakukan serangan terhadap Oman jika negara tersebut dianggap menghalangi, meskipun belum jelas dasar dari ancaman tersebut.
Di sisi lain, Iran disebut akan mengubah postur militernya menjadi sepenuhnya ofensif setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan AS menemui jalan buntu. Washington juga menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah kelompok Houthi Yaman kembali menyerang kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah menggunakan rudal. Serangan tersebut disampaikan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, melalui Telegram.
Ibrahim menilai risiko inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi masih menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun.
“Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, harga minyak mentah yang berada di atas USD83 per barel turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi.
Tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor minyak mentah di pasar global berpotensi meningkatkan permintaan terhadap mata uang Paman Sam sekaligus menekan nilai tukar rupiah.
Sentimen domestik lainnya berasal dari perkembangan utang luar negeri (ULN) Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi ULN Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai USD453,4 miliar atau sekitar Rp8.089,1 triliun.
Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan ULN pada Mei 2026 yang mencapai USD444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.
Prediksi Rabu, 19 Agustus 2026
Pasar diproyeksikan masih akan dibayangi ketidakpastian geopolitik global dan pergerakan komoditas energi. Kendati demikian, tekanan terhadap mata uang kawasan berpotensi tertahan berkat rilis data ekonomi AS yang menunjukkan penurunan penjualan ritel dan melesunya sentimen konsumen.
Kondisi tersebut memperbesar peluang Bank Sentral AS (The Fed) untuk menahan atau melonggarkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Untuk perdagangan Rabu (19/8/2026), nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak membalas tekanan (volatile) namun cenderung menguji rentang konsolidasi di kisaran Rp17.820 hingga Rp17.890 per dolar AS.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.860-Rp17.920 per dolar AS pada pekan ini. ***













